Bab 17

1226 Kata
Dalam beberapa jam ke belakang, hidupnya mendadak jungkir balik.  Alex masuk ke dalam apartemennya yang dibiarkannya gelap seperti sebelum ia masuk. Dia melirik ke gedung seberang. Lampu di ruang utama apartemen Jill sudah menyala, sementara di kamar tidurnya tampak gelap. Kemungkinan besar gadis itu sudah tertidur. Alex sendiri setelah pesta Dimitri berakhir, tentunya menyelinap keluar diam-diam tanpa berpamitan kepada pemilik rumah. Kemudian, dia melajukan mobilnya dari satu sudut kota ke sudut lainnya. Tak tentu arah. Dan ketika dia merasa sudah mengelilingi seluruh sudut kota, barulah dia memutuskan kembali pulang. "Ya, Magnus?" Alex memencet tombol pengeras suara di ponselnya yang dibiarkan tergeletak di atas meja rendah, lalu melemparkan tubuhnya ke atas sofa empuk yang waktu itu dibelinya bersama Jill. 'Kau sudah sampai di rumah?' "E-hem." Alex berdehem, lalu dia teringat sesuatu hingga berkata,"Rumah yang mana maksudmu? Apartemen sewaanku di Montmartre?" Alex tidak sedang berlebihan.  Mengabaikan Alex yang mungkin sedang meracau, Magnus menukas, 'Ada email untukmu.' "Besok saja." 'Klien baru.' "Aku capek. Tidak mau lembur." Alex hendak memutus sambungan komunikasinya ketika Magnus buru-buru menambahkan,'Ada hubungannya dengan Jill dan berlian Pandora.' Mata Alex yang mulanya terpejam, mendadak terbuka lebar begitu mendengar nama gadis itu disebut. 'Klien ini ingin kau menyelidiki Jill. Permintaannya hampir sama dengan klien nomor satu : mencari berlian. Juga, mencari tahu apa hubungan gadis itu dengan seseorang bernama—Joanna.' Dahi Alex berkerut. Ingatannya tiba-tiba tertuju kepada foto Jill bersama seorang wanita di pigura yang ada di apartemen Jill. Kemudian, dia menyampaikannya kepada Magnus karena merasa informasi yang diketahuinya mungkin berguna. "Kau masih ingat foto yang kutemukan di apartemen Jill? Aku tidak tahu apakah foto yang kulihat waktu itu adalah benar Joanna." Di seberang sana, Magnus terdiam. Lalu bergumam samar. Terdengar bunyi gaduh, seperti benda yang diambil paksa dari sebuah tumpukan, lalu dilempar begitu saja. Menyusul bunyi sesuatu yang dipukul dengan keras. Dahi Alex berkerut. "Magnus? Kau masih di sana?" Tak ada jawaban. Alex terlonjak dari sofa. Tubuhnya menegang. Tiba-tiba saja kekuatiran menyergapnya. "Magnus?"  Alex hendak menyambar kunci mobilnya ketika Magnus menyahut, 'Ya, aku di sini. Tidak apa-apa. Jangan kuatir.' Jeda sesaat. Tidak biasanya Magnus bersikap seperti ini. Magnus akan mengoceh setiap kali dia punya kesempatan. Suara di ujung sana berdeham, kemudian berkata, 'Kau bisa mengambil foto Jill dan wanita bernama—Joanna itu?' "Tentu saja." Alex berkata acuh tak acuh. Dia kembali mengenyakkan tubuhnya ke atas sofa, membiarkan pikirannya mengembara ke mana-mana. Namun, selalu saja berujung kepada satu nama : Jillian. Alex mendesah. Matanya terpejam. Sekelilingnya gelap, hingga nyaris tak ada bedanya dia membuka ataupun memejamkan mata. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah dari luar yang bersusah payah menembus tirai dengan samar-samar. Tidak ada suara lain di sekitarnya, selain detak jantungnya sendiri dan suara napasnya yang berat. Lawan bicaranya di ujung sana tampaknya juga tengah enggan membuat keributan.  "Magnus...." Alex tak tahan lagi. Dadanya terasa sesak, serasa diremas-remas. "Dia membenci pencuri. Dia membenci orang sepertiku." ‘Kau bukan pencuri. Kita bukan pencuri. Kita tidak pernah mencuri atas keinginan sendiri. Kita tidak harus mencuri. Kita akan melakukan apapun keinginan klien asal bukan membunuh dan menyakiti orang lain,’ Magnus berkata datar. ’Kita adalah— pesuruh bayaran. Ingat itu.’ Alex menyapu bibirnya dengan ujung lidah. Kelu. Berharap dia masih menemui sisa-sisa manis dari bibir Jill yang tadi sempat dikecupnya. Ironisnya, Alex justru mendapati bibir Jill serupa racun. Yang merenggut segala kewarasan dan seluruh akal sehatnya hanya dengan sekali mencicipinya.  "Magnus—aku menyukainya. Benar-benar menyukainya. Jika dia tahu alasanku mendekatinya, maka dia akan membenciku." Alex merasa dadanya berubah sedemikian nyeri. Suaranya bergetar. "Aku tak tahu, jatuh cinta ternyata bisa sesakit ini. Katakan—apa yang harus kulakukan." ***katiamidela*** Sebelum pergi, Jill mengintip jendela. Mendung tampak bergelayut muram meski baru sepagi ini, hingga dia memutuskan mengenakan mantel hangatnya yang anti air dan mengaitkan payung lipatnya ke lengan.  Baru berjalan beberapa langkah dari pintu gerbang, rintik-rintik hujan sudah mulai turun. Jill menengadah, lalu dia buru-buru melindungi kepalanya dengan salah satu tangan sementara tangan lainnya berusaha membuka payung lipatnya.  Sebelum usahanya membuahkan hasil, tiba-tiba saja seseorang sudah berdiri di sampingnya dan melindunginya dengan payung hitam yang terkembang. Jill mengangkat wajah, alisnya naik ketika tahu siapa yang tengah melakukan hal itu kepadanya.  Pria berseragam hitam, yang dilihatnya bersama ayah Marco di pesta amal Dimitri. Jill mengerjap-ngerjapkan mata. Lelaki itu menyentuh lengannya lalu menggiringnya menuju mobil dan tak memberinya kesempatan untuk bereaksi apa pun. Untuk sesaat, Jill mengira dirinya diculik. Bayangan tentang kejadian yang hampir sama beberapa waktu lalu membuat tubuhnya bergetar.  Namun, begitu pintu mobil dibuka dan ketika dia melihat senyuman Marcus yang sudah duduk menunggu di dalam mobil, pelahan-lahan kekuatiran Jill menguap. Pria ramah seperti Marcus tidak akan mungkin melakukan hal jahat seperti itu kepadanya. "Pagi, Jill. Kebetulan lewat sini dan melihatmu. Ayo masuk, kau mau kemana? Biar kuantar." Marcus menepuk-nepuk kursi penumpang di sampingnya. Mulanya, Jill ragu-ragu. Namun, mengingat bahwa Marcus adalah ayah Marco, maka Jill menerima tawaran tersebut dengan alasan sopan santun. Sepuluh menit perjalanan menuju toko bunganya, Marcus yang lebih banyak berbicara. Tentang cuaca, tentang jalanan kota yang semakin macet, tentang betapa beruntungnya Jill yang tinggal di daerah sub-urban, juga tentang Marco. "Marco selalu saja sibuk. Dia tak pernah punya waktu untuk menemaniku." Marcus mengeluh."Padahal, orang tua sepertiku suka sekali ditemani mengobrol. Jika saja aku punya anak perempuan, mungkin dia bisa lebih perhatian dibanding anak lelakiku yang satunya, yang selalu sibuk dengan pekerjaannya." Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan Bloem’s. Jill menimbang-nimbang sejenak, keraguannya ditepisnya seketika lalu dia memutuskan,"Maukah kau mampir sebentar? Aku punya teh di dalam. Dan—banyak orang bilang minum teh dikelilingi bunga akan memperbaiki harimu." Marcus tersenyum. Tanpa ragu-ragu dia menganggukkan kepala.  ***katiamidela*** Jill mendorong kursi rodanya dan mengajaknya masuk ke dalam toko bunga milik gadis itu. Bloem’s Florist. Begitu nama yang terpampang di bagian depan toko.  "Tunggu sebentar di sini, ya." Jill berhenti di depan sebuah meja besar yang diletakkan di tengah-tengah ruangan. Lalu, gadis itu terlihat begitu sibuk dengan bunga-bunga miliknya. Marcus menunggu dengan patuh sembari mengawasi Jill yang mondar-mandir di hadapannya.  Dulu, Joanna juga sangat menyukai bunga. Bahkan, Marcus sengaja membuat sebuah rumah kaca agar Joanna dapat berkebun sepanjang waktu yang ia inginkan. Jill terlihat lincah mengurus bunga, sama seperti Joanna-nya. Jill juga ramah, sama seperti Joanna. Senyuman gadis itu, sama seperti Joanna.  Semua hal tentang Jillian mengingatkannya akan Joanna. Mau tak mau, Marcus membenarkan tuduhan Marco kepadanya di pesta Dimitri. Bahwa dia bisa saja, bahwa dia teramat bisa, mencari tahu dimana keberadaan Joanna waktu itu. Namun, karena keegoisannya, dia biarkan saja kisah tentang Joanna menguap. Dan berharap perasaannya kepada wanita itu luntur seiring berjalannya waktu.  "Marco suka sekali dengan aroma hyacinth." Jill tersenyum. Dia meletakkan satu pot kecil bunga hyacinth di atas meja di hadapan Marcus. Menyusul nampan berisi dua buah cangkir porselen. Dari aromanya, Marcus menebak cangkir tersebut berisi teh melati seduhan. Jill tertawa kecil sembari berkata,"Dia bilang, aroma hyacinth mengingatkannya akan aromaku." Hyacinth….dulunya Joanna juga sangat menyukai bunga itu. Marcus mengangkat wajah. Tepat ketika itulah tatapan keduanya bertemu di udara.  "Jillian..."suara Marcus bergetar. Dia menatap Jill lekat-lekat. Waktu seolah-olah membeku untuk beberapa saat."Waktu itu kita bertemu di Palma Creek. Makam siapa—, yang kau kunjungi?" ***katiamidela*** "Waktu itu kita bertemu di Palma Creek. Makam siapa yang kau kunjungi?" Jill mengoperkan salah satu cangkir porselen berwarna salem kepada Marcus. Dia menarik bangku kayu tanpa sandaran punggung, lalu duduk di atasnya. Jill menyesap teh miliknya sembari menatap Marcus, kemudian menjawab dengan senyuman yang tak dapat ditahannya, "Ibuku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN