Bab 2 Siuman

1031 Kata
Satu hari berlalu pasca operasi tersebut. Kenan duduk di samping ranjang Kinanti. Sebelah tangannya menggenggam tangan Kinanti yang terbalut selang infus. Kenan tertunduk. Kenan tersentak, ketika di rasa ada jemari yang menyentuh wajahnya. Pria itu mendongak. Kinanti membuka mata perlahan. Menatap ke arah sekitar. Tampak dinding berwarna putih dengan bau khas yang begitu menyengat. "Di mana aku? Apa yang terjadi?" Kinanti yang baru saja sadarkan diri itu masih bingung dengan keberadaan dirinya saat ini. Kenan mengusap lembut wajah Kinanti dan menatapnya dalam. "Kau di rumah sakit. Tidak sadarkan diri sejak operasi kemarin." Kenan memberikan penjelasan dengan wajah serius, tanpa melepaskan tatapannya yang begitu intens. "Ru--rumah sakit? O--operasi?" Kinanti yang masih setengah sadar berkata dengan bingung. Wanita itu masih belum bisa mengingat sepenuhnya dengan apa yang terjadi padanya. "Iya, jahitan-mu sobek dan aku sudah memperbaikinya," ucap Kenan memperjelas. "Kau ...." "Jangan bergerak. Kau baru saja siuman. Kondisimu belum pulih." Kenan bangkit dari duduknya. Mencegah Kinanti melakukan pergerakan. Pria itu khawatir akan jahitan bekas operasi yang masih basah tersebut. "Lepaskan aku! Jangan menyentuhku!" Kinanti tiba-tiba saja menepis kuat tangan Kenan di kedua pundaknya. Wanita itu tampak marah sekali. "Aku hanya ingin membantumu. Aku ...." "Aku tidak mau di bantu olehmu. Suster! Suster!" Kinanti menolak tawaran Kenan, ia berteriak memanggil perawat untuk membantunya. "Kinanti tenanglah. Kau ...." "Menjauh dariku! Jangan menyentuhku!" Kinanti terus menolak Kenan. Tampak kebencian di balik kedua matanya. "Kinanti." "Pergi! Jangan menggangguku! Pergi!" Kinanti semakin menjadi, ia bahkan mengusir Kenan. Matanya semakin nyalang. Napasnya bergemuruh menahan rasa. "Kinanti, aku mohon. Tenangkan dirimu." Kenan berusaha menenangkan Kinanti, meski wanita itu terus meronta. Perawat datang dan segera mendekati mereka. "Dokter Kenan, ada apa?" tanya perawat yang baru saja datang. Gadis itu melihat Kenan yang masih memegangi kedua pundak Kinanti. "Suster, suster. Bantu saya. Tolong bantu saya," ucap Kinanti sambil memegang kedua tangan Kenan di pundaknya. Perawat itu bergeming. Hanya gerakan mata yang mengarah ke Kenan. Dokter Kenan mengedipkan mata dan mengangguk memberi kode. Kemudian, perawat tersebut mendekati mereka. "Ada apa, Nyonya?" tanya perawat itu lembut sambil menatap Kinanti. Kenan melepaskan tangannya dari pundak Kinanti, setelah melihat wanita itu sudah tenang. Kemudian, pria tersebut sedikit mundur. Perawat yang tadi berada di belakang Kenan maju dan berdiri di samping Kinanti. "Bantu saya melepaskan alat-alat ini," ucap Kinanti sambil menatap perawat berparas manis tersebut. "Baik, Nyonya." Perawat itu pun mulai melepaskan kabel-kabel pada d**a Kinanti dan selang oksigen. Kemudian, membantu wanita itu duduk. "Terima kasih suster ...." "Nama saya Sindy," ucap perawat itu memperkenalkan diri. "Suster Sindy." "Sama-sama, Nyonya. Syukurlah Anda sudah siuman. Kondisi Anda juga sudah mulai membaik," ucap Sindy usai melakukan pemeriksaan. Sindy terpaksa melakukan semuanya karena Kinanti tidak mau di periksa oleh Kenan. "Iya, Sus." "Nyonya, Anda harus dapat pemeriksaan dari dokter untuk mengetahui perkembangan kondisi Anda," ucap Sindy berusaha membujuk Kinanti. "Aku tidak mau di periksa oleh dokter itu," ucap Kinanti sambil menunjuk ke arah Kenan. Perawat Sindy sedikit terkejut dengan sikap Kinanti dan menatap ke arah Kenan. Tatapan Kinanti begitu nanar terarah kepada Kenan. Berbeda saat ia menatap perawat Sindy. "Nyonya, Dokter Kenan adalah dokter yang telah mengoperasi Anda. Beliau juga bertanggung jawab atas diri Anda. Jadi, Dokter Kenan harus melakukan pemeriksaan pada diri Anda. Sebab, Beliau lah yang mengerti kondisi Nyonya." Sindy berusaha menjelaskan dengan selembut mungkin agar Kinanti tetap tenang. Kinanti mendelik. Wanita itu semakin kesal di buat oleh Sindy. "Saya hanya mau melakukan pemeriksaan dengan dokter lain. Bukan dengan dia, suster!" "Tolong mengerti, Nyonya. Ini prosedur rumah sakit. Kami tidak bisa mengganti dokter begitu saja. Setiap dokter bertanggung jawab atas pasiennya." "Tapi ...." "Perawat Sindy benar. Tolong mengertilah. Kau harus mendapatkan perawatan untuk kesembuhanmu." Kenan menyela perdebatan Sindy dan Kinanti. Pria itu ikut meyakinkan Kinanti agar wanita keras kepala tersebut mau menurutinya. Kinanti terdiam. Jangankan mendengar perkataan Kenan, bahkan Kinanti pun tidak Sudi menatap lelaki tampan yang selalu menjadi incaran kaum hawa tersebut. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah dinding. "Kau keluar lah, Sindy Terima kasih sudah membantu. Aku ingin bicara dengan Nyonya Kinanti," ucap Kenan sambil menatap ke arah Sindy. "Baik Dokter." Sindy berkata sambil pamit undur diri. Kenan menatap ke arah Kinanti, meski wanita itu tidak ingin melihatnya. Kenan menghela napas kasar dan mendekati Kinanti. "Kau suka atau tidak, aku dokter-mu sekarang. Kau harus mendengarkan-ku," ucap Kenan tanpa melepaskan tatapannya. "Kenapa menyelamatkanku?" Kinanti menoleh ke arah Kenan dan bertanya dengan wajah tidak suka. Napasnya kembali bergemuruh, ketika ia menatap Kenan. "Aku seorang dokter. Sudah kewajibanku menyelamatkan pasien." Kenan menjawab dengan begitu sederhana. Namun, cukup membuat Kinanti mengerti. Wanita itu kembali terdiam. Kemudian ia tertunduk tanpa kata. "Kinanti, aku tahu kau masih marah, bahkan membenciku. Namun, kau tidak bisa melawan takdir." Kenan duduk di samping Kinanti, pria itu mencoba berkomunikasi dengan wanita yang tengah dirunding dilema tersebut. "Takdir katamu?" "Ya, takdir. Kau bertemu denganku kembali itu adalah takdir. Aku mencari-mu selama berbulan-bulan dan akhirnya bisa menemukanmu. Kau sendiri yang menghampiriku, bukan?" "Itu tidak sengaja." "Jadi kau sudah ingat?" Lagi-lagi Kinanti terdiam di tengah perdebatan. Hatinya kembali sakit. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh itu kembali tergores. Kinanti menyesali pertemuannya dengan Kenan. "Jika kau tidak sakit dan berada di rumah sakit ini, mungkin kita tidak akan pernah bertemu kembali. Itu semua karena takdir yang telah mempertemukan kita. Seperti saat pertama kita bertemu." Kenan menjelaskan serta berusaha mengingatkan kembali pada Kinanti akan takdir yang mempertemukan mereka di rumah sakit itu. Namun, Kinanti tidak ingin mengingatnya, bahkan ia ingin melupakan dan menghapuskan semua kenangan tersebut. Kinanti mendongak. "Seharusnya kita memang tidak pernah bertemu. Jangan berusaha mengingatkanku karena aku sudah melupakannya." Kinanti berusaha mengelak, meski itu bertentangan dengan hati kecilnya. Kinanti hanya tidak ingin mengingat semua kenangan bersama Kenan. "Apa kau benar-benar sudah melupakannya? Secepat itu kah?" tanya Kenan tidak percaya. "Iya," ucap Kinanti dengan yakin. Kenan tersenyum, ia tidak begitu saja mempercayai perkataan Kinanti. Pria itu sangat memahami bagaimana wanita di hadapannya tersebut. "Kau masih mengingatku. Kau bahkan menjaga dan melahirkan buah cinta kita dengan baik, bukan?" "Apa maksudmu?" "Tidak usah berpura-pura, Kinanti. Aku sudah tahu semuanya. Kau terluka seperti itu karena lima hari yang lalu kau baru saja melahirkan seorang anak laki-laki melalui operasi cecar." Kinanti terbelalak, ia tidak menyangka Kenan bisa mengetahuinya. Seketika Kinanti tidak sadar, jika Kenan salah satu dokter di rumah sakit tempat ia melahirkan putranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN