Dua hari kemudian, Bibi Anis buat pengumuman di grup keluarga kalau besok harus berkumpul di rumahnya dengan agenda membicarakan bantuan semua anggota keluarga besar untuk acara pernikahan Sinta. Jadi ini ceritanya semua wajib datang. Tak terkecuali keluargaku.
"Apa ibu harus datang juga besok?" tanya Ibu entah pada siapa. Setelahnya dia menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Kalau ibu memang bisa datang, malah bagus, Bu," jawabku lembut. "Bagaimana pun buruknya Bibi Anis selamanya akan tetap menjadi adik ibu karena kalian sedarah."
"Bibimu itu mudah sekali meminta apa-apa sama orang lain. Bukan hanya meminta uang, tapi juga bantuan tenaga. Tapi dia sendiri sulit sekali menolong orang. Kamu ingat waktu kamu dan Ari menikah, tidak serupiah pun dia memberi uang pada ibu atau juga kamu. Alasannya karena pernikahan kamu tidak dirayakan. Padahal dia tau kalau ibu mengadakan pengajian malamnya. Meskipun hanya pengajian tapi kan pakai uang juga. Harusnya dia mengerti. Memberi amplop meskipun hanya isi lima puluh ribu rupiah."
Aku menghela nafas berat. Pernah dengar orangtua yang sudah uzur, jadi seperti anak kecil kembali. Sepertinya itu ada benarnya juga. Karena sejak usia ibu melewati 50 tahun, ibu jadi mudah tersinggung dan sulit mengontrol emosi.
Tapi aku akui kalau ucapkan ibu benar.
Atau sikap ibu jadi seperti sekarang dikarenakan adik-adik dan keponakannya, sering menyepelekan dia sekeluarga. Dan aku adalah yang paling sering dianggap tidak punya perasaan.
"Kalau perasaan ibu tidak sedang baik-baik saja, ibu tidak perlu datang. Biar aku sama Mas Ari yang datang," ucapku kemudian. Tentu aku tidak bisa memaksa ibu bukan?
"Ya sudah. Ibu tidak datang saja. Kalian berdua saja yang datang. Ibu jaga warung saja." Ibu langsung membuat keputusan.
"Iya, Bu. Tapi jangan dipaksakan. Kalau ibu merasa lelah, langsung dibawa istirahat ke kamar," sahutku. Kesehatan ibu lebih penting dari warung.
Maka besoknya aku dan Mas Ari datang ke rumah Bibi Anis. Saat kami tiba, semua keluar sudah berkumpul semua. Jadi bisa dikatakan kami adalah keluarga terakhir yang datang.
"Hm... akhirnya Tuan Putri Nura datang juga." Sinta langsung komentar. "Kamu tau tidak sih, dari tadi kami menunggu kamu lho? Yang kerja kantoran saja, bisa datang lebih awal. Eh, yang hanya cari uang receh di warung kecil datang terlambat. Sangat tidak menghargai waktu. Pantas jadi orang kere. Sudah hidup susah berjodoh dengan orang susah lagi. Takdir memang kejam ya?"
Semua orang tertawa mendengar ucapan Sinta seolah yang dikatakannya tadi adalah lelucon. Kadang aku berpikir mereka ini keluargaku apa bukan sih? Kok bisa sama keluarga sendiri menghina seperti itu?
Aku merasa genggaman tangan Mas Ari mengencang, membuat pergelangan tanganku sedikit merasa perih. Aku menoleh dan mendapati rahang Mas Ari mengencang yang menandakan kalau dia emosi mendengar perkataan Sinta.
Tak mau membuat keributan akibat kemarahan Mas Ari, tanganku yang tidak digenggamnya, langsung mengusap tangannya memintanya sabar. Mas Ari menoleh padaku. Kuberi dia senyum yang seketika bisa membuat rahangnya yang mengencang jadi mengendur.
Aku dan Mas Ari lalu mengambil duduk di atas karpet beludru seperti juga yang lain.
"Jadi karena semua sudah berkumpul, kita mulai saja ya?" ucap Arnas, suami Bibi Anis.
Semua menjawab iya.
"Langsung sajalah ya, tidak perlu basa-basi. Seperti yang kalian tahu bahwa kami akan mengadakan pernikahan Sinta. Kami meminta bantuan pada kalian semua berupa uang. Terserah mampunya berapa. Nanti jika kalian punya hajat, kami akan kembalikan sejumlah uang yang kalian beri ke kami. Bagaimana? Setuju?"
"Setujuuuuuu!" semua menjawab dengan suara lantang. Kecuali aku dan Mas Ari. Memilih untuk diam saja karena jawaban kami sudah diwakili oleh mereka. Yang pasti, mau tidak mau, kami harus setuju.
"Oke, langsung saja aku tulis kalian akan membantu berapa," lanjut Arnas. Lalu suami bibiku itu menjadi orang yang sibuk mencatat angka-angka di atas kertas sesuai dengan nominal yang dia dengar dari mulut-mulut seluruh orang di ruangan ini. Ada yang memyebit dua juta, satu juta setengah, dan yang paling kecil adalah satu juta.
"Nah, sekarang giliran Nura dan Ari. Kalian mau membantu berapa?" tanya Arnas sembari siap untuk mencatat.
Tiba-tiba Sinta tertawa. "Kalau mereka mah jangan ditanya, yah. Sudah pasti mereka tidak punya uang. Bantu juga palingan seratus ribu."
"Itu sebabnya aku meminta kamu untuk bantu beres-beres, Nur." Kali ini Bibi Anis yang bicara. "Ya karena kamu tidak bisa membantu kami dalam bentuk uang. Kalau kamu bisa memberi bantuan satu juta saja, Bibi tidak akan memintamu untuk bantu beres-beres rumah dan jadi tukang ambil minum Sinta."
Aku terdiam. Jelas aku tidak mampu membantu uang sebesar satu juta seperti kemauan Bibi Anis. Jadi aku pasrah jadi pelayan Sinta di acara nikahan nanti maupun jadi pembantu beberapa hari di rumah Bibi Anis.
"Apa bibi bisa pegang omongan bibi?" Tiba-tiba Mas Ari membalas ucapan Bibi Anis. Ini sungguh tidak aku prediksi.
Kening Bibi Anis mengerut seketika. "Maksud kamu apa sih, Ri?"
"Tadi bibi bilang kalau kami bisa memberi uang satu juta untuk kalian maka Nura tidak akan dijadikan pelayan Sinta dan pembantu sementara bibi?"
"Oh, iya. Memangnya kamu punya uang segitu?"
"Bibi janji dulu di hadapan semua orang yang ada di ruangan ini jika bibi tidak akan menjadikan Nura pelayan pada hari H nanti jika aku memberi uang satu juta."
"Aduh, apaan sih? Pakai janji-janji segala. Bibi kan mengatakannya di depan semua orang. Ya masak bibi berbohong."
"Baik. Kalau begitu aku akan memberi bibi uang dua juta. Satu untuk Nura dan satu jutanya lagi untuk aku. Aku juta tidak mau jadi pengangkut piring kotor di hari H nanti."
Semua terdiam mendengar yang baru saja diucapkan Mas Ari, setengah terpaku, termasuk aku.
"Dan satu hal lagi, tempatkan kami di kursi keluarga," tambah Mas Ari.
Tapi kemudian tawa meledak di ruangan itu. Semua menertawakan ucapan Mas Ari.
"Hahahaha! Kamu pintar bercanda juga rupanya Ari. Tapi tidak apa-apa, bikin kita semua tidak merasa ngantuk," ucap Bibi Anis di sela tawa mengejeknya yang berderai.
"Sepertinya kemiskinan membuat Ari halunya ketinggian."Kali ini Sinta yang bicara. "Aku baru tau kalau kemiskinan ternyata bisa bikin orang jadi gila. Hahaha!"
Aku menatap wajah Mas Ari yang tampak samping dengan hati bertanya-tanya. Apa Mas Ari ini memang sudah gila seperti yang disangka oleh Sinta barusan? Bagaimana tidak, darimana kami punya uang dua juta untuk diberikan pada Bibi Sinta? Tabungan kami paling hanya beberapa ratus ribu saja. Itu pun mungkin sudah habis untuk membeli baju couple pesta beberapa hari yang lalu.
Kalau pun punya uang dua juta, tidak akan mungkin aku berikan semua pada Bibi Anis. Lebih baik aku pakai renovasi rumah.
Tapi ini sungguh di luar nalar. Tiba-tiba Mas Ari mengeluarkan sesuatu dari dalam pakaian yang dikenakannya. Rupanya itu adalah dua gepok uang seratus ribu. Uang itu lalu ditaruhnya ke hadapan Bibi Anis.
"Ini aku bayar kontan! Cash! Jadi di hari H nanti aku dan Nura duduk manis di kursi keluarga."
Hening. Semua pandang menatap tidak percaya pada Mas Ari.
Bersambung.