CHAPTER 07

1413 Kata
"Satya ... Satya ... Bangun ini sudah jam 7 pagi, kamu telat ke sekolah nanti!." Seru Alicia menggoyang-goyangkan tubuh Satya. SEBELUMNYA. Pukul 9 malam, kak Alicia mengajak Satya menuju ke kamarnya untuk bermain game PS (Pay stasiun) di kamar Alicia. Pukul 2 Dini hari, mereka masih asik bermain game bertema advanture serta duel fighting. Hingga mereka lupa waktu. "Alah... Satya curang ish. Masa giliran kakak menyerang, kamu tangkis terus dari tadi. Curang ah... Enggak seru." Rengek Alicia kalah duel game sambil bersender di kursi tanpa kaki. "Kakak aja yang lemah main gamenya. Dari dulu, emang enggak berubah kalo urusan game, pasti selalu kalah." Ujar Satya menyombongkan diri sembari memegang stick analog portable. "Walaupun punya banyak banget game tetep aja kalah. Emang buat apaan sih kak beli game sebanyak ini?." Lanjut pembicaraan Satya sembari mengarahkan pandanganku ke layar, memilih karakter game. "Yakin, mau tau alasan kakak beli game sebanyak ini?." Tanya balik Alicia sambil mendekatkan ke samping kiri wajah Satya. "Jelaslah, aku mau tau." Jawab Satya tetap fokus ke layar. "Terus kak, Bisa enggak jangan dekat-dekat mukanya ke wajahku ini. Aku agak risih tau." Sambung Satya masih melanjutkan memilih karakter game. "Ihh, Satya mah enggak tau perasaan cewek," keluh Alicia. "Kakak itu suka sama Satya. Lagian Satya juga udah umur 16 tahun, udah cukup pantas buat pacaran," sambungnya merayu Satya. "Aku memang sudah berumur 16 tahun, aku tahu itu. Tetapi, aku sudah menganggap kak Alicia sebagai kakak kandungku sendiri," balas Satya kesal akan tingkah Alicia. "Huh. Terpaksa aku lakukan," ucapnya singkat. Kemudian Alicia menindih dan memegang kedua tangan Satya dengan erat, sangat erat hingga tangannya memerah karena genggaman tangan Alicia yang kuat. "Bagaimana rasanya di tindih seorang wanita dewasa, apa kamu tergoda?" tanya Alicia menatap mata Satya penuh gairah muda. "Hhmph, bagaimana aku tidak tergoda dia hanya memakai 1 set pakaian tidur tipis berwana putih dan bermotif bintik-bintik merah. Serta membiarkan 2 kancing tersisa pada bagian kerah terbuka," benak Satya dalam hati dengan wajah memerah sembari berusaha memejamkan mata. "Jawaban diam itu, aku anggap sebagai ya. Masih mau melanjutkan?" tanya Alicia masih menindih Satya. "Terserah, mau kamu apakan tubuhku ini!" jawab Satya dengan nada menantang. "Oke baiklah. Akan aku mulai," jawabnya dengan berani. Alicia mulai mendekatkan wajahnya ke Satya. Dengan tangan masih memegang erat kedua tangan Satya. Berjarak 10 cm sudah sangat dekat dengan wajah Satya. Lalu, bibir Alicia mulai mengarah ke kening Satya. Akhirnya, satu kecupan manis mendarat di keningnya. Sedangkan Satya hanya terdiam memejamkan mata berharap ini segera selesai. "Sudah selesai, silahkan tidur," ucapnya lega serta di kelilingi perasaan bersalah menyelimuti hatinya, kemudian melepas tangan Satya. "Sudah selesai nih?" tanya Satya bingung sembari memegang telapaknya yang merah karena cengkraman Alicia. "Iya udah selesai, mau lebih?. Nanti kalau kamu udah gede," jawabnya meledek satya. "Lah, gitu doang," ucap Satya merasa lega. "Idih gayanya, tadi aja merem. Giliran sudah selesai malah melek," balasnya kesal. "Wah gawat nih, udah jam 3 pagi," ucap Satya kaget. "Kak aku mau pulang dulu," sambung Satya hendak membuka pintu kamar. "Eh, tadi aku sudah kirim email. Kata Ibu kamu tidur disini saja malam ini," balasnya cepat. "Lah kok bisa?" tanya Satya bingung. "Aku kirim email begini nih tulisannya 'Bu, ini Alicia, Satya sekarang lagi di rumahku. Katanya mau nginep di sini.' kemudian ini jawabannya 'Oh, yaudah enggak papa tolong jaga satya ya, dia lagi ngambek nih. Oh iya, makasih kiriman minuman anggurnya ini enak sekali'. Percaya sekarang?" tuturnya sembari menunjukan isi chattingnya. "Loh, kok tumben Ibu suka anggur?" tanya Satya bingung. "Sejak aku sering mengirimnya ke tempatnya bekerja," jawabnya jelas. "Ya sudahlah, aku tidak mau mengetahui rencanamu. Aku mau tidur besok berangkat sekolah," balas Satya sembari mengambil bantal dan selimut untuk tidur di ruang tamu. "Ehh, mau kemana lagi?" tanya Alicia melihat Satya membawa bantal dam selimutnya. "Aku mau tidur di ruang tamu," jawab Satya singkat. "Di sini saja," balasnya sambil menepuk-nepuk kasur empuknya. "Ini juga disuruh ibu kamu 'Jangan lupa paksa, Satya tidur satu ranjang sama kamu. Dia itu sedikit lemah fisik kalo begadang sampai pagi' . Percaya?" tutur sambil menunjukkan pesan bu Lyla " Aku tidak mau memaksamu, lagi pula itu terserah kamu." Sambungnya. "Baiklah, ini juga demi kesehatanku sendiri," balas Satya menghela nafas panjang. "Tolong matikan lampunya," pinta Alicia sudah dalam posisi tidur. "Ok," balas Satya singkat segera menuju ke kasur yang empuk satu ranjang dengan Alicia. KEMUDIAN... "Ahh, sial aku telat. Gara-gara kak Alicia, ritme tidurku jadi kacau," ucapku sembari melangkah menuju rumah untuk bergegas berganti pakaian. *Swussh* Suara pintu bergeser Satya segera masuk kedalam rumah. Kemudian, terdapat pesan dalam layar lemari Es. Saat hendak membuka lemari. 'Aku tahu, kamu akan telat. Aku buatkan bekal makan siang untukmu By Anastasya' " Terima kasih, kak," benak Satya dalam hati. Setelah itu, segera mengambil sepatu lalu menuju pintu keluar sambil berlari dengan tergesa-gesa. "Wah, gawat sekarang pukul 7.15 pagi. Aku akan sangat telat hari ini," gumam Satya sambil berlari secepat mungkin menunju pemberhentian Bus. Satya telah sampai. Akan tetapi, dia lupa bahwa bus menuju sekolah tidak akan ada karena telah siang. Akhirnya, Satya memutuskan memanggil taksi. "Taksi!!" serunya sembari melambaikan tangan. "Kemana dek?." tanya supir mengarahkan pandangan kepada Satya. "Ke sekolah Boulevard. Tolong cepat!" seru Satya mengeraskan suara. "Baiklah silahkan masuk," ucap sang supir mempersilahkan. Saat hendak masuk, ada seorang wanita mendahulu Satya. Deja vu mungkin kalimat paling tepat untuk mengungkapkannya. "Sudah masuk semua?" tanya Supir. "Silahkan jalan pak," ujar Satya mempersilahkan. Situasi menjadi terasa hening masing-masing dari mereka melihat kearah jendela. " Anu..." ucap gadis disebelah Satya singkat. "Iya?" jawab Satya menengok kearahnya. "Kamu masih ingat aku?" tanya gadis itu. "Maaf aku tidak tahu, Kamu siapa?" tanya Satya bingung. "A-Aku pernah menyebutmu seorang penguntit," balasnya gugup. "Penguntit?" ujar Satya sembari melihat keatas mengingat-ingat. "Ahh.. Kamu orang itu yaa!" sambung Satya sembari tangan kanan mengepal kemudian menumbuk telapak tangan kiri. "Iya ... Aku ingat, terus apa yang ingin kamu katakan?!" tanya Satya dengan nada sedikit keras. "Aku mau minta maaf, karena nama baikmu tercoreng karenaku," jawabnya merasa bersalah. "Oke, aku maafkan. Sekarang jangan ganggu aku dan menemuiku lagi!" jawabku dengan nada keras. "Apa kamu yakin benar-benar memaafkanku?" tanya gadis itu dengan wajah lesu masih merasa bersalah. "Iya," jawab Satya singkat. "Makasih!" seru gadis itu merasa senang. "Perkenalkan Namaku Felicia," ucapnya sambil berniat berjabat tangan. "Salam kenal, namaku Satya," balas Satya menerima jabat tangannya. "Kalau tidak salah kamu dari kelas E ya?" tanya Felicia. "Oh iya, ada apa?" jawab Satya singkat. "Aku tahu dari teman-temanku, katanya kamu dari kelas E. Banyak loh, fans berat kamu di kelasku," ujarnya kepada Satya. "Kamu termasuk?" tanyaku usil sembari tertawa geli. "Ih ... Enggak kok. Kata siapa?" tanya Felicia sedikit memerah di wajahnya. "Kataku ... Sudahlah baru kenal juga, sudah main rayuan," balas Satya pura-pura kesal sambil mengerutkan dahi. "Ihh ... kamu duluan yang ngerayu aku," ucapnya jengkel sambil mencubit keras lengan kiri Satya. "Sakit ... Sakit ... Sakit ..." ucapnya meringis kesakitan. Mobil mulai melambat kemudian berhenti tepat di gerbang sekolah. "Udah sampai Nona dan Tuan," ujar Supir tersebut. "Makasih. Ini pak dua orang ya," ucap Satya sembari memberikan kartu digital. "Baik," balasnya sembari mentransfer pembayaran. "Ini Tuan," ujarnya mengembalikan kartu digital. Pukul 7.35 pagi. Mereka segera masuk menuju Gerbang yang telah di tutup. "Ahh, sial aku lupa... Kalau gerbang sekolah ini. Akan terbuka saat, jam istirahat makan siang saja," racau Satya bingung karena suasana terlihat sepi dari luar gerbang. "Gimana nih, masa kita harus menunggu sampai jam istirahat makan siang sih," balas Felicia dengan wajah khawatir. Kemudian, Felicia sempat terbesit di pikirannya untuk membolos. Akan tetapi, dia bingung karena khawatir tentang hukuman sekolah yang siap menunggu dirinya. Akhirnya, Felicia mempunyai ide untuk mengajak Satya. "Jika terjadi sesuatu padaku, aku akan menyalahkan Satya," pikirnya dalam hati. "Satya, bolos aja yuk!" serunya mengajak Satya. "Hah... bolos, terus ngapain tadi aku bayarin taksi mahal-mahal," balas Satya jengkel. "Nanti aku ganti deh uangnya. Terus, anggap aja hari ini. Kencan pertama kita," balasnya genit mengarah pada Satya. "Tidak ... Tidak ... Tidak, ada yang harus aku diskusikan dengan temanku saat ini," ucap Satya menolak ajakannya. "Ayo... Ikut aku," rengek Felicia sembari menarik tangan Satya untuk pergi. "Tidak... Tidak... Tidak... Cukup jangan tarik tanganku!" ucap Satya jengkel. Felicia melepas tangannya dan terkejut. "Jika kamu ingin mengajakku, ada 2 syarat," ujar Satya sambil menatap matanya. "Apapun itu sebutkan, akan aku lakukan," ucapnya berjanji. "Baiklah. Pertama, jangan pernah mengatakan tidak. Kedua, Aku hanya butuh 1 permintaan saja," ujarku memberi syarat sembari tersenyum tipis. "Baik, permintaan apa itu?" tanya Felicia penasaran. "Oh, Tunggu saja. Saat ini aku belum punya permintaan apapun padamu," jawab Satya tersenyum lebar karena Felicia telah menyetujui permintaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN