Sabtu pagi, mereka semua berkumpul di dekat hutan. Tentunya termasuk Eiji yang sudah agak sembuh dari trauma yang ia alami. Yvone seperti biasanya bertindak diktator, main perintah tak peduli dengan keberatan dari peserta paksaan tersebut. Eiji menjaga jarak, sembunyi di belakang Kae akibat ulah iseng Ernest yang sengaja memeluknya centil hanya agar bisa mendengar suara jeritan ketakutan Eiji. “Huss... Jauh-jauh sana!” Usirnya sambil gemetaran. “Kau itu ya, sama Kae sudah tak takut. Tapi sama Ernest malah jerit-jerit.” Heinz langsung mengoceh, sedikit cemburu. “Iya tuh! Padahal aku lebih cantik dari Kae lho...” Ernest makin menjadi-jadi, lari ke belakang Eiji dan memeluknya manja. Membuat Kae kelabakan terseret ke dalam permainan kabur-kaburan sambil jerit-jerit itu. “Kau i

