Part 4-I'm nothing without you

832 Kata
Lima tahun telah berlalu. Rasanya Khalif tak menyangka sampai detik ini dia tak menemukan sedikitpun kabar tentang sang istri. dia sudah mencarinya kemana-mana tapi tak ada titik temu. Bahkan dia sudah mengunjungi ke berbagai tempat yang mungkin saja Namira kunjungi, namun hasilnya tetap Nihil. Dengan hilangnya Namira, Khalif berubah seratus delapan puluh derajat. Dia menjadi lelaki yang sangat dingin bahkan dia menjadi orang yang diktator di kantornya. Emosinya sangat meledak-ledak, dia menjadi sensitif dengan segala hal. tak ada yang bisa menghentikannya ketika dia marah. Bahkan Mamanya pun tak dapat mengontrol anaknya sekarang. Apalagi sekarang Papanya telah tiada. Khalif harus meneruskan perusahaan Papanya dengan kondisi dirinya yang sedang kacau. Mau tak mau dia harus tetap melakukannya walaupun dia enggan. Di kantornya, Khalif menjadi orang yang paling ditakuti. Para staffnya selalu enggan untuk menegurnya. Mereka juga takut jika harus mengumpulkan pekerjaan mereka. sudah ada beberapa karyawan yang langsung dipecat gara-gara ada kesalahan sedikit saja. Khalif benar-benar menuntut kesempurnaan. PRANGGGG..... Khalif membanting gelas kopi yang baru saja disajikan untuknya. Office boy yang baru saja menyajikan kopi itu terkejut bukan main. Dia baru saja bekerja kemarin dan sekarang dia belum siap jika harus kehilangan pekerjaannya. "Kopi macam apa ini? terlalu manis. Kamu mau saya mati gara-gara diabetes? Pulang saja, tidak perlu bekerja lagi disini!" ujarnya membuat OB baru itu ketakutan bukan main. "M-maaf pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi, tapi jangan pecat saya." mohonnya dengan nada bergetar. "TINGGALKAN RUANGAN SAYA!" ujarnya lagi membuat OB itu langsung pergi terbirit-b***t sebelum sempat membersihkan kekacauannya. Begitulah Khalif memperlakukan karyawannya sekarang. mungkin mereka yang masih bertahan disana karena mereka juga membutuhkan gaji. Yang perlu mereka lakukan untuk menghindari amarah Khalif adalah bekerja dengan benar dan sesuai aturan. Salah sedikit saja mereka sudah tidak bisa terselamatkan. "Astaga. Ini apalagi Khalif?" tanya seorang lelaki yang nampak seumuran dengan Khalif yang baru saja memasuki ruangannya. "Gak usah bacot deh lu." Ujarnya dengan sewot. "Waduh. Galak banget sih bos." ujarnya dengan berani. Ya, dia adalah Ryan. Sekertaris sekaligus sepupu dari Khalif. hanya dia yang berani berbicara santai dengan lelaki itu. "Kita ngopi aja diluar yok, kayaknya lagi suntuk banget nih." Tawar lelaki itu yang langsung disetujui oleh Khalif. Mereka pun keluar untuk sekedar menghirup udara segar. Walaupun hanya minum di kedai kopi terdekat tapi mereka merasa lebih santai. Untung saja Ryan sudah hapal cara menenangkan atasannya itu. "Lif, lo sampai kapan mau begini? Udah lima tahun loh, Lo masih mengharapkan dia balik?" tanya Ryan yang merasa kasihan pada sepupunya itu. kejadian itu benar-benar membuat hidup Khalif berantakan. "Gue gak akan pernah merasa tenang sebelum ketemu dia. Gue yakin dia bakal balik." Ujarnya dengan penuh percaya diri. Ryan hanya mampu menghela napasnya panjang. Jawaban itulah yang selalu ia dengar dari mulut Khalif. walaupun sudah lima tahun lamanya, tetapi dia masih setia menunggu. Ryan sendiri tak yakin apakah perempuan itu akan kembali pada Khalif atau memang dia sudah hilang untuk selamanya. "Gimana kalau dia udah nikah sama lelaki lain dan punya anak?" tanya Ryan lagi tanpa ragu. "Gue gak peduli. Yang gue butuhkan penjelasan dan alasan dia ninggalin gue. Gue gak akan tenang sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi." Ujarnya dengan tegas. Tak ada keraguan sedikitpun dari kata-katanya. Dia tetap mempercayai Namira. "Terserah lo deh." ujar Ryan sudah tak ingin ambil pusing lagi dengan masalah sahabatnya itu. "Oh ya, besok kita ada rapat di luar kota. Jangan lupa bangun pagi. soalnya kita dapet flight pagi." ujar Ryan mengingatkan Khalif. lelaki itu hanya berdehem saja sebagai jawaban. Keesokan paginya, benar saja Khalif kesiangan. Mereka hampir saja ketinggalan pesawat. Untung saja Ryan memiliki banyak akal. Dia langsung membawa Khalif tanpa mandi terlebih dahulu. Alhasil Bosnya itu hanya berangkat menggunakan piyama saja, namun dia tutupi dengan sweaternya. Selama perjalanan, Khalif kembali tidur di pesawat. Dia tak merasa bersalah sedikitpun padahal Ryan sudah ketar ketir dimarahi Klien kalau dia terlambat semenit saja. jika dia kehilangan kliennya maka habislah gajinya dipotong. Sesampainya di hotel, Khalif langsung mandi dan berganti pakaian sebelum menemui klien pentingnya itu. untung saja semuanya berjalan lancar dan klien itu mau bekerja sama dengan mereka. Ryan ikut lega mendengarnya. "Lain kali kalo ada flight pagi gue bakal tidur di rumah Lo. Kalo bisa disamping Lo. Pagi ini udah bikin gue jantungan tau gak. Mana telpon gak diangkat. Pake ganti password rumah lagi. gue gak bisa masuk. Gila lo ya." ocehnya pada sang atasan. Padahal Khalif sebagai bos bersikap santai saja seperti tak ada apa-apa. "Kalem aja kali. Lagipula udah ketemu klien juga, lancar-lancar aja semuanya." Ujarnya dengan santai. Ryan hanya bisa tertegun mendengarnya. Ketika mereka sedang asik berbicara sembari berjalan santai seorang anak kecil menabrak dirinya. parahnya lagi anak kecil itu menumpahkan es krim miliknya di celana Khalif. lelaki itu membelalakan matanya ketika melihat celanannya sudah kotor. Padahal dia hanya membawa satu stell baju itu dan setelah ini dia masih harus meninjau cabang perusahaannya di kota itu. "Maaf Om, saya tidak sengaja." Ujar anak kecil itu dengan puppy eyesnya. Wajah Khalif sudah memerah karena kesal dan siap untuk mengeluarkan rutukannya tapi melihat anak itu dia mengurungkan niatnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN