Bab 9

1123 Kata
NURA "Soal Mas Ari dapat uang itu darimana, Bibi tanya sendiri saja deh sama Mas Ari," jawabku agak kesal. ya habisnya untuk apa juga Bibi Anis mau tahu soal asal uang itu. Menurutku tidak penting untuk diketahui olehnya yang tidak ada hubungan apa-apa dengan Mas Ari. "Kamu beneran tidak tau uang itu asalnya dari mana?" Bibi Anis jelas terlihat tidak puas dengan jawabanku. Aku pun memilih diam daripada salah bicara. Karena belum tentu Mas Ari mengizinkanku memberitahu pada Bibi Anis atau siapa pun kalau asal uang itu dari sawahnya yang digarap orang di kampung. "Tidak penting bagiku banyak tanya, Bi." Akhirnya aku menjawab begitu. "Yang penting bagiku adalah Mas Ari adalah suami bertanggung jawab. Cukup." "Tentu saja penting. Istri harus tau semua uang suami asalnya darimana. Kalau kamu diam saja dan tidak peduli begitu, suami bisa bebas. Memangnya kamu mau kalau Ari mendapatkan uang itu dari mencuri, merampok, atau berjualan narkoba." "Astagfirullah, bi. Tolong jangan berprasangka seburuk itu. Aku yakin Mas Ari itu pria yang baik, jujur, dan mencari rezeki dengan cara halal. "Makanya kamu harus tau sumber penghasilannya." "Tidak aku jawab pun bibi akan tau jawabannya. Mas Ari dapat uang sehari-harinya dari kuli angkut di pasar kan bi?" "Ya itu kan yang sehari-hari. Yang dua juta kemarin itu lho, Nur. Kalau kamu tidak tau, penting bagi kamu untuk mencari tahu sampai tau." Aku menipiskan bibir. Capek sekali melayani pertanyaan wanita ini. Menuduh Mas Ari dapat uang dari cara yang tidak halal lagi. Memang asem nih orang! "Banyak kok suami yang tidak jujur pada istri tentang pekerjaan mereka," lanjut Bibi Anis. "Apalagi kalau istrinya banyak maunya. Ya terpaksa suami jadi terlibat dengan pekerjaan haram. Sudah kamu jangan kebanyakan gaya sampai memaksa suami kamu buat dapati banyak uang untuk mengabulkan maunya kamu yang tidak sesuai dengan pendapatan suami kamu sebagai kuli panggul di pasar. Takutnya nanti dia nekad." Aku mendengkus kesal. Tadi menuduh Mas Ari mendapat uang dengan cara tidak halal. Sekarang menuduh aku banyak gaya. Gaya yang mana coba yang bisa disebut banyak? Aktivitasku masih sama dari sebelum menikah dengan Mas Ari. Bangun tidur sholat, masak, beres-beres rumah, mandi, dan buka warung. Itu pun dengan penampilan yang selalu sama. Pakai daster, Jilbab instan, dan sandal jepit. Kalau yang disebut banyak tingkah itu Sinta anaknya sendiri, baru cocok. Soalnya Sinta sampai menggadaikan SK PNS-nya ke bank hanya agar terlihat seperti seorang selegram untuk menyaingi temannya itu yang sudah lebih dulu jadi selegram terkenal. Sinta membeli mobil, hp I-Phone, lap top Apple, tas branded dan barang mewah lainnya dari hasil ngutang. Tak peduli dia menerima gaji minus setiap bulannya gara-gara itu. "Tenang saja, bi. Sampai saat ini aku tidak tau nama-nama barang branded, tidak minta dibelikan perhiasan oleh Mas Ari, dan tidak minta diganti ponsel dengan yang baru. Jadi bibi tidak perlu khawatir ya," lanjutku kemudian. "Nah, sekarang bibi lebih baik pulang untuk bersiap-siap sholat Maghrib. Tidak baik maghrib-maghrib keluyuran di luar. Bibi pasti tau kalau Maghrib adalah waktunya para makhluk halus berkeliaran di luar." Ingin sekali aku meneruskan 'kalau di waktu Maghrib bibi belum sampai di rumah atau masih keluyuran di luar, berarti bibi termasuk ke dalam golongan makhluk halus yang aku katakan tadi'. *** Kami menikmati makan malam di meja makan tua kami. Lauknya sih sederhana. Hanya tumis kangkung, goreng tempe, dan sambal bawang. Tapi entah mengapa rasanya itu nikmat sekali. Mas Ari sampai tambah dua kali. "Kamu tau apa yang membuatku tambah sayang kepadamu, Nur?" tanyanya sesaat setelah dia selesai makan. "Apa?" tanyaku balik. "Masakan kamu itu lezat sekali. Kalau begini terus, aku bisa jadi gemuk. Ini saja sudah naik lima kilo." "Baru lima kilo mas. Belum sepuluh kilo." "Jadi kamu memang berharap aku jadi gemuk?" "Kata orang kalau badan jadi gemuk setelah menikah itu tandanya bahagia. Jadi kalau Mas jadi gemuk setelah menikah, orang akan berpendapat kalau aku adalah istri yang membahagiakan suami. Bagus kan?" Bola mata Mas Ari bergerak ke atas. "Iya juga sih. Jangan-jangan aku tambah berat lima kilo bukan karena banyak makan melainkan karena bahagia jadi suami kamu." Mas Ari menyentuh tanganku. "Terima kasih istriku. Kamu telah membuatku bahagia." Kami berdua pun tertawa lepas dengan gombalan itu. Yang tidak hanya ibu. Beliau hanya melirik kami dengan kening mengerut. Ibuku ini memang tipe yang sangat kaku. Jarang tersenyum dan wajahnya sering terlihat serius. Tapi aku tahu hatinya baik. Maka aku memilih untuk tidak bercanda lagi dan membereskan piring dan gelas di atas meja. "Nur, Bu...." Tiba-tiba Mas Ari menyebut nama aku dan ibu. Otomatis aku dan ibu pun menoleh padanya. Dan tanganku yang sibuk beres-beres berhenti bergerak. "Ya?" jawabku. "Di hari pernikahan Sinta nanti mau ya di make up?" Aku menoleh pada ibu yang tampak serius menatap Mas Ari. Sepertinya ada pertanyaan yang tersimpan di benak ibu. "Make up itu apa?" Tuh benar kan? Barusan ibu bertanya. "Make up itu dirias wajahnya, Bu," jawab Mas Ari. "Ibu tidak bisa merias wajah, Ri. Ibu tidak pernah berhias," protes ibu. "Nanti malah seperti barongsai." "Ya tidak dong, bu. Yang merias bukan tangan ibu sendiri tapi MUA." "MUA itu apa?" Semakin dijelaskan ibu semakin memiliki banyak pertanyaan. "MUA itu tukang rias, Bu. Insyallah nanti aku carikan orang yang sangat ahli sehingga ibu dan Nura tampak berbeda di hari pernikahan Sinta. Manglingi kalau orang bilang." "Memangnya kalau tidak dirias kenapa?" tanya ibu lagi yang lebih cocok sebagai protes. "Ibu kan sudah tua. Mau dirias seperti apa pun tidak akan berubah cantik." "Siapa bilang ibu sudah tua? Umur ibu belum tua kalau ibu tidak menuakan diri sendiri terus. Kalau di klinik kecantikan, umur seperti ibu banyak melakukan perawatan." Ibu diam. Kini tangannya ikut membereskan piring yang kotor. "Mau ya Bu? Nanti MUAnya yang datang ke sini. Jadi tidak perlu ke salon. Percaya padaku, ibu akan berubah cantik dan terlihat lebih muda." Ibu masih diam. Jelas dia sedang berpikir. Mas Ari melirikku. Lalu dengan gerakan matanya dia meminta aku merayu ibu agar mau di make up di hari pernikahan Sinta. Aku yang mengerti bahasa isyaratnya langsung mengangguk. "Iya, Bu. Mau ya dirias? Soalnya kalau tidak dirias, Bibi Anis dan keluarga kita yang lain akan menghina kita karena melihat wajah kita kusam. Apalagi baju kita sudah bagus. Jadi wajah pun harus disesuaikan. Jangan sampai deh wajah dan apa yang kita kenakan jomplang." Ibu menghela nafas berat. "Iya iya. Terserah kalian saja. Ibu menurut saja. Tapi ingat, jangan membuat ibu malah jadi seperti badut ya?" Aku dan Mas Ari terlonjak girang mendengar jawaban ibu. Senang bukan main. Walaupun aku sendiri masih bingung dengan keputusan mendadak Mas Ari untuk memakai jasa MUA. Setahuku MUA yang riasannya bagus, bayarannya tidak murah. Hampir sama dengan MUA yang merias seorang pengantin. "Ibu tenang saja. MUA pilihanku nanti tidak akan mengecewakan. Dijamin ibu dan Nura akan puas. Dan mereka, Bibi Anis, Sinta, serta yang lainnya pasti akan terpesona pada kalian berdua." Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN