CHAPTER 05

1953 Kata
Seusai hari menghebohkan tersebut. Sekolah kembali seperti biasa walaupun. Kakak kelas yang membuat keonaran itu akhirnya diskors selama 7 hari karena membuat keributan pada jam pelajaran dan membuat seseorang terluka. Sedangkan, Asher di skors 3 hari karena memprovokasi. "Aku merasa bersalah karena kejadian yang menimpa Asher. Betapa pecundangnya aku, hanya karena beberapa kali pukul langsung tersungkur." Pikir Satya dalam hati. "Jangan terlalu membebankan diri pada hal yang tak perlu yang terjadi biarlah terjadi," ucap Arlo berusaha menenangkan "benar apa kata Arlo, kita fokuskan saja ke pelajaran saat ini," ucap Naomi ikut menenangkan. "Oh iya, kenapa kita tidak menjenguk ke rumah Asher saja," sahut Arlo dengan idenya. "Iya nih, yukk ke rumah Asher!" seru Naomi mulai membangkitkan semangat. "Kalian tahu rumahnya Asher?" tanya Satya ke mereka berdua. "Ahh, tenang saja kita tanya wali kelas saja. Sebelumnya pasti kita pernah mendata alamat rumah kita bukan?." ujar Arlo dengan ide cemerlangnya. "Setuju!" seru Naomi sambil tersenyum kearah Satya. "Di jam makan siang kita harus segera menuju ruang guru," sahut Arlo. Di sisi lain, Foxie tidak tahu apa yang terjadi kemarin. Foxie memutuskan ijin untuk pulang karena Nyeri Haid yang dialaminya. "Foxie, sayang sekali kemarin kamu ijin untuk pulang," "Memangnya ada apa?" Tanya foxie. "Orang yang kamu suka itu, di hajar kakak kelas!" seru teman sebangku yang berada disebelah kanan. "Kok bisa?!" tanya Foxie dengan nada terkejut. "Yang aku dengar, salah satu pacar kakak kelas tersebut minta putus alasannya hanya suka Satya. Setelah di jam terakhir kakak kelas itu menghampiri kelas ini kemudian menghajar Satya sampai tersungkur hingga pingsan dilantai untung saja ada Naomi dan Asher yang menolong Satya." ucap kawannya "Aku dengar dari kelas lain, saat berada UKS selama Satya pingsan Naomi berada disana menunggu satya hingga siuman," sambung teman sekelasnya memanas-manasi Foxie. "Oh begitu, katanya tidak suka," pikirnya dalam hati sambil melirik Naomi dari kejauhan. Sekarang sudah jam makan siang, kami bertiga memutuskan pergi ke ruang guru. Tok ...Tok ...Tok ... "Silahkan masuk," Semua guru terlihat sangat sibuk, mengurus tugas "Permisi pak, ibu Valerie dimana ya?" tanya Naomi, "Oh, ibu Valerie sedang bikin kopi, tunggu saja disini," "Makasih pak," ucap Satya. Setelah menunggu 5 menit bu Valerie belum juga datang, membuat jam istirahat kami tersisa 10 menit. "Ahh, itu dia bu Valerie," ujar Naomi berjalan mendekat ke arah bu Valerie. Disusul kami berdua dari belakang "Ada keperluan apa kemari?" tanya ibu Valerie ketika melihat kami bertiga. "Ini buu, kami ingin melihat alamat rumah Asher," jawab kami serentak. "Oh begitu. Ehmm, ibu taruh mana ya bukunya," ucap ibu Valerie memegang kopi sembari mencari buku data siswa. "Ahh Ini dia, ibu sebenarnya sudah tahu kalian berniat menjenguk Asher," ibu valerie memberi buku kepada Naomi. "Bu, kenapa masih memakai buku tulis?" tanya Satya melihat buku tersebut. "Cuma alasan kenyamanan saja," jawab bu Valerie singkat. "Oh, ternyata benar yang dikatakan ibu guru dan siswi disini kamu terlihat sangat tampan. Ibu masih single apa kamu tertarik dengan ibu?" ujar bu Valerie memuji dan sedikit merayu sembari memegang wajah tampan Satya. "Ekhem, Percintaan murid dengan guru dilarang disini."Nada cemburu Naomi sambil melirik tajam bu Valerie "Aku yang memotong rambutnya hingga terlihat sangat tampan, jadi dia milikku!." Sambungnya dengan tegas. "Ooh jadi begitu, apa kamu sudah pernah melakukannya?" bisik bu Valerie ke telinga Naomi. "Be...be...bee.. Ahh apaan sih. Ibu enggak sopan!!." ucapnya sedikit jengkel dengan muka memerah lalu bergegas keluar dari ruang guru dengan tergesa-gesa. Sedangkan kami berdua memperhatikan tingkah Naomi pergi tergesa-gesa kemudian melirik bu Valerie dengan senyum nakal. "Apa yang ibu bisikkan tadi?" tanya Satya penasaran. "Kamu ingin tau?" Balas bu Valerie dengan nada nakal. "Satya, sebaiknya jangan di lanjutkan ini urusan perempuan," ucapnya memperingatkan Arlo sedikit memahami maksud ibu Valerie. "Oh begitu. Ga jadi bu makasih, kami permisi dulu." balas Satya sembari menuju pintu keluar diikuti Arlo. ^^^^ "Sebenarnya, apa yang sedang dibicarakan bu Valerie dengan Naomi yah?" pikir Satya dalam hati sambil berjalan menelusuri lorong menuju kelas. "Sebaiknya, Apa yang kamu pikirkan saat ini di buang jauh-jauh," ujar Arlo memahami apa yang dipikirkan Satya. "Hhmm, tetap saja aku penasaran." ujar Satya. "biar kamu merasakan sendiri akibatnya. Silahkan tanya Naomi." balasnya membiarkan keputusan Satya. "Wah, ide bagus," sahut Satya menyetujui ide Arlo. "Tapi Naomi pergi kemana ya?" sambung Satya. "Dia pasti di sekolah," ujarnya. "kenapa kamu tau?" Balas Satya "Feelingku tak pernah salah beberapa kali ini," ujar Arlo sembari berjalan melewati lorong sekolah. "Aku percaya!" seru Satya tegas. Setelah sampai kelas, Satya melihatnya sedang meringkup seperti sedang tidur di meja. "Gacha, aku melihatnya tapi kenapa dia tidur ya?" pikir Satya dalam hati sambil mendekati Naomi. "Naomi ... Naomi ..." sembari menepuk punggung tangannya. "Apa!" balasnya menggebrak meja. "Anu, Aku penasaran apa yang bu Valerie bisikkan padamu?" Tanyaku penasaran. "PLAKK..." suara tamparan Naomi ke Satya, untung saja Kelas dalam keadaan sepi. "Ahhh, Pokoknya jangan tanya lagi kepadaku."Jawabnya dengan muka memerah ketika mengingat pembicaraan itu. "Bagaimana rasanya?" tanya Arlo dengan muka puas sambil duduk di meja. "Julukan si Genius bodoh memang paling cocok untukmu" sambungnya masih tertawa. Satya hanya tersenyum malu mendengar kalimat itu. "Aku lupa melihat alamatAsher," sambungku. "A-Aku ingat kok setelah pulang sekolah kita kesana," balas Naomi sedikit memerah pipinya karena malu. "Ta-tapi ingat! Jangan bahas itu lagi ya," sambungnya tersendat-sendat. "Ok..Syukurlah," balas Satya. Ting ... ting ...ting ... "Ahh... Sial bel telah berbunyi tapi aku belum makan siang," rengek Arlo menepuk-nepuk perut. "Tahanlah sebentar. Nanti ke kantin saat pelajaran di mulai 30 menit, kita ijin alasannya pergi ke kamar mandi," tutur Satya dengan ide mencuat begitu saja. "Kamu mau pesan tidak? nanti aku bawa ke kelas," sambung Satya menatap mata Naomi. "Roti kacang merah," jawabnya singkat. "Baiklah roti siap dikirim dalam 30 menit," balas Satya sambil membungkuk seperti pelayan restoran elit. "Cepet ke tempat masing-masing teman kelas kita sudah kemari?" ujar Arlo mempringatkan. Kami segera duduk ketempat masing-masing agar orang lain tidak terlalu curiga. Akan tetapi, cara tersebut tidak ampuh pada Foxie ketika memperhatikan mereka bertiga terutama Naomi yang dianggapnya adalah saingan berat. Kemudian, Guru masuk untuk memulai pelajaran. Dua jam pelajaran terlewati sekarang pukul 3 sore. Bell pulang telah berbunyi para siswa bergegas merapikan barang-barang lalu pulang. "Pelajaran hari ini sangat berat, menurutku, Pak guru itu selalu menunjukku maju dengan soal-soal sulit," rengek Satya kesal karena tingkah Pak guru terlihat sangat aneh. "Tapi menurutku dia terlihat menaruh dendam padamu. Aku bisa merasakannya," ujarnya mengandalkan perasaan yang selalu di banggakannya hari ini. Kami bertiga hampir di gerbang sekolah. Akan tetapi, Satya melihat Foxie dari kejauhan. Jadi ia memutuskan pura-pura tidak melihatnya sambil menundukkan kepala. "Satya!" teriak Foxie mendekatinya sambil berlari. "Sial ... Sial ... Sial ... dia mendekatiku," Pikir Satya dalam hati sembari mempercepat langkah. "Mau kemana Satya," ujar Foxie sambil memegang lengannya. "Mm ... mau jenguk Asher ..." ucap Satya terbata-bata. "Ikut dong!" rayu Foxie sambil memeluk erat lengan Satya. Naomi hanya melirik tajam ke arah Foxie yang memeluk erat lengan Satya. "Ikut aja yuk!" ujar Naomi mengerutkan dahi sembari mendahului mereka berdua. Kemudian, menginjak kaki Satya dengan keras. "Ouch... apa yang kamu lakukan?" Rengek Satya karena kesakitan. "Kamu menginjak ranjau darat kawanku!" seru Arlo sembari melewati Satya dan Foxie. "Ayuk kita jalan," ajak Foxie sembari memeluk erat lengan Satya. Kami memutuskan menjenguk Asher menggunakan bus umum. "Apa benar ini alamatnya?" ucapnya memastikan alamat sembari melihat gedung menjulang tinggi. "Aku rasa ini benar" jawab Naomi sembari menaikkan dagunya keatas. "Lantai berapa?" tanya Satya sembari melihat keatas gedung. "lantai 65," jawab Naomi. "Oh begitu, ayo ke atas sana," balas Satya bergegas masuk gedung. "Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Sapa Pelayan penerima tamu. "Mhmm, Aku mencari Nama Asher Carrington," jawab Satya. "Sebentar ya, tuan akan saya cari namanya!" Balas Pelayan tersebut sembari mencari nama. "Ada tuan, saya ulangi lagi apa benar namanya Asher Carrington?" Tanya pelayan memastikan nama yang dicari. "Oh, benar!" Sahut Arlo. "Baik, Tuan Arlo ada di lantai 65 nomor 5832A pintu menghadap barat," ucap Pelayan menjelaskan rinci. "Terima kasih," Seusai itu, kami bergegas menuju Lift. Selanjutnya masuk ke dalam lift. "Terlalu banyak nomor Apa kamu ingat?" tanya Arlo. "kenapa tanya aku? aku kira kamu ingat," jawabku kemudian aku melirik Naomi. "Oh, kenapa melihatku?" tanya Naomi. "Ehmm, aku pikir kamu ingat." jawab Satya sambil tersenyum kaku. "Aku tidak ingat " ujarnya Jengkel. "Kenapa kalian tidak tanya padaku?" tanya Foxie memegang erat tangan Satya, "Asher Carrington lantai 65, Nomor 5832A pintu menghadap barat," sambungnya menjelaskan secara rinci. "Aku kira kamu bodoh," ucap Naomi dengan Nada kasar. "Ha! Aku tidak bodoh dasar payah," balas Foxie kasar. Ting ... ssshh ... Pintu lift terbuka. Kami keluar kemudian mencari lift tersebut dengan seksama. "Nomornya terlalu banyak, aku bingung," Rengek Arlo. "Nomornya terlihat sama tapi acak," Ucap Naomi. "Ahh ketemu. Apa benar ini nomornya?" ucap Satya sembari menunjuk pintu nomor. Treeett ...Treeet ... Naomi segera memencet bell, "Kelihatannya benar, Coba aku tekan Bellnya," demikian ucap Naomi. Tap ... tap ... tap ... Suara langkah kaki terdengar jelas sedang mendekati pintu. "Kenapa kalian disini?!" ujar Asher mengintip dari kamera pintu, kemudian membuka, "Silahkan masuk," sambungnya "Permisi," ucap kami berbarengan. "Wah, Rumahmu penuh dengan Senjata klasik disini," ujar Arlo. "Wah Aku kenal itu, kalau tidak salah itu pistol Pyhton Revolver keren sekali," puji Arlo. "Iya, Keluargaku pengoleksi senjata Klasik pada perang dunia satu dan dua. Itu sebabnya kami menjadi pengusaha senjata terbesar yang berlisensi," ucap Asher dengan bangga. "Silahkan duduk," pinta Asher mempersilahkan. "Bi, tolong ambilin jus buah dong di lemari Es!" pinta Asher. "Iya bentar tuan, bibi lagi naruh cucian," balas bibi. "Sepertinya kita punya anggota baru nih," lirik Asher sambil melihat tangan Satya berpegangan tangan. "Pacar kamu ya? Mesra amat," ucap Asher meledek. "engg ... belum ... kami belum pacaran," Jawab Satya gugup. "Oh begitu," balas Asher sembari melirik Naomi. "Pegangan tangan aja sombong," dengus Naomi jengkel. "Lah terus emangnya kenapa, Iri ya?" balas Foxie kembali memeluk erat lengan Satya. "Udah jangan ribut terus," ujar Arlo kesal. "Kita sedang bertamu saat ini," dengus Arlo Jengkel. "Tak apalah, anggap saja rumah sendiri," balas Asher. "Asher saja tidak melarangku, kenapa kamu melarangku?" ledek Foxie yang masih memeluk erat lengan Satya. "Jadi, mmm ... bagaimana perasaanmu setelah diskors selama tiga hari?" tanya Arlo. "Mmm... Bagaimana perasaanku? Mungkin merasa senang karena apa yang aku inginkan terwujud yaitu, mengikuti FK16," jawab Asher. Ketika mendengar kalimat itu dari Asher, Satya merasa bersalah. "Maafkan aku, mungkin ini adalah salahku," sesal Satya. "Tidak, ini bukan salahmu. Ini karena keinginanku sendiri, tidak usah merasa bersalah kawanku." ujar Asher menenangkan Satya. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengikuti FK16 untuk melindungimu," janji Satya. "Apa kamu sudah gila? Cukup aku saja," ujar Asher mencoba menghentikan Satya. "Iya benar, cukup Asher saja yang gila kamu jangan," Celoteh Foxie. "Iya benar, cukup Asher saja yang gila," sahut Naomi mengikuti pembicaraan. "Apa kamu yakin ingin mengikuti F.K16?" tanya Arlo serius. "Iya, aku serius akan mengikuti FK16 untuk melindungi Asher," jawab Satya sembari menatap Arlo tajam. "Hmm ... Baiklah, jika kamu mengikuti FK16 aku akan ikut," balas Arlo. "Apa kalian benar-benar gila?!" ujar Naomi mendengus kesal, "Mmm... Asher, bukannya kau hanya diskors selama tiga hari. Mengapa kau bisa mengikuti FK16?" sambung Naomi berpikir jernih. "Bukankah kau tau, sekolah kita adalah sekolah elite. Apapun keonaran yang kita perbuat berujung kekerasan, maka murid yang terlibat harus mengikuti FK16," jawab Asher tenang. "Nah, jadi. Siapa yang akan mengikuti FK16?" sambung Asher. "Kami berempat yang akan mengikuti. Naomi, apa kau akan ikut?" ujar Arlo sembari bertanya kepada Naomi. "Pas ... aku tidak akan mengikuti kalian, permisi!" Jawab Naomi melenggang keluar menuju kamar mandi. "Asher, kamar mandi dimana?" sambung Naomi. "Oh, di ujung sana belok kiri," Jawab Asher. Ketika ditengah pembicaraan, si Bibi datang membawa jus buah yang dipesan Asher untuk teman-temannya. "Ini jusnya tuan, silahkan diminum," ucap Bibi sambil menaruh minuman di meja. "Terima kasih, Bibi," ucap Satya pada Bibi. "Terima kasih," ucap Foxie. "Sama-sama, tuan dan nona," sahut Bibi sembari tersenyum. Seusai itu mereka memutuskan melanjutkan pembahasan pada keesokan harinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN