Dinginnya ruang isolasi mulai terasa akibat hujan lebat tak kunjung usai. Tidak ada suara bising kecuali suara bising dari speaker dan kami berdua.
"Membuat sarang semut?" tanya Felicia.
"Iya, silahkan pilih yang mana,"
"Kalau aku memilih, belajar apa yang harus aku lakukan?" tanya Satya meminta sedikit penjelasan.
"Mungkin kamu harus lebih giat belajar atau mengikuti kelas tambahan,"
"Terdengar sulit," balas Satya.
"Jika kamu memilih yang kedua berarti harus membuat kelompok. Pilihan ada di tanganmu sendiri,"
"Kalian sudah memilih?. Jika sudah silahkan keluar dan kembali ke kelas,"
Kemudian, pintu di buka dari luar oleh bu Valerie tanpa sepatah katapun, membiarkan kami pergi.
Sekitar 10 meter dari ruangan isolasi.
"Felicia, kamu kelas 10C bukan?" tanya Satya mengarahkan pandangan pada Felicia sambil berjalan menelusuri lorong kelas.
"Iya, Aku kelas 10C memangnya ada apa?"
"Tak ada hal penting, aku hanya ingin tahu saja," jawab Satya.
Pukul 9 pagi, pelajaran masih berlangsung. Tak ada perubahan mencolok selama kami berada di ruang isolasi. Satya telah sampai di kelasnya lebih dulu, meninggalkan Felicia sendirian menuju kelasnya
Seluruh siswa-siswi yang berada di kelas memusatkan perhatiannya pada Satya hingga sang Guru pun ikut memperhatikan.
Lucunya kejadian ini sering kali terjadi. Ketika, Satya mendapat suatu hal menghebohkan membuat dirinya merasa sedang Deja vu.
Untunglah, suasana hening dan sorotan mata yang menganggu Satya tersebut di patahkan oleh temannya Asher. Ketika, menyapa dirinya dari bangku paling belakang.
"Satya, bagaimana saat di ruang isolasi?" sapa Asher dari kejauhan.
"Apa saat disana kamu di beri arahan oleh suara yang di samarkan?" sambung Asher.
"Rasanya benar-benar hening waktu itu,"
Para Siswa dan Siswi menerka-nerka, suasana ruang isolasi yang di maksud Satya sambil berbisik-bisik.
"Iya, aku diberi arahan oleh orang aneh itu," jawab Satya sambil mendudukkan bokongnya ke bangku, "Nanti saja kita lanjutkan setelah istirahat ..." sambung Satya lirih.
Setelah Satya duduk, pelajaran dimulai seperti biasa. Guru kembali menjelaskan pelajaran yang sempat terhenti.
Pukul 12 tepat. Jam istirahat makan siang. Semua Siswa sudah pergi menuju kantin beberapa masih berada di kelas. Sedangkan rata-rata Siswi masih berada di kelas sisanya sudah pergi ke kantin, beberapa dari mereka entah pergi kemana.
Walaupun, sudah banyak yang pergi menuju kantin, tapi kelas ini tetap saja masih terlihat ramai.
"Satya, mau ke kantin bareng kami?" ajak Asher
tanpa menoleh ke arah Asher, "Kami maksudmu siapa saja?" tanya Satya masih sibuk menulis.
"Siapa lagi kalau bukan Arlo, Naomi dan Aku tentunya," jawab Asher.
"Oh, benarkah? Kemana Naomi?"
"Aku tak melihatnya," sambung Satya mulai menoleh ke kanan dan kiri sambil mencari-cari Naomi.
"Katanya ada urusan mendadak, dia akan segera menyusul nanti," balas asher.
"Hei, kalian melupakan aku semudah itu?!" ucap Foxie kecewa sambil menggembungkan kedua pipinya yang tirus.
Nada meremehkan keluar dari mulut Asher, "Sejak awal kamu memang bukan bagian dari kami. Kenapa aku harus mengajakmu?"
Arlo yang tadinya diam membisu memperhatikan mereka bertiga. Akhirnya, ikut berbicara.
Arlo tepat di samping kanan Satya, "Hei, bisakah kalian berhenti berdrama ria di kelas ini?" demikian ucap Arlo sambil mengelus perutnya yang mulai keroncongan.
Sayangnya ucapan Arlo tidak di gubris oleh mereka bertiga. Walaupun, begitu Arlo tetap sabar menanti jawaban dari mereka.
"Apa aku perlu mengatakannya disini kalau kita berempat akan mengikuti F.K16 ..." ucap Foxie berbisik lirih ke arah Asher.
"Kamu berniat mengancam kami?" ucap Asher jengkel.
"Sudah selesai? Cepatlah," rengek Arlo masih mengelus perutnya yang sixpack.
"Apa aku perlu mengatakan keras-keras rencanamu!" teriak Foxie hingga perhatian orang-orang fokus ke arahnya.
Dengan nada datar, "Katakan saja!" demikian ucap Satya kepada Foxie.
Sontak Foxie terkejut. Ketika, mendengar ucapan Satya, "Apa kamu yakin? Aku akan mengatakannya sekarang!" demikian balas Foxie meninggikan nadanya di
bagian akhir kalimat.
"Iya, silakan!" seru Satya masih sibuk menulis tanpa menoleh ke arah Foxie.
"Baiklah, lihat ya!" seru Foxie sambil mengambil napas dalam-dalam.
"Cukup-cukup!" ucap Asher menghentikan niat Foxie.
"Kenapa menyuruhku berhenti?" ucap Foxie.
"Iya, kenapa menghentikan Foxie" ujar Satya.
"Kamu mau pergi ke kantin bersama kami bukan? Ayo ikut saja tak perlu melakukan seperti ini," tutur Asher.
"Yakin nih, aku boleh ikut?" tanya Foxie sambil tersenyum lebar.
"Iya, yuk ke kantin sekarang," Ajak Asher.
"Satya, mau ikut atau tetap di kelas?" tanya Asher.
"Aku akan tetap disini, ada yang harus aku selesaikan sekarang juga,"
"Hah, kamu tidak ikut!" ucap Foxie terkejut.
"Iya," jawab Satya singkat.
"Sudah selesai dramanya? Yuk ke kantin sekarang!" ucap Arlo mulai bersemangat.
"Yaudah, kami duluan Satya?!" ujar Asher sambil melangkah menuju pintu kelas bersama Arlo dan Foxie.
"Akhirnya, mereka pergi juga dari sini," gumam Satya merasa lega.
"Baiklah, sekarang aku akan menuju kelas 10C. Setelah itu lengkap sudah rencanaku," gumam Satya mulai bangkit dari tempat duduk kemudian menuju kelas 10C.
Aku mempercepat langkah Satya, tak sabar memberikannya pada Felicia. Kelasnya menghadap selatan persis. Setibanya, Satya di kelas 10C. Satya menabrak tepat di pintu kelas, saat salah satu Siswi yang berada di dalam berniat keluar kelas.
"Aduhh, hati-hati dong kalau jalan!" oceh Siswi yang menabrak Satya meninggikan nada. Dengan posisi terlentang sambil memegang kepalanya karena benturan keras menabrak d**a Satya.
"Satya!" ucap Felicia terkejut. Melihatnya terjatuh dalam posisi duduk dengan kaki lurus ke depan.
"kenapa kamu disini?" tanya Felicia.
"Emph,"
Belum sempat mengutarakan, apa yang di inginkan Satya. Gadis yang menabraknya langsung memeluk.
"Ahhh, aku penggemar beratmu Satya!" ucap gadis tersebut.
"Iya ... Iya ... tolong lepaskan, ada hal penting yang aku utarakan pada Felicia" ucapku dengan jelas.
"Enggak mau," jawab gadis tersebut.
Siswi lain, yang berada di kelas ikut mengerubungi Satya. Hingga tidak terlihat oleh pandangan Felicia karena terhalang oleh siswi-siswi di kelas ini.
Felicia tak kehilangan Akal begitu saja. Dia mempunyai ide yang membuatnya leluasa melepaskan Satya dari situasi ini
"Satya, kamu mau mengajakku ke hotel cinta itu lagi ya?! Aku sudah bosan. Gimana kalo tempat lain aja?" tanya Felicia dengan mengeraskan suaranya.
Sontak teman satu kelas Felicia terkejut. Ketika mendengar hal itu keluar dari mulut Felicia yang mungil tersebut.
Tentu saja sama halnya teman sekelas Felicia. Satya pun ikut terkejut atas pernyataan Felicia.
Ketika, tadi banyak gadis yang mengeluk-elukkan nama Satya. Kini, mulai terdiam karena ucapan Felicia.
"Bagaimana kalau ke Villa dekat danau. Disana kita bisa melakukannya dimana saja sesuka hati," ucap Felicia dengan nada genit.
Teman satu kelas Felicia mulai melirik Satya kembali. Akan tetapi, tatapannya berubah penuh amarah dan meninggalkannya begitu saja.
"Alah, ternyata cowo sama saja. Tak layak di percaya," ucap salah satu gadis meninggalkan Satya sendirian.
Felicia mulai bangkit dari tempat duduk. Kemudian, membantu Satya berdiri.
Felicia memegang pergelangan tangan Satya menuju Lorong di dekat kelasnya. Berkata, "Ada apa sampai repot-repot ke kelasku ini?"
"Ahh, sebenarnya aku ingin protes tentang apa yang kamu katakan tadi," ucap Satya menghela napas di bagian akhir kalimat.
"Sudahlah jangan dibahas lagi. Kembali ke pertanyaanku padamu tadi, apa kamu ingin mengatakan sesuatu padaku?" ucap Felicia mengulangi pertanyaan.
Satya mengeluarkan E.B.D (Electronic Book Digital) berbentuk pipih persegi dari saku belakang. Kemudian memberinya pada Felicia.
"Apa ini?" tanya Felicia sambil menarik E.B.D menariknya dari ujung kanan persegi ke pojok kanan atas.
"Aku butuh cap jarimu disini" jawab Satya menunjuk tempat yang sudah di tandai nama Felicia.
"Oh, begitu baiklah," balasnya enteng tanpa pikir panjang memberikan sidik jarinya pada Satya.
Felicia mengembalikan E.B.D pada Satya. Untuk mengecek kembali.
Sambil mengangguk dan tersenyum puas. Aku berkata, "terima kasih, ini sangat cukup bagiku,"
"Dengan begini, aku tinggal menyalin kalimat yang sebelumnya aku ketik dan di tempel pada berkas yang kamu tanda tangani ini," sambung Satya tersenyum senang sambil menunjukkan kembali pada Felicia.
Felicia membaca ketikan yang telah di tempel. Membaca bagian Akhir surat pernyataan yang di buat Satya.
"Dengan ini menyatakan, bahwa yang telah menandai atau menandatangani surat ini telah menyetujui. Akan mengikuti F.K16 secara suka rela," mata Felicia terbelalak terkejut melihat isi surat yang di buat Satya ini.
"Satya, kamu tega yah, bawa aku ke F.K16. Sini kembalikan suratmu padaku!" ucap Felicia meninggikan nada bicaranya sambil berusaha menggapai E.B.D dari tangan Satya.
Aku mengangkat tinggi-tinggi E.B.D agar tidak mudah di capai Felicia. Berkata, "Kamu ingat saat kita di ruang isolasi?. Nilai kita Akan di kurangi 20 poin"
"Terus apa masalahnya? Aku tinggal berusaha lebih keras lagi agar tidak tersisihkan 100 peringkat!" ucap Felicia sibuk menggapai E.B.D milik Satya.
"Kalau kamu tidak lolos 100 peringkat. Apa yang kamu lakukan?" selidik Satya mengerutkan dahi.
Felicia tidak menjawab pertanyaan Satya dan tetap Fokus ingin menggapai E.B.D milik Satya. Hingga berloncat-loncat seperti kelinci bernafsu menggapai wortel.
"Baiklah, begini saja ..." ucap Satya menghela napas panjang.
"Apa!" respon Felicia cepat.
"Akan aku ubah pernyataanya disini," ucap Satya sambil menunjuk E.B.D yang di pegang.
"Seperti apa?" tanya Felicia mulai tersengal-sengal napasnya.
Satya menghapus beberapa kalimat dan mengetikknya kembali. Lalu, menunjukkan pada Felicia.
Felicia langsung membaca dengan rinci di setiap kalimat. Berkata, "Selama pelajaran berlangsung orang yang menandai atau bertanda tangan di bawah ini, harus mengikuti sesi latihan mulai esok hari hingga hari pertama ujian dimulai,"
"Jika tidak lolos dalam seleksi 100 peringkat, maka harus mengikuti rencana Satya Pranaditya dan tidak boleh menolak permintaannya," ucap Felicia dalam benaknya.
"Baiklah, aku setuju," ucap Felicia berjabat tangan dengan Satya.
"Baiklah, jadi apa rencana selanjutnya?" tanya Felicia.
"Aku ingin kamu bergosip ria alias membuat kabar burung," ucap Satya.
"Kabar burung seperti apa?" tanya Felicia.
"Sebelum aku memberi tahumu, aku ingin mengajakmu makan siang. Kita akan membicarakannya disana bersama teman-temanku," ucap Satya sembari memegang tangan Felicia.