CHAPTER 16

1550 Kata
Arlo melewati kerumunan murid yang berada tepat di luar lantai dua, lebar balkon lantai dua hanya 1.7 meter karena sedikitnya orang yang lalu-lalang. Tinggi lantai hanyalah 5.2 meter dengan posisi tangga di luar pojok sebelah kanan bersebelahan dengan pusat jalan keluar masuk menuju gedung sekolah ke lapangan. Panjang gedung 25 meter. Dengan badannya yang besar dan lebar, Arlo berusaha melewati segerombolan orang yang berada di depan pintu sanggar. Tiga orang dengan perawakan sedang, memegang tiga anggota klub tersebut agar tidak kabur dan berbuat macam-macam sedangkan dua orang memegang lengan Ketua klub dalam posisi berlutut di hadapan satu orang yang sedang mengintrogasi Ketua klub. Baru saja ia di tengah-tengah kerumunan murid yang sedang berkumpul suara teriakan kesakitan ada di depan pandangannya, "Ahhh ... SAKIT!" Arlo semakin berusaha mempercepat langkahnya berhimpitan di antara kerumunan banyak orang layaknya melihat sirkus dadakan. jari-jemari salah satu Siswa memegang kencang kedua pipi Ketua klub yang tirus, sorotan matanya penuh amarah apa daya tubuh Ketua klub tak mampu melawan karena kedua tangannya di pegang erat-erat. Akan tetapi, ia tak menyerah tetap berpegang teguh pada pendiriannya yaitu tidak memberi tahu identitas pengirim berita. Siswa tersebut jongkok menyamakan pandangannya dengan Ketua klub. Ia kembali menampar Ketua klub pada bagian pipi kanannya hingga lebam karena pipi Ketua klub yang lembut, " PLAK!" para siswa terdengar syok. Akan tetapi, bukan syok karena melihat aksi temannya yang menampar seorang gadis. Tapi, melihat Arlo yang berada tepat di barisan depan di antara Siswa lainnya yang sedang menonton. Siswa yang menampar Ketua klub menengok ke arah para Siswa di belakangnya termasuk Arlo. Alangkah terkejutnya ia, melihat sosok tinggi, besar, dan berotot berada tepat di belakangnya. Jantungnya memompa dengan cepat menyalurkan darah ke tubuh. Kemudian, berdiri menghadap Arlo yang tinggi badannya melebihi teman sebayanya yaitu 187 centimeter. Hingga Siswa itu harus mengangkat dagunya ke atas agar bisa melihat wajah Arlo, "A-Anda juga pe-penasaran ingin tau siapa pengirim berita itu?" tanya Siswa itu terbata-bata. Selanjutnya ia memerintah kawannya agar mengubah posisi berlutut menjadi berdiri dengan merangkulnya, "ce-cepat berdirikan dia agar ia saja yang mengintrogasi!" perintah Siswa tersebut kepada temannya layaknya bos. "Silakan ... lakukan dia sesuka anda" demikian ucapnya sambil menunjuk Ketua klub. Arlo hanya berusaha tersenyum ramah tapi tanggapanya berbeda pada Siswa yang ia senyumi. Tubuh mereka merinding ketakutan tak berkutik di depannya termasuk Ketua klub. Arlo mulai melangkahkan kaki pertamanya bagian kanan mendekati Ketua klub yang merasa ketakutan sambil memejamkan matanya. Tapi, yang ia takutkan tak kunjung dirasakan. Kemudian, tubuhnya merasa seperti di angkat. Pada bagian punggung dan sekitar lutut yang sedang menggapit, ia merasakan lengan-lengan kuat sedang mengangkat tubuhnya itu. Perlahan tapi pasti ia membuka matanya lebar-lebar. Ia begitu terkejut melihat wajah seram orang asing di hadapannya sedang menggendong tubuhnya seperti mengangkat anak kucing. Begitu mudahnya tanpa memperlihatkan ekspresi berat saat menahan tubuhnya. Ketua klub melihat ke samping kirinya. Ia melihat segerombolan Siswa termasuk orang yang menampar tadi, menanggapinya dengan bingung. sambil melihat ke arah wajah Siswa asing yang sedang menggendongnya itu. Kemudian, merangkul lehernya dengan kedua tangannya kembali memejamkan matanya. ***** Siswa yang layaknya bos itu menunjuk Arlo, "He-hey apa yang kau lakukan?!" ucapnya kebingungan akan keputusan Arlo yang menggendong Ketua klub Surat Kabar. Arlo kembali berusaha tersenyum ramah berkata, "Tidak baik, menampar dan mengintimidasi seorang gadis lemah yang tidak bisa melindungi dirinya." Ucapan Arlo sontak membuatnya tertawa lepas diikuti Siswa lainya yang menonton, "Ha-ha." wajahnya mendadak berubah mengancam pada sorotan matanya berkata, "Kamu pikir, aku benar-benar takut padamu!" sambil menunjuk Arlo dengan tegas. Arlo hanya kembali berusaha tersenyum ramah. Tapi, menurut pandangan orang yang melihat senyuman Arlo. Ia sedang mengancam balik, "Aku tak berniat menantangmu berkelahi," demikian ucapanya sambil menunjukkan senyumannya kembali. Siswa yang menampar Ketua klub hanya menelan ludahnya. Karena suaranya mendadak menghilang ketika berniat mengucapkan sesuatu. Ia hanya memberi isyarat pada kedua teman yang berada di belakang menyuruhnya menghajar betis Arlo. Kedua temannya hanya mengangguk. Pukulan telak terjadi tepat pada kedua betis Arlo keras-keras, "Buk ... Buk! ..." seperti yang sudah Siswa itu duga. Ia tidak bergerak sama sekali dengan tendangan kedua temannya itu. Akhirnya, Siswa tersebut memutuskan ikut menghadapi Arlo dengan di bantu tiga orang tambahan yang berada di samping kanannya dekat pintu sedang memegang ketiga anggota klub Surat Kabar. Kemudian, melepasnya untuk membantu melawan Arlo Saat ini, Arlo menghadapi enam orang. Dua orang di belakang tiga orang di sampingnya dan satu di depannya. Lantai dua yang lebarnya hanya 1,7 meter. Membuatnya begitu sempit untuk ukuran tubuhnya hingga Arlo tidak bisa bergerak leluasa. Arlo memutuskan menurunkan kembali Ketua klub, "Maafkan aku, kamu jadi terlibat ..." ucapnya lirih ke dekat telinganya. Wajah ketua klub memerah tomat yang masak lama di kebun. Ia di turunkan di dekat pintu dan menyuruhnya untuk berlindung di dalam sanggar klub dengan menutup kunci rapat-rapat. Suara pintu sudah bergeser dan terkunci, "Swush ... klek." Suasana menjadi hening Siswa yang sedang bergerombol menuntupi jalan keluar menuruni tangga menjadi terdiam. Suasana tegang mulai memuncak Semua Siswa-Siswi anggota klub ikut terdiam melihat Orang yang dikenal paling seram di kelas 10. Berniat bertarung melawan ke enam orang yang berniat mengeroyoknya. Salah satu Siswa yang berada di titik buta atau di belakang dekat pagar pembatas lantai dua, menyerangnya terlebih dahulu sebagai pembuka. Ia melompat ke arah pagar, kaki kirinya memijak pagar tersebut sebagai tumpuan. Selanjutnya, tangan kirinya mengepal mengarahkan pada bagian pelipis dekat telinga bagian kiri Arlo dalam sekali pukulan, "Buk! ..." pendengaran bagian kirinya langsung berdengung, "Ngiiing ..." tubuh Arlo sempat goyah dan tidak melawan balik. Siswa yang berada depannya tersenyum puas ketika melihat kelemahan Arlo yang berada di telinganya itu. Ia akhirnya menyuruh kembali kedua orang yang berada di belakang Arlo untuk kembali menyerangnya pada bagian telinga. Ia kembali goyah akan tetapi ia masih kokoh terhadap pendiriannya untuk tidak melawan. "Aku tidak akan melawanmu tenang saja," ucap Arlo berusaha menahan pukulannya bertubi-tubi yang menyerang bagian telinganya itu. Kemudian, siswa-siswi klub ekstrakulikuler yang menonton tidak tahan akan sikap Arlo, "Lawan-lawan!" sorak mereka menyemangati. Mendengar dukungan yang terlampau banyak itu, Siswa yang sedang melawan Arlo mulai meninggikan suaranya, "Dasar!! Kau bodoh sok jagoan!" ucapnya sambil memukul Arlo dengan cara yang sama melompat dengan kaki bertumpu pada pagar pembatas dan menendangnya dengan kaki memutar badannya 360 derajat. Arlo tetap tidak melawannya balik. Akhirnya suara menggedor pintu muncul dari sebelah kanan Arlo tempat Ketua klub Surat Kabar bersembunyi, "Dor ... Dor ..." Suara samar-samar terdengar dan makin jelas karena di ucapkan berkali-kali berkata, "Hey, berhentilah sok kuat hajar mereka. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" ucapnya dari balik pintu. Arlo kembali tersenyum berkata, "Sesuai perintahmu Ketua!" seru Arlo kembali dengan penuh semangat. Aura Arlo menyelimuti dirinya seolah membuat dinding, tentunya dengan tersenyum ramah menurut dirinya. "Heh ... aku pikir akan takut," ucap Siswa yang berada di depannya. Dari samping kanan tendangan kaki melayang ke arah kepalanya. Selanjutnya, ia tangkis pada tangan kanannya dengan menggapit siku di antara otot-otot besarnya itu. Tendangan yang sama mengarah ke kepala dari arah titik buta Arlo. pandangan Arlo terfokus pada kaki yang ia kunci dengan lengannya itu. Ia meremas kedua jari masih memakai sepatu, dengan mudahnya. Ia menendang kaki sebelahnya hingga terjatuh. Kemudian menginjak-injak lututnya berulang kali hingga ia memohon, "Ampun ... ampun!" ucapnya tergeletak di lantai. Pukulan bertubi-tubi menyerangnya akan tetapi, ia tidak menggubris karena terlalu fokus. Ia pun mengahirinya dengan meninju bagian perut hingga mengeluarkan sisa-sisa makanan siang tadi. Hingga mengenai seragam yang Arlo pakai. Bau menyengat sisa-sisa makanan membuat orang yang menonton ingin muntah, "Hueekkk!" seru suara orang yang ramai-ramai menonton itu. Setelah puas dengan satu mangsanya, ia menoleh dan kembali tersenyum dalam posisi membungkuk kepada Siswa yang menjadi akar permasalahannya itu. Pukulan keras pada kaki kiri, terjadi pada wajah Arlo yang baru saja tersenyum. Arlo memutuskan berdiri kembali menghadap ke dua orang yang salah satunya menghajar wajah Arlo. Teman yang berada di belakang Arlo hendak memukulnya, dari titik buta untuk kembali berniat membalas dendam, yang berada di depan pintu. Pukulannya berhasil mengenai lehernya. Al hasil tak terjadi apa-apa. Arlo hanya fokus pada ke dua orang yang berada di hadapanya. Ia kemudian menganyunkan tangan kanannya yang berotot itu ke arah kiri "Swingg ... Bug" dan di tangkis Siswa tersebut dengan tangan kirinya. Apa daya ayunannya terlalu kuat hingga Siswa itu terhempas menyamping bertabrakkan dengan Siswa di sebelahnya. Hingga tersungkur ke lantai, Arlo kembali berutal dengan menginjaknya berkali-kali pada betis Siswa yang menghajar wajahnya dengan kaki kanan serta menendang kedua kepala mereka dengan keras. Siswa yang membuat onar itu hanya menelan ludahnya saja. Kemudian, mundur perlahan-lahan. Tapi, Siswa yang sedang bergerombol tersebut tidak membiarkan ia kabur. Arlo kembali bangun dan tersenyum, "Kamu sudah membuatku terbakar mana mungkin bisa kabur." Arlo segera mendekat dengan langkah besar. Di lanjut, memegang kepalanya, "Bagaimana rasanya kepalamu di remas? apa kamu mau lagi?" Siswa itu memohon ampun dan ingin di lepaskan kepalanya dari tangan Arlo yang besar itu, "Tolong lepaskan aku!!" ucapnya memohon ampun. "Baik, dengan satu syarat berbaliklah. Aku tidak suka melihat wajah busukmu itu," ucap Arlo dengan rasa terbakar di tubuhnya karena adrenaline yang mengalir dalam tubuh. "I-Iya Aku akan membalikkan wajahku," ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Siswa itupun menuruti perkataannya dengan membalikkan badan serta menutup wajahnya walau tidak di minta. Arlo kembali mengayunkan kedua tangannya, ke arah Siswa yang ada di depan mengarahkannya pada kedua telinga. "Swingg ... Boom .... Ngiiing" suara hantaman dengungan keras masuk ke dalam telinga Siswa tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN