Talita menghela napas kala tatapannya terarah ke kursi di teras rumah. Tidak ada Btara. Bagus. Begitu pikir Talita. Jujur saja kemarin malam dia tidak bisa tidur karena memikirkan Btara. Bagaimana kalau Btara nekat tetap di sana sampai pagi? Sedangkan Talita tidak berniat menemui lelaki itu. Talita menyampaikan tali tas ke bahu kanannya. Dia hendak bersiap pergi ke kantor sebentar lagi. Tadinya dia sibuk memikirkan cara menghindari Btara jika lelaki itu sungguhan masih menunggunya. Namun beruntung, Btara tidak dia temukan di sudut mana pun. "Bi, aku berangkat dulu ya." Sebelum menutup pintu rumah, Talita berpamitan dengan asisten rumah tangganya. Karena sedari dulu cuma Bibi temannya di rumah. Talita jadi terbiasa berpamitan ke mana pun dia pergi. Mau pergi ke minimarket untuk me

