CHAPTER 22

2015 Kata
Ting-ting ... ting-ting ... Bunyi keras bell melalui speaker. Murid-murid membereskan peralatan setelah pelajaran Matematika selesai. Guru mapel meninggalkan kelas. "Asher, apa kamu sudah baikkan?" tanya Naomi menengok kebelakang. Sekilas Asher melihat bekas suntikan transfusi darah yang ada pada lengan kirinya, "Aku baik saja walau sedikit lemas," jawab Asher menutup bekas suntikan pada lengannya. "Oh, kenapa tidak ijin saja hari ini?" ujar Naomi memberi solusi. "Tidak, ini hanya hal biasa. Aku tidak ingin ketinggalan pelajaran sedikitpun," jawab Asher. "Aku pikir kamu tidak peduli pelajaran di sekolah ini," ujar Naomi. "Mana mungkin aku begitu, walau malas sekalipun. Aku menyadari sebagian besar hidup kita, sepanjang sejarah umat manusia karena ilmu dasar yang telah dikembang hingga saat ini," balas Asher. Naomi pun terkejut mendengar tanggapan Asher yang begitu peduli akan ilmu pengetahuan lebih diluar apa yang dia bayangkan sebelumnya. Ngiing ... Ngiing ... Suara speaker dalam kelas berbunyi, "Asher, Arlo dan Satya untuk nama yang saya panggil silakan menuju ruang guru secepatnya," ucap pengawas melalui speaker. "Ada apa ini?" Kenapa mereka dipanggil?" ujar teman-teman sekelas mereka bergunjing membicarakan ketiga laki-laki. Asher terkejut mendengarnya saat sedang asik mengobrol, datang seseorang menghampiri Asher, "Asher, apa kamu tau penyebab kita di panggil?" tanya Arlo bingung. Satya pun ikut menghampiri bangku Asher, "Bukannya kalian tahu penyebab utama kalian dipanggil?" Asher dan Arlo saling melirik, mereka berdua menggelengkan kepala. Satya mengusap wajahnya, "Wajar jika Asher lupa dia kehilangan sangat banyak darah. Tapi, lebih parah kamu. Kenapa bisa lupa? yang mengakhiri situasi genting kemarin hanya kamu seorang!" demikan ucap Satya sambil menepuk-nepuk lengan besar Asher. Arlo masih bingung dengan ucapan Satya, ia berusaha mengingatnya sambil memandangi jendela, "Ooh maksudmu kemarin!" "Hey, cepat kalian pergi ke ruang guru, sudah ditunggu dari tadi," ucap Naomi mempringatkan mereka bertiga. Foxie hanya memperhatikan mereka berempat dari tempat duduk yang jauh. "Ya sudah, aku pergi terlebih dahulu," ucap Asher berdiri dari meja dan meninggalkan dua temannya. *** "Kira-kira siapa ya, guru yang memanggil kita bertiga?" selidik Arlo, "Menurutmu siapa?" sambung Arlo. "Menurutku Kepala sekolah," jawab Satya. "Yang jelas dia guru ... hehe," canda tertawa kecil Asher. "Ok, ruang guru sudah ada didepan mata bersiaplah," ucap Arlo menyuruh mereka mempersiapkan mental. Tok-tok ... Krieeekk Mereka bertiga seolah melihat dunia lain dari balik pintu ruang guru, suasana serta kesibukan guru membuat mereka tidak mudah terbiasa walau beberapa kali mereka pernah ke ruang guru. Seorang Ibu guru sedang mengangkat telepon, "Tunggu sebentar ada murid." ia menjauhkan teleponnya dari telinga, "Kalian mencari siapa?" tanya Ibu guru masih memegang telepon. "K-kami bertig-ga dipanggil melalui pengeras suara," ucap Satya dengan nada tergugup. "Oh, begitu silakan ke ruang konseling sebelah kiri, jika ada seseorang tunggulah di kursi yang disediakan." ucap Ibu guru kemudian melanjutkan menelpon, "Baik, silakan lanjutkan, maaf ada sedikit gangguan dari murid," tuturnya tersenyum. Kami bertiga menelusuri ruang guru untuk mencari ruang konseling, "Apa itu tempatnya?" tanya Arlo berjalan menyamping karena sempitnya tempat yang penuh diisi meja. Mereka sudah berada di depan pintu, "Apa kita masuk sekarang?" tanya Asher menatap pintu sambil memperhatikan setiap huruf yang tercantum. "Tunggu sebentar lebih baik kita duduk," ucap Satya. Lima menit menunggu di kursi yang telah disediakan. Tidak lama setelahnya muncul walikelas dari kelas 10E. "Ngapain kamu disini?" tanya ibu Valerie. "A-anu bu, lagi nunggu seseorang didalem," jawab Asher tergugup. Ibu Valerie terdiam, ia segera masuk untuk mengecek ruang konseling. Ia pun kembali keluar dari ruangan. "Tidak ada siapa-siapa di dalam, ayo masuk!" seru bu Valerie. Dag ... dig ... dug ... Ini bukan kali pertama mereka di panggil oleh guru. Tapi, rasanya selalu seperti baru pertama kali karena detak jantung ini tidak mau berhenti berdetak kencang. Mereka bertiga sudah masuk di dalam ruang konseling sedangkan ibu Valerie kembali keluar dari ruangan tersebut untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mejanya. "Satya, aku tahu ini pertanyaan konyol tapi aku ingin tetap mengatakannya. Apa kamu merasa tidak asing dengan suasana ini?" tanya Asher dengan keringat memenuhi area tangannya. "Tentu saja ini tidak asing bagiku, Aku pernah merasakan hal ini saat diruangan isolasi khusus," jawab Satya mengingat kembali. "Aku tidak bisa berkata banyak karena tidak ada yang aku rasakan dengan apa yang kamu rasakan saat ini sebelumnya," balas Arlo dengan wajah tenang walau tergugup seperti dua temannya. Whoosh ... Krieek ... klek ... Ibu Valerie sudah masuk keruangan konseling sambil menutup pintu ruangan rapat-rapat. Ia pun duduk berhadapan dengan ketiga muridnya. "Ekhem, ok kita mulai dari pertanyaan sederhana." ucap bu Valerie, "Apa kalian tau penyebab dipanggil ke ruangan ini?" Mereka bertiga menggelengkan kepala walau sebenarnya sudah tahu penyebab utama di panggil kesini. "Oh jadi kalian tidak tahu? Baiklah akan aku katakan." ujar bu Valerie merenggangkan tubuh hingga lekukan tubuh tercetak jelas di hadapan anak muridnya, "Nilai harian ulangan ujian kalian akhir-akhir ini paling rendah beberapa minggu ini!" serunya dengan kecewa. "Ah, ternyata perkiraanku salah," batin mereka bertiga berbarengan. "Aku tahu dua diantara kalian telah mendapat hukuman pengurangan nilai ..." ucap bu Valerie sedikit memahami perasaan anak didiknya, "Tapi!" seru bu Valerie menggebrak meja, "Salah satu dari kalian masih ada kesempatan masuk 100 besar peringkat. Kenapa kalian tidak berusaha sedikitpun untuk mendapat nilai ujian terbaik?!" Teriaknya dengan nada tinggi. Seketika aktivitas di para guru terhenti sejenak mendengar suara raungan keras berasal dari ruang konseling, beberapa detik setelahnya mereka kembali melanjutkan kegiatan. Dari dalam ruang konseling kembali mencekam, mereka bertiga hanya tertunduk malu karena tekanan aura hebat dari bu Valerie. Ibu Valerie menghela napas panjang, "Hufft, baiklah lakukan sesuka kalian saja. Tapi ingat! Jika kalian sudah membuat keputusan itu dengan bulat." sambil menatap setiap wajah anak didiknya, "Kalian harus berusaha mencapainya dengan hasil maksimal dan jangan pernah menyesal atas keputusan yang diambil, paham?" demikian ucap bu Valerie dengan terpaksa mendukung kegiatan mereka. Satya, Asher dan Arlo menghela napas lega. Mereka pikir, rencana mereka akan berakhir tidak memuaskan. Ternyata tidak mereka merasa di dukung oleh walikelas walau mereka tau bahwa bu Valerie mendukung dengan nada terpaksa. "Tapi jangan senang terlebih dahulu ada hal lain yang akan ibu beritahu." ucap bu Valerie kembali membuat suasana tegang, "Saya menerima laporan dari pegawai pengurus gedung olahraga. Bahwa kalian, terutama Asher dan Arlo membuat keributan dengan Siswa lain dengan menantang duel. Apa itu benar?" selidik bu Valerie memastikan. "Bukan kami! Malah sebaliknya mereka terlebih dahulu yang menantang kami!" seru Asher protes. Ibu Valerie hanya mengusap rambutnya, "Hah, aku sudah mengetahui ini akan terjadi. Aku percaya pada kalian!" demikian ucapnya. "Semudah itu ibu percaya pada kami?!" tanya Satya terkejut. "Sebenarnya aku sudah mengetahui ini dari teman kalian," ujar bu Valerie. "Hah, siapa apa dia wanita?" selidik Asher mulai mengira-ngira. "Bukan, dia laki-laki." jawab bu Valerie, "Sebenarnya masalah ini telah selesai. Usai, pertarungan kalian rampung," sambungnya membuka merogoh sesuatu dari sakunya. "Dia mengaku bernama Dekka Castle dari kelas 10H," tuturnya menunjukkan sebuah foto anak kecil. "Dua anak kecil ini siapa?" tanya Arlo mengambil Foto yang di pegang oleh bu Valerie. "Oh, dua-duanya adalah orang yang kalian kenal saat ini," ucap bu Valerie membuat kami semakin penasaran. Pertanyaan pun muncul dalam pikiran mereka, "Dari mana Ibu mendapat foto ini?" selidik Asher. "Lantas apa tujuan Ibu menunjukkan foto ini pada kami?" selidik Satya memperhatikan foto yang ia pegang saat ini. "Sebenarnya ini semua ada hubungannya dengan salah satu dari kalian," jawab ibu Valerie. "Foto ini ibu dapat sewaktu ibu menjadi anggota tentara pasukan khusus." jawab ibu Valerie, "Kalau tidak salah saat melakukan misi penyelamatan," "Sebentar bu!" seru Satya memotong pembicaraan, "Pembicaraan ibu saat ini sudah keluar jalur, bisakah ibu persingkat saja?" Ibu Valerie hanya menghela napas, "baik, akan ibu persingkat. Satya kamu adalah salah satunya diantara mereka," Sontak mereka berdua terkejut, "Hah?! Satya." Asher dan Arlo memandang Satya, "Apa maksudnya ini?" "Kenapa kamu tidak terkejut?" Asher terheran dengan temannya. "Aku tidak perlu terkejut karena sejak awal aku sudah mengetahuinya," jawab Satya. Satya sedikit menyombongkan dirinya, "Orang tuaku sudah memberitahuku hal ini saat umurku 8 tahun," "Baiklah, mungkin ceritaku cukup sampai sini kalian bisa mendengarnya langsung dari Satya," ujar ibu Valerie. "Jangan bu! Kami ingin mengetahui dari ibu saja, saat ini Satya dalam mode yang membuatku sungkan bertanya padanya," ucap Asher melirik sinis pada Satya. Arlo hanya terdiam saja mendengarkan mereka bertiga saling berdebat. "Hah, kalau begitu akan ibu bicarakan nanti. Ada satu hal lagi yang lupa ibu beritahu." ucap bu Valerie, "Kelompok Arlo terlalu banyak dari data yang aku terima ada lebih dari 20 orang relawan yang mengikuti," sambungnya. "Maksud ibu?" tanya Arlo. "Maksud ibu, kamu harus mengurangi anggotamu." jawab bu Valerie, "Ada 100 orang lebih anggota digabungkan dengan yang kemarin, ibu sarankan kalian bagi menjadi tiga tim. Agar lebih mudah untuk mengaturnya," demikian ucap bu Valerie. "Jangan bicarakan hal rumit itu padaku." balas Arlo, "Semua ini rencana Satya," sambungnya membela diri. "Aku sudah tahu hal itu. Tapi semua tanggung jawab ada di tanganmu," balas bu Valerie. "Baiklah, aku akan menunjuk Asher, Satya dan Dekka," ujar Arlo mengambil keputusan. "Jangan serahkan tanggung jawab ini pada Dekka!" balas Satya menyela pembicaraan. "Kenapa?" tanya Arlo bingung. "Kita belum mengenalnya," jawab Satya. "Kita baru saja mendengarnya tadi dari ibu Valerie bukankah sudah cukup bukti? Dia sudah menyelamatkan kita dari masalah besar," "Aku tahu soal itu. Tapi! Bagaimana jika ia yang dengan sengaja mengadu domba? Dia sangat lihai dalam melakukan hal ini," jawab Satya dengan rasa waspadanya. "Aku sedang tidak ingin berdebat, orang ketiga kita pikirkan nanti," balas Arlo. "Apa ada hal lagi yang ingin kamu bicarakan?" tanya Arlo pada Satya serta Asher. "Tidak ada," jawab Satya dan Asher. "Kalian harus mengganti kerusakan-kerusakan yang terjadi di gedung olahraga." ucap bu Valerie, "Baiklah, ibu masih ada kelas lain yang menunggu," sambung bu Valerie meninggalkan anak didiknya. "Satya, foto tadi bagaimana?" tanya Asher. "Oh itu, sudah aku simpan di saku," jawab Satya menepuk saku yang berada di d**a kirinya. "Sepertinya kita akan telat istirahat makan siang lagi," keluh Arlo yang kini mulai kelaparan. Mereka memutuskan menuju Kantin terlebih dahulu sebelum menuju kelas. *** Pukul 4 sore, hari ini jadwal kami latihan di lapangan. Karena ada beberapa perlengkapan rusak maka kami semua tidak di bolehkan masuk ke dalam gedung olahraga sampai kami sanggup menggantinya. "Aku benci lapangan. Baru melihatnya saja sudah membuatku malas," keluh Satya melihat lapangan yang begitu luas. "Aku juga benci ... ketika kamu mengatakan sesuatu hanya sekali pandang saja." balas Asher, "Orang pemalas harus di paksa terlebih dahulu agar mau mengikuti," sambung Asher mendorong Satya agar mau mengelilingi lapangan. "Eehh! Jangan paksa aku," ucap Satya Pada akhirnya Satya, terpaksa mengikuti keinginan Asher mengelilingi lapangan. Baru saja memutari satu lapangan napas keduanya sudah terengah-engah. "Hei ... aku ingin berhenti sejenak," ucap Satya keringat dingin bercucuran karena kelelahan. "Jangan! Jika lelah turunkan saja ritme berlarinya ini penting untuk kita menambah stamina," tutur Asher mulai menurunkan ritme berlari. Mereka melanjutkan berlari dengan pelan-pelan. "Satya, sampai saat ini aku belum pernah melihat Dekka Castle. Apa kamu yang merencanakanya?" selidik Asher.. "Tidak ... aku tidak merencanakan apapun kali ini, semua ini diluar kehendakku," jawab Satya. Satya dan Asher kini mulai berjalan kaki agar lebih mudah berkomunikasi. "Apa perlu kita cari dia?" tanya Asher. "Sepertinya begitu, kita harus segera menghampiri Dekka," jawab Satya. Hei! ... Hei!" teriak Felicia berlari-lari ke arah Satya, "Lari kalian cepat sekali," sambung Felicia terengah-engah. Satya menengok kebelakang wajahnya langsung memerah saat ia melihat Felicia dengan pakaian olahraga yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Asher melihat reaksi Satya niat jahilnya pun bangkit, "Apa yang kamu lihat?" "Eh, tidak! Aku tidak melihat apa-apa!" jawab Satya tergugup. "Apa ada yang aneh dariku?" tanya Felicia melihat reaksi Satya yang membuat dirinya salah tingkah. Naomi, mendekati mereka bertiga sambil membawakan tiga botol minuman. "Nih, minuman buat kalian bertiga aku yakin pasti kalian bertiga saat ini sedang kehausan," ujar Naomi yang tidak mengikuti sesi latihan. 'Woi, cepet lari lagi!" seru Arlo berlari menuju mereka bertiga diikuti Foxie. "Wah, kebetulan ada mereka berdua," gumam Asher. "Kenapa kalian berhenti?" tanya Arlo. "Kami berencana ke rumah Dekka. Apa kamu mau ikut?" balas Satya. "Saya setuju saja, jika pemilik rumah setuju," balas Arlo. "Tidak! Kita tidak perlu meminta ijin padanya." tutur Satya, "Kita akan memberi dia kejutan dengan mendatangi rumahnya langsung!" seru Satya. "Ide bagus, aku akan mengikuti rencanamu," ucap Asher. Arlo berpikir lama, "Hhmm," "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Satya. "Tidak ada apa-apa. Ok, minggu ini kita kesana," balas Arlo pada semua rekannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN