7. SISI LAIN SEORANG REY

1439 Kata
• AUTHOR POV • Langkah Rey tercekat saat mendapati seorang wanita yang ia kenali baru saja berjalan masuk ke dalam cafe yang menjadi tempat bertemunya dengan Azov. Marsha? Rey mempercepat langkahnya saat Azov yang juga masih menatap punggungnya seraya berjalan. Kedua mata Rey saling bertatap dengan Marsha yang sudah menyadari kehadirannya. Marsha juga terkejut karena ia tidak menyangka akan bertemu Rey di tempat ini. "Hey.. Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rey. "Hm.. Aku ingin membeli cake itu.. " balas Marsha sambil menunjuk cake cokelat yang berada di dalam etalase cafe tersebut. "... Aku tidak sengaja lewat dan melihat iklannya kalau cake itu sedang promo" lanjut Marsha. Mendengar hal itu, Rey menarik tangan Marsha menuju etalase cake yang terdiri begitu banyak ragam cake yang sangat lezat. "Pilih sesuka mu, Aku yang akan membayarnya" ucap Rey. "Tapi, Anda tidak akan memotong gaji ku kan?" "Tentu saja tidak, Marsha. Berhenti mengatakan soal gaji mu" Marsha memperlebar senyumannya saat pelayan cafe itu mengambil tiga cake yang menjadi pilihannya. Lalu di saat yang bersamaan Azov yang sejak tadi masih memperhatikan Rey kini menghampirinya dengan rasa penasaran yang luar biasa dengan sosok Marsha. "Apa dia kekasih baru mu?" Marsha menoleh ke arah Azov yang kini sudah berada di samping Rey. Marsha menatapnya dari ujung kaki hingga kepalanya menerka siapa sosok lelaki ini yang tiba-tiba muncul di hadapannya dan memeprtanyakan hubungannya dengan Rey. "Bukan urusan mu, Azov. Pergilah.. Urusan kita sudah selesai" balas Rey tenang. "Hai.. Aku Azov Van Haico, saudara dari Rey" ucap Azov menjulurkan tangannya pada Marsha. Mendengar hal itu, wajah Marsha berubah ramah sambil menjabat tangan Azov. "Yeah, hai... Aku Marsha kekasih Rey" Ucapan Marsha membuat Azov sedikit terkejut lalu menatap wajah Rey yang tampak begitu tenang. "Wow.. Aku sangat terkejut. Oh iya.. Sudah berapa lama kamu menjalin hubung--" "Aku sudah katakan, Azov. Jangan mencampuri urusan ku" sela Rey menatap Azov sinis. Sikap Rey pada Azov yang jelas menggambarkan hubungan yang tidak baik membuat Marsha sedikit bingung dan tidak tau harus bersikap bagaimana pada Azov. Karena, Azov adalah saudara Rey. "Apa dia juga tau soal kutuk--" "Marsha.. Keluar lah lebih dulu dan hubungi Nathan. Tunggulah di mobil, Aku akan keluar setelah ini" sela Rey pada Marsha. Mendengar perintah Rey, Marsha mengambil cake miliknya lalu mengikuti perintah Rey. "Jangan membuat ku semakin membenci mu, Azov. Kau tau kan, apa yang terjadi kalau Aku sudah muak dengan mu?" ucap Rey sinis. "Tenanglah Rey.. Aku tidak bermaksud membuka aib mu di hadapan wanita tadi. Kau jangan selalu berburuk sangka pada ku" balas Azov mengulas senyum. "Diam dan menjauh dari ku. Kau paham?" bisik Rey sebelum meninggalkan Azov dengan senyum lebarnya. Rey berjalan keluar mencari keberadaan Marsha hingga mobil miliknya yang baru saja tiba dengan Marsha yang berada di dalamnya bersama Nathan. Rey membuka pintu dan masuk ke dalam mobil meninggalkan cafe tersebut. Alis tebal mengerut serta rahangnya yang terlihat keras membuat Marsha sedikit tegang berada di sampingnya. Melihat hal itu, Marsha diam bagaikan patung duduk di sebelah Rey. "Kita antar Marsha kembali ke apartement dulu" pinta Rey pada Nathan. "Apa Anda sudah tidak marah lagi?" tanya Marsha hati-hati. Rey menoleh ke arah Marsha dan mendapati wajah Marsha yang terlihat tegang serta suaranya pun terdengar begitu gugup. "Aku tidak sedang marah, Marsha" balas Rey. "Tapi alis Anda mengerut seperti itu, biasanya Anda sedang marah kalau..." Marsha tercekat saat Rey merubah posisi duduknya dengan menatap lekat ke arahnya. Jantungnya berdegub hebat saat wajah tampan itu semakin mendekat ke arahnya di mana Marsha juga yang ikut beringsut mundur hingga kepalanya menabrak jendela mobil. "Sepertinya kamu sudah sangat mengenali ku" ucap Rey sambil menarik lekukan senyum pada sudut bibirnya. Marsha menelan salivanya saat senyuman itu terukir di wajah Rey. Marsha melirik saat ia merasa kalau mobil baru saja berhenti di depan gedung apartement. Hal itu membuat Marsha dengan cepat membuka pintu mobil dan panik keluar. "Ah.. Sudah sampai. Aku akan masuk, Anda bisa melanjutkan--hm, maksud ku Anda bisa kembali ke kantor.." ucap Marsha gugup. Marsha berbalik memunggungi Rey yang masih menatapnya di dalam mobil tanpa berkomentar. ".. Ah iya, terima kasih untuk cake Anda. Hati-hati" lanjut Marsha berlari masuk ke dalam gedung apartement. Melihat hal itu membuat Rey memperlebar senyumannya bahkan ia tidak dapat menahan tawanya. Sikap salah tingkah Marsha begitu menggemaskan baginya. "Ayo.. Nathan kembali ke kantor" pinta Rey. Kini suasana hatinya Rey sedang baik karena sikap menggemaskan Marsha. "Oh iya.. Batalkan janji ku malam nanti. Aku akan pulang cepat hari ini" lanjut Rey bersemangat. • MARSHA POV • Jantung ku terus saja terpacu begitu kencang. Wajah Rey masih terlihat jelas di kepala ku. Astaga.. Ada apa ini? Aku mempercepat langkah ku menuju apartement Rey. Aku menjatuhkan diri ku di atas sofa raksasa milik Rey sambil berusaha melupakan kejadian tadi di dalam mobil. "Sepertinya kamu sudah sangat mengenali ku" Kalimat itu serta senyuman Rey kembali membayangi ku yang tengah sejenak memejamkan kedua mata ku saat menyandarkan pundak ku di sofa. Aku baru pertama kali melihat senyuman seperti itu terukir di wajah tegasnya. Lalu ponsel ku berdering dengan nama ibu ku yang tertera di sana. Aku menjawabnya dengan penuh semangat dan memberikan kabar ku pada mereka. Aku sangat lega saat mendengar kabar mereka di Bandung baik-baik saja, begitupun mereka yang juga mendengar kabar baik ku. Percakapan ku dengan ibu membuat kepala ku yang di penuhi wajah serta senyuman Rey sedikit teralihkan. Aku mengeluarkan cake yang tadi Rey belikan untuk ku. Aku mencicipinya sambil mengobrol dengan ibu di panggilan. Sudah tiga puluh menit berlalu Aku mengobrol dengan ibu membuat ia harus mengakhiri panggilannya bersamaan dengan cake ku yang berhasil ku habiskan. Aku menata isi kulkas Rey dengan beberapa bahan yang tadi berhasil ku beli di supermarket. Pekejaan rumah telah ku selesaikan membuat ku merebahkan diri sejenak di atas sofa itu lagi sambil memejamkan mata ku. • AUTHOR POV • Matahari mulai tenggelam saat hari menjelang malam membuat Rey bersiap untuk kembali ke apartement setelah ia memindahkan jadwal temunya di hari lain. Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan standar menuju apartement miliknya. Rey berhasil menepikan mobilnya di dalam basement apartement dan berjalan menuju lift untuk mengantarkannya pada lantai apartementnya. Bunyi kode yang di masukkan membuat pintu apartementnya terbuka. Tidak ada suara yang terdengar, di mana biasanya ia dapat mendengar suara televisinya yang sedang memutarkan drama yang di tonton oleh Marsha. Langkah demi langkah mengantarkan Rey menyusuri apartementnya hingga pandangannya jatuh pada Marsha yang masih terlelap di atas sofa. Ia mulai mendekat dan menatap wajah polos Marsha dengan lekat. Wajah polos Marsha mengingatkan Rey saat pertama kali keduanya bertemu di bar tempat kakak sepupu Marsha bekerja. Kakak sepupu yang juga tega menjual Marsha padanya dengan harga $100,000. Entah apa yang terjadi, sikap keras yang menjadi ciri khas Rey tampak luluh menatap Marsha yang tidak berdaya di hadapannya. Tangan yang tidak ia sadari kini tengah memisahkan helai demi helai rambut Marsha yang tampak memenuhi wajahnya. Sambil mengulas senyum ia menyelimuti Marsha dengan jas miliknya lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Rey meninggalkan Marsha yang masih terlelap untuk membersihkan dirinya. Lalu Marsha terbangun dan mendapati hari sudah malam. Ia terkejut dan terlihat panik saat mendapati jas Rey membalut dirinya yang tadi sedang terlelap. "Astaga.. Aku ketiduran dan dia sudah kembali" ucap Marsha yang mencari keberadaan Rey. Aksi tergesa-gesa Marsha membuat ia memperlebar bola matanya saat ia tidak sengaja membuka pintu kamar milik Rey dan mendapati Rey yang tengah memakai piyamanya. Pundak lebar bagaikan seorang atlet, d**a yang bidang serta perut yang sixpack membuat ia menelan salivanya dengan pemandangan yang tak sengaja ia temukan. "Kyaaaaa!!!" teriak Marsha yang juga mengagetkan Rey. Rey mendapati Marsha yang berada di ambang pintu dengan raut wajah terkejutnya. "Astaga.. Kamu mengagetkan ku, Marsha!" ucap Rey santai. Marsha menutup pintu kamar Rey kembali dan berlari menghilang dari pandangan Rey. Rey menarik senyum saat ia menyaksikan kembali sikap lucu Marsha. Rey mempercepat memakai piyamanya lalu menyusul Marsha ke kamarnya. Langkah demi langkah mengantarkan Rey menuju kamar Marsha. "Kenapa kamu berteriak?" tanya Rey saat ia berhasil masuk ke dalam kamar Marsha. Marsha menelan kembali salivanya saat rambut basah Rey membuat penampilan Rey semakin tampan dan menggoda. "Ah itu.. Hm, maaf. Tadi Aku tidak sengaja melihatnya" "Melihat apa? Apa yang kamu lihat?" tanya Rey sambil tertawa. "Saat tadi itu--oh iya, maaf tadi Aku ketiduran setelah mengisi kembali bahan-bahan di kulkas yang tadi ku beli di supermarket" jelas Marsha. "Kenapa memang kalau kamu ketiduran? Apa Aku pernah melarang mu tidur? Tidak, kan?" Marsha terdiam lalu mengagguk menatap Rey. "Jadi.. Kulkas sudah terisi kembali?" Marsha kembali mengangguk. "Hm.. Baiklah. Oh iya, Apa kamu sudah makan malam?" tanya Rey. Marsha menggeleng. "Aku ingin kamu bersuara kalau Aku sedang bertanya pada mu. Kalau kamu tidak merespon ku dengan kata-kata itu sama saja kamu mengabaikan ku. Paham?" jelas Rey. "Iya.. Maaf" balas Marsha. "Ayo makan.. " Marsha mengekor di belakang Rey menuju dapur untuk menyiapkan makan malamnya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN