Bab 5

1027 Kata
Alex mendorong pintu menggunakan tenaga yang terlalu keras hingga mengejutkan dua orang di hadapannya. Sebenarnya, Alex sengaja. Dia gemas sekali saat melihat lelaki yang ada di dalam sana menatap Jillian terus menerus tanpa henti. Bahkan, nyaris tanpa berkedip! "Maaf karena telah mengagetkan kalian." Alex menyeringai lebar sembari melepas kaca mata hitamnya dengan gerakan lambat, dengan gesture penuh gaya.  "Ada yang bisa saya bantu?" Jillian.... Gadis itu menoleh. Rambut brunettenya bergoyang pelan kala ia bergerak. Suara gadis itu terdengar demikian lembut. Selembut lonceng yang berdenting halus kala tertiup angin. Membuat Alex sesaat melupakan tujuan awalnya datang kemari.  "Saya ingin mencari—" Alex berdeham, melihat ke sekeliling ruangan. Ia berusaha menghindari tatap mata Jill sebelum gadis itu membiusnya lebih jauh dengan pesona yang dipunyainya. "Bunga segar? Bibit? Atau buket?" Jill berjalan mendekat. Dan gadis itu terus saja tersenyum. Sial... "Buket bunga—ada?" Alex menyebut secara asal setelah ia melihat buket yang didekap gadis itu. Tulip kuning dengan pita berwarna biru laut. "Tentu saja ada. Anda ingin buket bunga apa?" "Terserah. Saya hanya ingin buket bunga tersebut terlihat indah, dan membuat hati si penerimanya gembira.” Jill tertawa kecil. "Baiklah, kekasih anda menyukai bunga apa? Atau apa anda sedang menghadiahinya bunga dalam acara khusus?" Hah?  Alis Alex terangkat naik. Kenapa gadis itu tiba-tiba menyimpulkan demikian? Alex tidak punya kekasih. Magnus bilang, kekasih hanya akan membuat kehidupan gandanya sebagai pengusaha normal sekaligus pencuri kakap akan terbongkar begitu saja. Wanita tidak akan pernah bisa menjaga rahasia. "Saya tidak punya kekasih." Kekasih hanya akan merepotkan dirinya.  Manik mata Jill membulat. Lalu, gadis itu pun tersenyum. Alex buru-buru menambahkan sebelum gadis itu berpikiran lain dan menjadi salah sangka tentang orientasinya kepada lawan jenis. "Saya ingin memberi buket bunga pada seorang wanita." "Baiklah," Jill menjawab. "Seperti apa wanita itu? Nanti saya akan memilihkan bunganya." "Dia cantik," Alex menjawab cepat. Terlalu cepat, malah. Pada detik selanjutnya dia bahkan tak bisa menahan diri untuk berkata, "Punya senyum paling indah yang pernah kulihat. Punya bola mata berwarna biru yang selalu berbinar terang.” Alex berhenti, dia menahan napas. Apakah dirinya sedang membicarakan tentang Jillian? Namun, Alex tak dapat menahan diri untuk kembali menambahkan, ”Punya kulit seputih pualam serta rambut ikal berwarna brunette yang membingkai wajahnya dengan sempurna." Sesaat, melalui ekor matanya, Alex dapat menangkap sorot mata tak suka yang dilesakkan oleh lelaki yang sedari tadi berdiri di sisi Jillian. Namun, Alex tak mau ambil peduli.  Gadis itu mendengarkan Alex dengan tekun. Dan ketika Alex mengakhiri kalimatnya, dia hanya tersenyum. "Sepertinya dia memang cantik sekali. Baik, karena dia bukan kekasih Anda, kutebak dia orang spesial. Bisa jadi, seorang sahabat. Tulip kuning, mungkin?" Jill mengangkat buket di tangannya.  Ah, jadi tulip kuning artinya sahabat. Berarti, pria di sisi Jill bukan kekasihnya. Alex mengedikkan bahu. Dia tak terlalu paham mengenai bunga.  Lagi-lagi, Jill menanggapinya dengan senyuman. Membuat Alex bertanya-tanya ada berapa banyak pria yang patah hati karena senyuman itu.  "Jill, saya harus kembali ke kantor." Si pria yang sedari tadi menatap Jill tanpa berkedip, menyela dengan sengaja. Dia mengerling arlojinya.  "Baiklah. Aku akan mengantar bunga-bunga milikmu jam sepuluh." Jill menyodorkan buket tulip kuning kepada si lelaki. "Sampai bertemu jam sepuluh." Lelaki itu menyambut uluran buket bunga dari Jill, lalu melambaikan tangan. Pria itu menganggukkan kepala dengan sopan ketika berjalan melewati Alex. Alex dapat mencium aroma parfumnya yang mahal. Lalu, mobil Lexus yang dinaikinya membawanya pergi.  "Dia kekasihmu?" Sungguh, Alex tak dapat menahan-nahan diri. Sedari tadi ia penasaran setengah mati. Jill yang sedang memilih kertas dan pita, menatap Alex dengan alis yang terangkat. "Maaf?" "Lelaki yang tadi." Alex menunjuk pintu kaca tempat si pria keluar, meninggalkan Jill berdua saja dengan Alex. "Maksudmu Marco?" Ah, jadi saingannya yang tadi bernama Marco... ‘Yeah, Marco.” Alex mengangguk dengan enggan. Kali ini Jill tertawa. "Marco bukan kekasihku. Dia hanya rekan bisnis." Jill menjelaskan. Rupanya, pembahasan tentang lelaki bernama Marco mampu mengubah sapaan Jill kepada Alex menjadi aku dan kamu. Tanpa diminta, Jill pun lanjut menjelaskan, "Marco pemilik hotel yang letaknya dua blok dari sini. Hampir setiap hari aku memasok bunga untuk hotelnya." Oh, jadi lelaki itu pemilik hotel.  “Hotel Magnolia?” Alex menebak dengan asal. Hanya ada satu hotel di blok dekat Bloems berada. Dan hotel tersebut cukup besar. Setara dengan hotel berbintang lima. Bukan hotel kelas melati yang murah. “Ya, kamu benar. Hotel Magnolia yang itu.” Ah. Alex mengangguk. Pantas saja parfum dan mobilnya kelas mahal. Jadi, saingannya bukan orang sembarangan. “Kamu beruntung sekali bisa menyuplai bunga untuk hotel sebesa itu.” Jill tersenyum. “Kurasa, itu lebih karena kebaikan Marco padaku. Dia pria yang manis dan baik hati.” Alex mengangguk dengan enggan. Pembicaraan tentang Marco membuatnya merasa tak nyaman. Ia lalu mengamati sekeliling ruangan Bloem’s Florist. Sesuatu mengganjal dalam pikirannya.  Mungkinkah Jill menyimpan berlian itu di sini? "Selesai. Ini buket tulip anda." Jill menyodorkan tulip-tulip segar berwarna kuning cerah yang dibungkus kertas yang juga berwarna kuning. Bagian tengahnya diikat pita putih berenda. Alex menahan-nahan senyumnya. Setidaknya, buket tulip kuning miliknya ini terlihat lebih 'cantik' dibanding milik Marco.  Ia sedikit merasa bangga akan kenyataan itu.  Tunggu, apakah Alex baru saja mengatakan 'cantik' untuk bunga?  Alex menggeleng-gelengkan kepala. Tidak. Tidak bisa seperti itu. Dia tidak boleh bersikap sentimentil. Kata cantik hanya boleh digunakannya untuk menggoda wanita.  "Cantik." Alex menggumam. Oke, dia kelepasan. Alex menerima buket dari Jill. Sejujurnya, dia sedang memuji Jill. Kemudian dia bertanya, "Kenapa kau memilihkan tulip kuning?" Bola mata Jill membulat. Alex dapat menemukan bayangan dirinya memantul dalam bola mata bermanik biru itu. Jill tersenyum. "Karena Anda tidak sedang memberi buket untuk kekasih, maka saya simpulkan anda memberi seorang wanita spesial. Sahabat, misalnya?" Alex terdiam. Tidak tepat, tetapi juga tidak bisa dibilang salah.  "Tulip kuning artinya persahabatan. Kuning melambangkan sinar matahari. Sinarnya sehangat persahabatan. Cocok sekali untuk orang yang berseri-seri." Alex tersenyum. Dia mendekat. Menatap Jill lekat-lekat. Gadis ini beraroma lembut. Lembut yang membuai. Seperti kumpulan bunga-bunga yang mekar di musim semi. Berada sedekat ini dengannya, seolah-olah tengah berbaring di padang bunga dengan sinar matahari pagi yang hangat. "Namaku Alexander. Kau boleh memanggilku Alex." Alex menyodorkan buket tulip kuning itu kembali kepada Jill. "Tulip kuning ini untukmu." Jill tertegun untuk sesaat. Lalu, ia tersenyum sembari menjawab, "Jillian. Namaku Jillian. Kau boleh memanggilku Jill."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN