Bab 7

1204 Kata
NURA “Dari sisa kiriman Pak Jono. Setelah diberikan pada Bibi Anis dan membayar hutang teman." Jawaban Mas Ari atas pertanyaanku mengenai asal uang untuk membeli tas, sandal pesta, dan dompet untuk aku dan ibu. “O…. “Aku angguk-angguk. Tapi hati masih penuh tanya. Tas yang berada dalam genggamanku ini meskipun bentuknya sederhana tapi terlihat sangat elegan. Bahannya juga bagus. Walaupun aku ‘kampungan’ soal fashion, tapi sedikit banyak bisa tahu mana barang bagus, kurang bagus, dan jelek. Jadi sebenarnya, berapa uang kiriman Pak Jono jika diberikan pada Bibi Anis saja dua juta rupiah, lalu dibelikan barang-barang ini, dan untuk membayar hutang teman? Apa hasil sawah Mas Ari sangat banyak? “Memangnya berapa sih harga tas aku dan ibu, mas?” tanyaku dengan menatap wajah Mas Ari yang kini duduk di kursi dan memainkan ponselnya. Mas Ari mengangkat wajahnya sekilas padaku sebelum akhirnya kembali menatap layar ponselnya. “Murah. Hanya seratus ribu.” Keningku langsung mengerut mendengar jawaban Mas Ari. “Seratus ribu?” Aku melirik ibu yang menunjukkan ekspresi kurang percaya sepertiku setelah mendengar jawaban Mas Ari.“Yakin mas, seratus ribu?” Mas Ari mengangguk. “Iya, seratus ribu.” Kali ini dia menjawab tanpa menoleh sama sekali. Entah apa yang sedang dia lihat di ponselnya itu. Sangat menyita perhatiannya. “Terus sandal kami harganya berapa?” tanyaku lagi tanpa menyentuh barangnya. Kali ini aku yakin harga sandal-sandal pesta itu bukan seratus ribu. Soalnya sandal kami sangat cantik. Aku tidak tahu nama bahan untuk membuatnya. Tapi seperti kaca, kuat dan bening. “Sama seratus ribu juga," jawab Mas Ari enteng. Pandangannya tetap pada ponselnya. Aku menyeringai mendengar harga sandal itu. Sangat tidak masuk akal. Sungguh! Sandal secantik itu tidak pentas dihargai seratus ribu. “Kalau dompet?” Aku terus bertanya karena saat ini lebih penasaran pada uang Mas Ari dari pada barang pemberian darinya. Bukan aku tidak bersyukur, tapi sejak Mas Ari memberi uang dua juta pada Bibi Anis, aku jadi penasaran dengan uangnya. Syukur alhamdulilah jika memang hasil sawah miliknya. Tapi bagaimana kalau sawah itu hanya karangannya saja. Bisa jadi kan dia membayar orang buat jadi Pak Jono hanya untuk menutupi kebohongan? “Ya seratus ribu.” Bahuku turun ke bawah mendengar semua jawaban Mas Ari. “Masak semuanya seratus ribu, mas?” protesku. “Mas bercanda atau bagaimana sih?” Mas Ari terhenyak karena suaraku agak sedikit menyentak. Dia langsung mengangkat wajahnya dan menatapku. Sesaat dia terlihat bingung sebelum akhirnya menjawab. “Aku serius. Apa tidak boleh kalau harganya seratus ribu semua?” Aku menghela nafas panjang. “Bukan tidak boleh, mas. Tapi aneh. Bisa-bisanya harga tas, sandal pesta, dan dompet sama. Seratus ribu. Padahal bentuk beda, bahan beda, dan ukuran juga beda. Apa mas beli di toko serba seratus ribu? Tapi setahuku di sini tidak ada toko serba seratus ribu. Belum lagi harga seratus ribu untuk tas dan sandal kami sangat tidak sesuai. Yang mas beli ini, semua bahannya bagus.” “Oh, eh, tadi itu aku menjawabnya asal-asalan saja. Masih ada angka di belakang seratus ribu. Tas itu harganya seratus sembilan puluh ribu, sandal harganya seratus enam puluh ribu, dan hanya dompet yang harganya pas seratus ribu” “Oh, begitu.” Kali ini jawaban Mas Ari cukup masuk akal dan cukup bisa aku terima. Kadang laki-laki kan memang asal menjawab seperti tadi. Seratus ribu lebih dibilang seratus ribu. Aku pun mulai menghitung. Seratus Sembilan puluh ribu ditambah seratus enam puluh ribu hasilnya tiga ratus lima puluh ribu. Ditambah lagi seratus ribu, hasilnya empat ratus lima puluh ribu. Empat ratus lima puluh ribu dikali dua dengan yang punya ibu, menjadi sembilan ratus ribu. Uang segitu belum termasuk Sandal Mas Ari yang kalau misalkan harganya seratus lima puluh ribu saja, totalnya adalah satu juta seratus. Lalu ditambah dengan uang yang telah diberikan pada Bibi Anis, jadinya tiga juta seratus ribu. Belum lagi Mas Ari membayar hutang pada temannya. Jadi kalau dikira-kira hasil sawah Mas Ari adalah empat jutaan. Nilai yang cukup banyak menurutku. “Lumayan sekali ya hasil sawah mas?” tanyaku kemudian. Ini lebih besar dari UMR lho. Kalau begitu untuk apa Mas Ari bekerja capek-capek jadi kuli panggul jika punya penghasilan empat jutaan dalam satu bulan? Jujur aku curiga. Kedua alis Mas Ari bergerak ke atas. Sepertinya dia belum paham arah ucapanku. “Hasil sawah milik mas berarti lumayan kalau untuk semua belanjaan ini totalnya saja kira-kira satu juta seratus. Belum yang diberikan pada Bibi Anis dan yang mas bayar ke teman mas.” Aku terpaksa memperjelasnya agar Mas Ari paham maksudku. Mas Ari tampak tercenung mendengar ucapanku sebelum akhirnya menurunkan letak ponsel yang tadinya sejajar dengan dagu menjadi ke atas pangkuan. “Sawah menghasilkannya tidak setiap bulan sekali, Nur. Sawah itu dipanen tiga bulan sekali. Jadi uang yang mungkin kamu hitung totalnya, pendapatan selama tiga bulan bukan satu bulan." Hilang sudah kecurigaanku usai mendapat jawaban ini. Ternyata kecurigaanku tidak beralasan. “O….” “Pasti kamu berpikir kalau hasil sawahku lumayan, untuk apa aku jadi kuli kan?” Aku mengangguk dengan wajah malu karena sempat curiga pada suami sendiri. “I-iya.” Mas Ari tertawa kecil mendengar pengakuanku. “Kamu tidak boleh curiga sama suami sendiri.” Ibu yang sejak tadi memperhatikanku berkomentar. “Ibu yakin Nak Ari tidak ada kebohongan sama kamu. Tapi mungkin memang ada yang belum dia ceritakan jelas tentangnya padamu, termasuk soal sawah ini. Itu wajar karena kalian baru menikah tiga bulan. Mungkin Nak Ari butuh waktu yang banyak untuk menceritakannya.” Aku mengangguk menyadari kesalahanku. “Iya, bu.” Dan kulihat Mas Ari tampak puas dengan penjelasan ibu yang sepertinya mewakili hatinya. *** Meskipun hari pernikahan Sinta tinggal dua hari lagi, aku tak pernah datang ke rumah Bibi Anis. Itu karena Mas Ari sudah memberi uang dua juta pada mereka. Toh, kata adik ibuku itu, bagi yang memberi uang banyak tidak perlu bantu-bantu lagi. Jadi, aku tenang-tenang jaga warung. Ponselku berdering. Aku meraihnya dan menatap layarnya. Panjang sekali umur Bibi Anis karena baru saja kubatin sekarang menelpon. Tak ada alasan untuk tidak mengangkatnya. Barangkali ada hal penting yang ingin disampaikan. Maka, aku mengangkatnya. "Ya, bi?" "Nur, ke rumah dong bantu beres-beres rumah dan cucian. Bibi sibuk sekali mempersiapkan pernikahan Sinta." Aku menipiskan bibir. Bibi Anis benar-benar tidak konsisten dengan ucapannya. Padahal sudah berjanji di depan Mas Ari dan keluarga lainnya. "Aku kan sudah membayar dua juta, bi? Masak masih dijadikan babu juga?" "Soalnya tidak ada yang membereskan rumah. Sudah seperti kapal pecah ini." "Suruh orang saja, bi. Bayar." "Pakai uang dong." "Ya pakai uang, bi. Masak pakai daun." "Sayang uangnya untuk membayar orang." "Kalau sayang mengeluarkan uang untuk membayar orang, biarkan saja rumahnya berantakan. Gampang kan? Hidup ini pilihan bi." Nah, lho. Kok aku jadi seberani ini padanya. Apakah karena Mas Ari sudah memberinya uang? "Kamu kok begitu sih, Sin? Baru juga memberi uang dua juta tapi sudah seperti memberi uang sepuluh juta saja." "Aku kan hanya mengulang janji bibi pada Mas Ari kalau sudah memberi uang minimal lima ratus ribu saja tidak akan dijadikan babu." "Kamu lupakan saja ucapan bibi yang itu. Bibi benar-benar butuh bantuan kamu untuk beres-beres rumah." "Maaf, bi. Tapi aku sedang sibuk jaga warung. Assalamualaikum." Langsung kuakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban Bibi Anis. Lalu aku menyeringai puas. Apakah aku sudah menjadi orang yang jahat? Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN