"Naomi dan Foxie silakan maju," titah bu Valerie.
Mereka berdua pun berdiri dan maju ke arena tanding. Masing-masing dari mereka memberi penghormatan dengan membungkuk setelah itu memasang Kuda-kuda.
"MULAI!" Seru bu Valerie.
Keduanya menyerang bersamaan dengan kaki secara berlawanan. Mereka sama-sama tangguh di awal.
"Kenapa mereka terlihat serius?" tanya Asher pada Satya memperhatikan latihan tanding sebagai penonton.
"Bukannya itu bagus?!" balas Satya, "Wow, lihat itu!" sambung Satya.
Foxie kembali mengunakan tendangan tinggi andalannya. Akan tetapi, gerakan itu berhasil Naomi hindari dengan memajukan tubuhnya terlebih dahulu ke arah samping.
Naomi mengunci leher Foxie dengan Sikutnya dan kaki Naomi menendang kaki Foxie hingga terjatuh tanpa pikir panjang ia memukul wajah Foxie dengan kekuatan penuh akan tetapi berhasil Foxie tahan dengan kedua tangannya, ia langsung memegang pergelangan tangan, kakinya pun ikut bekerja dengan mengunci leher Naomi.
Naomi tidak tinggal diam saja walau ia terkunci. Tangan kirinya yang masih bebas memukul pinggang Foxie beberapa kali.
Guru yang mengawasi langsung pertandingan ini, masih mengganggap aman.
Pernapasan Naomi makin sesak. pikirannya makin kacau selama berkurangnya oksigen dalam tubuh. tangan kirinya kini berusaha menahan cekikan Foxie dan menyerangnya menggunakan kedua kakinya secara bergantian.
Foxie berusaha menekan kebawah tubuh Naomi dengan kuat agar daya serangan Naomi lemah.
"Mau sampai kapan kamu terus melawan ..." ucap Foxie berbisik diiringi napasnya tersengal-sengal.
"Sampai kamu mau menyerahkan Satya untukku," ucap Naomi masih menyerang dengan sekuat tenaganya.
"Ter-ternyata masih kamu bahasa ..." balas Foxie tersenyum, "baiklah akan aku katakan," sambung Foxie.
"Katakan apa?" tanya Naomi penasaran.
"Ini adalah misiku untuk berada terus didekatnya. Jadi diam dan rahasiakan ini,"
"Apa?!" Naomi terkejut kedua lengan ototnya melemah karena terkaget.
"Plak-plak," tangan Naomi menepuk lantai kayu menandakan ia menyerah.
"Akhirnya, aku bisa menang," ucap Foxie terkulai lemas sambil berusaha mengatur napasnya.
"Apa yang baru saja kamu katakan tadi cuma candaan untuk mengalahkanku?" selidik Naomi.
"Entahlah, menurutmu?" balas Foxie enteng.
Mereka berdua berdiri lalu saling memberi hormat kemudian kembali ke barisan masing-masing.
Teman-teman perempuan memuji kehebatan mereka berdua.
"Kamu hebat sekali Naomi gerakanmu begitu gesit," puji temannya.
Dari sisi berlawanan, "Trik apa yang kamu gunakan. Aku pikir kamu akan kalah tadi,"
"Selanjutnya." ucap bu Valerie, "Asher dan Satya," titahnya.
"SATYA! ASHER!" teriakan keras dari seluruh teman perempuan 10C, Kecuali Naomi dan Foxie.
"Ini terlihat seperti sekenario film." ucap Asher, "Kita berdua maju bersama dengan gelar ketampanan saling bertarung memperebutkan sang putri," sambung Asher dengan Khayalannya sambil menuju arena panggung.
"Siapa putri yang kamu maksud?" tanya Satya mengikuti obrolan Asher.
"Tentu saja Naomi," jawab Asher sambil menunjuk wanita yang ia maksud.
Naomi kebingungan saat Asher menunjuk dirinya. Karena ia tidak tau apa yang dia bicarakan sambil berusaha menghindari telunjuk Asher yang mengarah padanya tapi telunjuk Asher tetap mengikuti kemanapun setiap kali berusaha menghindar.
Asher dan Satya saling memberi hormat.
"MULAI!" ucap bu Valerie.
"Baiklah, akan aku mulai dengan seranganku ini!" seru Asher memberi pukulan kuat dengan memfokus titik beratkan pada kepalan tangannya dan mengarahkannya pada Satya.
Satya segera menghindari pukulan kuat Asher dengan wajah santai.
"Kenapa kamu menghindar?! tanya Asher segera membalikkan tubuhnya.
"Karena sakit!" seru Satya.
Asher menghentikan serangannya sementara,"Tentu saja bodoh! Memangnya kamu mengharapkan apa?" ucapnya sedikit kasar.
"Pukulan lembut?!" jawab Satya remeh.
Asher segera menyerang Satya dengan memutar badannya beberapa kali dan menyerang Satya menggunakan Kakinya. Saat hendak menyerang kaki Asher berhenti diantara wajah Satya berdekatan dengan kaki kiri Asher yang hanya berjarak 5cm.
Mereka yang menonton latihan tanding hanya tertegun, tingkah Satya hari ini di luar nalar. Ia dengan sengaja keluar garis arena tanding.
Bu Valerie sebagai guru olahraga hanya bisa menggelengkan kepala.
suara bell berbunyi, "Ting-ting ... ting-ting,"
"Latihan tanding kali ini di menangkan oleh Asher." ujar bu Valerie, "Silakan keluar untuk ganti baju dan hati-hati saat menyebrang," sambung bu Valerie.
***
Satya, Asher, dan Arlo kini berada di ruang ganti siswa bersama teman laki-laki.
"Apa hari ini kita latihan?" tanya Asher sambil berganti pakaiannya.
"Tentu saja," jawab Satya singkat.
"Satya, kenapa setiap kali giliranmu bertanding kamu selalu mengalah?" selidik Asher.
"Aku hanya malas menggerakan tubuhku." jawab Satya sambil menyemprotkan penyegar tubuh, "Kamu mau?" tanya Satya menawarkan.
Asher mengambil dan menyemprotkan ke tubuhnya.Ia memberi pada Arlo setelah Arlo pakai, ia memberikannya pada teman sekelas sampai ujung dan kembali lagi pada Satya.
Ia tidak menyadari penyegar badan miliknya kini tinggal setengah karena sibuk membalas pertanyaan Asher sampai ia menaruhnya kembali ke dalam tas.
Mereka bertiga menuju tempat latihan bersama di dahului Foxie dan Naomi yang sudah sampai ke tempat latihan.
"Satya, apa kamu tahu jadwal latihan kali ini?" tanya Asher.
"Aku pun tidak paham dan kamu salah bertanya yang tahu semua detilnya cuma Arlo saja." jawab Satya, "Apa kamu tahu jadwal kali ini?"
"Oh, sore ini kita latihan berpedang, tongkat dan panah. Semua jenis beladiri ini sangat bermanfaat karena bisa menggunakannya di alam liar," jawab Asher.
Mereka bertiga kini telah sampai di gedung olahraga. Ketika membuka suara pedang saling bersentuhan terdengar di dalam ruangan, "CRIING ... CRING!"
Gedung ini memiliki kursi penonton didalam ruangan yang sanggup menampung 300 siswa. Menggunakan sudut 30 derajat agar memudahkan melihat pertandingan. Tinggi atap sekitar 25 meter tidak ada hiasan apapun di atasnya kecuali beberapa lampu besar yang menempel diantara penyangga atap, jam dinding terletak di depan pintu masuk.
kini anggota mereka bertambah 40 orang total sudah ada 100 orang di dalam ruangan yang sedang berlatih.
Sebagian orang yang sedang menunggu giliran, berlatih tinju tangan kosong dengan memanfaatkan ruangan yang ada.
Ketiganya masuk ke ruang bawah tanah yang disebelah kanannya terdapat vending machine berada di tengah diantara panggung penonton sebelah kiri.
Ada dua ruang ganti pria dan wanita. Ruang ganti memiliki banyak loker tempat penyimpanan barang yang di sesuaikan dengan nomor urut absen.
Saat mereka masuk Asher di kagetkan bekas lawan tandingnya kemarin dengan menyapa ramah pada dirinya. Ketika hendak melepas pakainya.
"Bagaimana kabarmu kawan. Apa kamu sudah baikan?" tanya Asher.
"Aku merasa lebih baik berkat temanmu yang menolongku." jawabnya, "Oh iya, namaku Robin" sembari memberi salam pada ketiganya.
"Apa itu nama aslimu?" tanya Asher.
"Bukan, itu hanya nama panggilan saja," jawab Robin.
Robin hanya memperhatikan gerak-gerik Satya yang terlihat memperhatikan Botol penyegar badan miliknya yang tinggal setengah.
"Eh, apa kalian tau penyebab penyegar badanku tinggal setengah?!" tanya Satya dengan wajah kebingungan sambil menunjukkan botolnya tinggi-tinggi dan sesekali menggoyangkanya.
"Sepertinya, aku tahu penyebab hilangnya sebagian penyegar badanmu itu," jawab Arlo sambil mengangkat tinggi tangannya, "Aku yang membagikan pada semua teman sekelas kita," dengan nada bersalah.
Satya menepuk jidat, "Aku lengah tidak memperhatikannya." Ia menghela napas, "Jangan dipikirkan ini hanya hal sepele,kita harus segera kelapangan mereka menunggu," ajak Satya.
"ATTENTION!" teriak Arlo tegas.
Anggota-anggota yang sedang berlatih seketika berhenti saat mendengar teriakan Arlo.
"Ini sudah satu minggu sejak di buatnya kelompok ini. Aku sangat berterima kasih pada kalian yang telah berpartisipasi terutama pada relawan-relawan yang telah mengorbankan semua tenaganya hanya untuk membimbing dan melatih kami. Sekali lagi terima kasih," ucap Arlo penuh hormat.
Senyum mereka begitu hangat menyambut bersamaan tepuk tangan saling mengiringi membuat gaduh. Setelah itu, mereka kembali fokus berlatih berpedang, tongkat serta panah yang di bagi tiga petak lapangan.
Asher melihat lapangan yang masih muat untuk berlatih, tapi ia bingung karena tidak ada lawan tanding yang sesuai dengan dirinya. Kemudian, pandangannya teralihkan oleh jatuhnya minuman kaleng yang kini tumpah dari arah bangku penonton. Asher melihat sedikit keatas.Ternyata pemiliknya adalah Satya.
"Apa kamu yang menjatuhkan minuman kaleng ini?" tanya Asher memastikan.
"Apa kamu yakin itu aku?" tanya Satya balik.
"Aku yakin itu kamu." jawab Asher, "Sepertinya masih ada ruang untuk kita, apa kamu tertarik bertanding kembali denganku?" tanya Asher pada rekannya.
"Hhmm, Aku sedang tidak ingin menggerakkan badanku. Apa kamu mau membelikan minuman yang tumpah itu?" balas Satya masih duduk di kursi penonton.
"Berapa banyak?" tanya Asher sambil melihat Satya turun dari bangku penonton.
Satya membuka lebar kedua telapak tangannya. Ia kini berada di depan Asher.
"Ok, Sepuluh buah minuman kaleng," ucap Asher sepakat dengan wajah serius sambil menawarkan jabat tangannya.
"Bukan itu, aku hanya melihat-lihat kedua tanganku sebelum bertanding," ujar Satya dengan wajah datarnya.
"Maksudmu?!" Asher kini mulai geram atas tingkah laku Satya.
Satya menunjuk vending machine yang berada didekat pintu ruangan bawah tanah.
"Semua?!" tanya Asher seraya terkejut.
Satya mengangguk, "Apa kamu setuju?" demikian ujarnya.
"Ok, aku setuju," jawab Asher menawarkan jabat tangannya.
Satya pun menerima jabat tangannya, "Aku setuju,"
Asher menuju lapangan dan mengambil dua bilah pedang besi mata tumpul yang berada di keranjang dorong lalu ia lemparkan pada Satya.
Satya mendahului Asher menuju lapangan, "Apa kamu sudah siap?" demikian ujar Satya.
"Aku sudah siap kapanpun," balas Asher menyeringai penuh semangat.
Mereka berdua mempersiapkan diri memasang ancang-ancang, "Hyaatt!" teriak mereka berbarengan.
"Cring ... Kriieett!" Asher mengadu pedangnya dengan keras hingga menimbulkan bunyi serta gesekan nyaring mengganggu telinga. Mereka saling menahan satu sama lain.
Satya tahu diri bahwa ia jarang berolahraga dan dengan stamina yang sedikit tersebut. Ia mengalah dengan menarik mundur pedangnya ke belakang dan secepat mungkin mundur mengatur jarak.
Asher tersenyum sinis, "Kenapa kamu menjauh?"
"Aku takut berhadapan denganmu," jawab Satya mengatur napasnya pelan-pelan.
"Pengecut!" Teriak Asher yang kini mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil memegang erat pedangnya selanjutnya ia mengayunkan cepat kesamping kiri dengan kecepatan penuh.
Satya mengarahkan ujung pedangnya kebawah menyamping pada dekat pinggangnya, "Kamu sudah gila?! Hampir saja tadi kamu memotongku,"
"Apa kamu yakin itu aku?" ucap Asher melempar ucapan Satya padanya.
Satya langsung menendang d**a Asher yang hanya berjarak kurang dari satu meter, Asher pun terdorong kebelakang.
"Kenapa kamu menendangku?!" ujar Asher terkejut sembari mengelus dadanya.
"Aku tidak pernah mendengar adanya larangan menendangmu," balas Satya menyeringai.
"Saatnya serius!" seru Asher bangkit.
Ia kembali mengayun-ayunkan pedangnya segala arah agar tidak bisa menebak arah serangan. Asher memulai serangan dari arah samping kanan dengan serangan tersebut nyaris membuat Satya terkena ayunan pedangnya dan tak sempat menahan dengan pedang yang di genggam.
Asher masih dengan mengayunkan pedangnya segala arah. Kini ia mengincar bagian atas kepala Satya, kali ini Satya berhasil menangkis serangan pedangnya tapi ternyata Ia terkecoh, tendangan keras kearah depan berhasil Asher Lancarkan.
Satya kini terlihat kewalahan. Ia terlihat sedikit demi sedikit terpukul mundur.
"BRUAKK!" pintu keluar gedung olah raga di dobrak keras oleh orang luar.
Semua anggota terkejut mendengar suara hantaman keras pintu, kegiatan mereka terhenti.
"Dimana pemimpin kelompok ini?!" teriaknya Arogan dengan membawa kelompok besar.
"Baru saja aku mengalami hal seru tadi." ujar Asher dengan nada kecewa sambil mendekat ke arah sumber suara, "Ada urusan apa kamu datang kesini?"
"Aku tidak punya urusan denganmu." ujarnya angkuh, "Cepat panggil bosmu!" teriaknya arogan.
Satya datang sambil membawa minuman bersoda, "Apa kamu mau?!" ucapnya menawari minuman, "Ada ribut apa?" selidik Satya sembari meneguk beberapa kali minuman.
Asher menerima tawaran minumannya, "Aku tidak tau. Dia tidak menjawab sedikitpun pertanyaanku tentang tujuannya,"
"Oh, begitu." balas Satya singkat sambil mengadahkan tangannya,"50 cent," sambung Satya.
Asher melirik ke arah Satya, "Hah! Aku kira gratis," ia pun merogoh uang sakunya dan memberikannya pada Satya.
"Ok sudah aku terima." ucap Satya, "Aku beri dua saran, kamu tantang dia dan buat dia jengkel lalu rebut haknya sebagai ketua. Simple bukan?" tutur Satya menasehati.
"Terlihat mudah jika diucapkan. Apa kamu mau mencobanya?" ujar Asher menantang Satya.
"Aku tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian. Karena alasan tersebut aku berhenti menjadi anak emas dalam bidang kedokteran," tutur Satya.
"Ya sudah, biar aku yang mengahadapinya tugasmu memastikan rencana ini berhasil dengan sempurna," tutur Asher menepuk bahu Satya selanjutnya ia maju kedepan menghadap tamu tidak diundang.
"Akan aku katakan sekali lagi, ada urusan apa kamu dengan ketua?!" ucap Asher dengan nada tinggi.
"Katakan pada bosmu, aku kemari ingin merebut tempat ini untuk berlatih," ujarnya.
"Bukannya sudah di tentukan jadwalnya?! Kenapa masih merebut hak kelompok lain?" ujar Asher kebingungan.
"Ahh, aku tidak peduli dengan pendapatmu. Cepat panggil bosmu kemari aku ingin menantangnya!" teriaknya makin garang membuat kelompok Arlo geram.
"Jika ingin melawannya, lawanlah aku terlebih dahulu. Aku anggota disini. Jika berhasil menang dariku kamu bisa menantang sang Bos," ujar Asher bernegosiasi.
"Ok baiklah, jika begitu aturannya akan aku juga akan menunjuk satu anggota untuk melawanmu." ujar Pria arogan, "Bee cepat kedepan,"
Orang yang ia panggil muncul dari balik kerumunan anggotanya. Ia terlihat kurus dan memakai kacamata membuatnya makin tidak enak di pandang mata. Tatapannya terlihat kosong, seperti habis menghirup barang terlarang.
Pria tersebut langsung merangkul orang itu, "Lihat dia adalah calon lawan tandingmu perhatikan baik-baik." dia terlihat merogoh saku kirinya dan memberikan kepada Pria culun, "Semuanya cepat minggir! Kalian bisa menonton dari atas bangku itu," teriaknya keras.
Pria arogan itu menyeringai, "Sebaiknya kamu berdoa agar masih tetap bisa berdiri tegak sampai akhir." sembari tertawa geli, "Aku sarankan kamu menggunakan semua lapangan ini untuk bertanding agar kamu bisa berlarian di kejar olehnya," ujarnya tertawa makin keras.
"Terserah apa katamu. Aku ingin ini segera selesai dan melanjutkan pertandinganku yang tertunda," balas Asher remeh,"