Girda

1144 Kata
"Gre! Cepetan!" titah Arlan yang sudah rapi dengan kemeja putih, dipadu jas berwarna biru. "Udah siap kali, Om! Aku on time orangnya," sahut Greta yang baru saja menghabiskan sarapannya. Pagi ini memang ia meminta Arlan untuk mengantarkan ke kampus karena kebetulan ada kuliah pagi. "Lan, kamu nggak sarapan dulu?" tanya mamanya yang beberapa hari ini resmi pensiun dari kantor. Wanita itu cukup memantau pekerjaan Arlan dari rumah. "Nggak keburu deh, Mam! Nanti aku sarapan di kantor aja." "Makanya bangun pagi, Om. Kaya aku neh," celetuk Greta yang hanya dibalas dengkusan malas oleh Arlan. "Ya udah Mam, aku berangkat, ya." Arlan mencium punggung tangannya, lalu berjalan ke luar lebih dulu. Greta yang melihat itu pun sontak ikut mencium tangan dan pipi omanya. "Oma, aku berangkat juga," kata gadis itu sembari berlari mengejar langkah Arlan yang begitu lebar. "Tunggu dong, Om!" Arlan malah seolah tidak menggubris, dan langsung masuk ke dalam mobil. *** “Om." Greta mengamati wajah Arlan dari samping. Arlan hanya menggumam karena kini matanya tengah fokus pada jalanan di depannya. "Kok Om bohong si sama temen-temen, Om?" Greta menggeser posisi duduknya sedikit miring, untuk bisa memusatkan seluruh perhatiannya pada Arlan. Arlan malah menunjukkan raut bingung mendapat pertanyaan semacam itu. "Bohong?" "Iya! Pakai acara bilang kalau aku ini pacar, Om. Emang malu ya jadi jomlo? Eh, tapi Om beneran jomblo nggak, si? Kok aku nggak percaya ya kalau Om itu jomlo." Greta memicingkan mata yang hanya dibalas dengusan malas oleh Arlan. Bahkan laki-laki itu tidak berniat menoleh sedikit pun. "Pentingnya apa?" tanya Arlan balik dengan wajah malas yang makin kentara. "Tapi, kayaknya wajar si kalau jomlo. Udah ketus, kaku, kurang senyum. Kayaknya Om ini kurang piknik, deh," celetuk Greta dengan wajah nyinyir tanpa dosa. "Udah mukanya lempeng banget," imbuh gadis itu dengan tatapan sebal karena Arlan seperti enggan menjawab pertanyaannya yang bernada merepet itu. Tidak ada sahutan dari Arlan, laki-laki itu masih menatap lurus ke depan. "Om! Jawab, dong!" Greta mulai gemas dengan tanggapan Arlan. "Yang mana yang harus aku jawab?" tanya Arlan dengan wajah datar. Menoleh sekilas ke arah samping sebelum kembali fokus pada jalanan di depan sana. "Kenapa Om bohong? Bilang aku pacar, Om segala lagi," ulang Greta. Arlan hanya melirik Greta lalu mengedikan bahunya acuh. "Aku tahu! Pasti gara-gara cewek itu, kan? Yang cantik itu. Dia mantan, Om? Gebetan? Atau ... Om fansnya dia? Terus … Om ditolak. Abis itu Om bawa aku cuma buat manas-manasin dia doang. Ya, kan?" cerocos Greta sambil bersedekap, sangat yakin kalau tebakannya benar. "Kamu mau diem, atau aku turunin di jalan?" ucap Arlan mulai kesal dengan ocehan Greta. Sebenarnya Arlan bukannya tidak mau menjawab. Dia hanya bingung harus memberikan jawaban seperti apa. Kalau dia menjawab pertanyaan Greta, maka dia harus bercerita panjang kali lebar. Dan dia tidak pernah suka kehidupannya diusik oleh siapa pun. "Sadis banget! Pantes jomlo," gerutu Greta. Arlan hanya melirik ke arah Greta yang kini sedang memanyunkan bibir. Dan entah kenapa, wajah itu semakin terlihat menggemaskan saat sedang marah seperti ini. Arlan hanya tersenyum dan menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus gadis itu. "Udah ngambeknya. Nggak mau turun?" tanya Arlan yang melihat Greta hanya bergeming. Sepertinya Greta tidak sadar kalau sudah sampai di tempat tujuan. Terlihat dari caranya yang tampak terkejut saat menoleh ke arah samping. Lalu, tanpa senyum ramah, tanpa ucapan terima kasih, Greta turun dengan raut wajah kesal. Sementara Arlan hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah keponakannya itu. *** "Gre!" teriak Sisil dari arah parkiran saat melihat Greta melangkah masuk ke area kampus. "Lo bareng sama om, lo?" tanya Sisil mulai kepo. "Iya, lumayan. Ongkos ojek aman," cengir Greta. "Enaknya jadi lo, nah gue," ucap Sisil dengan nada memelas. Greta terkikik. "Enak apanya, si? Yang nganter juga om gue." "Bisa dong, lo comblangin gue sama om lo," kata Sisil sembari menaik turunkan alisnya. "Bisa, bisa dicuekin abis lo sama om gue. Lo itu nggak tahu, om gue kaya apaan. Super-duper-cuek-kaku-jutek. Kabar baiknya itu, cuman ganteng doang. Kalau bukan om gue, ogah deh gue deket-deket sama manusia itu." Greta meringis malas saat sikap menyebalkan omnya tadi kembali terbayang. "Masak, si?" Sisil memasang wajah sangsi. "Terserah mau percaya apa enggak. Dan satu lagi, gue yakin dia itu nggak suka sama cewek model kaya lo," tungkas Greta kejam. "Lo mah jahat, Gre!" "Gue jujur, Sil," cengir Greta tanpa dosa. "Lagian, bukannya lo lagi deket sama Dimas?" tanya Greta saat mengingat satu nama yang sedang dekat dengan sahabatnya ini. Sisil malah menunjukkan senyum malu-malu. "Kok bisa si, Sil? Gimana caranya?" Sisil tersenyum, lalu memulai ceritanya. "Awalnya dia itu jadi orang suruhannya Girda buat cari tahu tentang lo. Makanya dia deketin gue." Greta menghentikan langkahnya, lalu memicingkan mata ke arah Sisil. "Kenapa, si? Serem tahu, nggak, “ kata Sisil saat menyadari ekspresi Greta. "Jadi selama ini lo kasih info tentang gue ke Girda?" tanya Greta curiga. "Ya gue nggak sebego itu juga kali, Gre. Mana mungkin si gue kasih info tentang lo tanpa seijin lo." Greta mengembuskan napas lega lalu kembali meneruskan langkah. Namun, langkah itu kembali terhenti saat boyband abal-abal terlihat sedang membuat konser di salah satu koridor kampus. Dan sialnya, Greta harus melewati jalan itu. "Itu kenapa pada nyanyi di situ coba? Sumpah, norak!" gerutu Greta. "Ih, suara mereka kan bagus, Gre. Biarin aja kali," celetuk Sisil yang mulai berbinar-binar. Apalagi kini Dimas melambaikan tangan ke arahnya. Greta benar-benar mau muntah melihat Sisil yang begitu sumringah. Mau tidak mau Greta mengikuti langkah Sisil yang mulai mendekati gerombolan itu. Di mana para mahasiswi sedang mengerubungi mereka dengan tatapan kagum. Oh God! Oke, gue cukup lewat. Tanpa melirik. Tutup mata! Tutup telinga! Dan bye! Anggap mereka semua manusia tak kasat mata. "Alexa!" seru Girda yang pada akhirnya membubarkan diri dari konser super noraknya saat melihat kehadiran Greta. Greta pura-pura tidak mendengar, tetapi Girda mengejarnya. Dan Sisil, ah, ke mana manusia itu? "Ni buat, lo," kata Girda sambil menyodorkan sebuah cokelat. "Kata Sisil lo suka coklat." What? Oke, jelas-jelas Sisil sudah berkhianat. Fix! Greta marah sama sahabatnya yang satu itu. "Ayolah, Sa, kali ini aja. Terima pemberian gue." Girda memohon dengan memasang wajah manis. Jika bukan Greta, pasti akan langsung luluh dan malah merasa bangga di dekati pemuda dengan wajah mulus bak artis korea ini. "Sori, gue lagi puasa," jawab Greta sekenanya. "Kalau gitu simpen buat buka nanti." Girda tidak menyerah. Greta mendengkus lelah. "Thanks," ucapnya datar sembari menerima cokelat dari tangan Girda. Tidak ada gunanya juga menolak karena Girda pasti akan terus mengikutinya. "Sekarang lo bisa pergi dari hadapan gue." Greta melesatkan tatapan sinis, berharap Girda tahu diri dan mau menyingkir saat itu juga. Greta benar-benar tidak menyukai tipe pemuda yang suka tebar pesona semacam Girda. "Masih ketus aja, tapi nggak apa-apa, si. Lo manis banget kalau lagi ketus," goda Girda sambil melangkah menjauhi Greta. Kalau cewek lain mungkin akan klepek-klepek, tapi sayang itu tidak akan berlaku untuk seorang Greta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN