PROLOG

1005 Kata
“Gueee stresssss! Mikirin skripsi ini gimana! Orang lain udah dapet judul, kenapa gue enggak?! Kenapaaaa, Tuhaaaannnn?!” teriak seorang perempuan bernama lengkap Raisa Revallina Putri. Mahasiswa jurusan hukum yang heran dengan nasibnya. “Gue gak paham, gue gak bisa.” “Lagian salah lu sendiri gak pernah belajar serius! Gak pernah perhatiin dosen! Gak pernah belajar. Sekarang bingung kan? Lu tau gak penelitian empiris sama normative bedanya apa?” Ketika temannya yang bernama Arum itu bertanya, Raisa menggelengkan kepalanya. Mereka sudah menginjak semester tujuh sekarang, baru juga masuk ke pertemuan kedua. Namun, fakultas hukum sedang mengadakan program untuk menaikan akreditasi. Jadi mahasiswa angkatan 2019 alias angkatannya Raisa bisa lulus dalam kurus waktu 3,5 tahun jika sudah mendapatkan judul dan melakukan seminar proposal setelah UTS nanti. Teman teman Raisa yang ambisius ingin mengikuti program itu, Raisa juga. Tapi apalah daya karena dirinya bahkan tidak memiliki gambaran untuk study yang akan dia ambil. Kuliah saja hanya sekedar masuk ruangan dan diam. Niainya normal, tapi lumayan didominasi huruf C. “Mending lu buka buka buku Kapita Selekta Hukum Pidana, ini kita mau belajar sama Pak Juan loh, dekan Fakultas Hukum. Lu gak inget dia killer?” Raisa menoleh pada sang sahabat, dia tau kalau pria itu paling ditakuti di fakultas hukum. “Gue nyiapin mental sejak semester 4 loh pas denger kalau banyak mahasiswa yang susah lulus karena dia. Bikin gue nyesel ambil kekhususan Pidana.” “Bodo ah, itu dosen gak akan peduli sama gue. Gak akan kenal sama gue juga,” ucapnya dengan enteng. Sampai kelas tiba tiba hening dikerenakan seseorang masuk. Itu dia! Dekan Fakultas Hukum yang bernama lengkap Juanda Farenzo. Pria berumur 35 tahun yang dikutuk banyak mahasiswa karena menyulitkan saat mereka sidang skripsi, juga dosen paling pelit nilai, juga si pembuat aturan. Akibatnya, banyak orang yakin kalau pria itu terkena kutukan BUJANG LAPUK dikarenakan membuat mahasiswa menderita. Lihat saja, dia belum menikah di saat umurnya hampir kepala empat. Ketika pria berkacamata itu mengedarkan pandangannya pada seisi kelas, mereka menahan napasnya karena gugup kecuali Raisa yang merasa biasa saja. “Saya mohon maaf karena baru bisa masuk sekarang. Minggu kemarin saya harus menyelesaikan pekerjaan saya sebagai dekan ke luar kota.” Hih! Raisa sebal hanya dengan mendengar nada suaranya. Pemimpin fakultas yang terlihat menyebalkan di matanya. “Sebelum masuk ke pelajaran, saya akan mengulas dulu semua materi dari sementer sebelumnya. Yang dapat menjawab bisa tetap berada di dalam kelas, yang tidak menjawab silahkan keluar. Namun absen tidak akan berlaku, kalian tidak dianggap hadir jika sampai keluar dari ruang kelas.” Sontak semua orang saling membisiki satu sama lain, riuh karena tidak suka dengan ketentuan tersebut. “Kenapa? kalian tidak suka dengan ketentuan saya?” Suara dinginnya mengambil atensi semua orang. “Tidak, Pak.” Jawab semuanya serentak kecuali Raisa. Keadaan mulai mencekam ketika Juan mulai membuka buku absensi. “Seperi yang kalian pelajari di semester sebelumnya kalau delik aduan adalah delik yang hanya bisa diproses apabila diadukan oleh orang yang merasa dirugikan. Ketika korban KDRT menagguhkan gugatannya dikarenakan akan berdamai dengan si pelaku, apakah korban telah melanggar pasal 44 ayat 1 Undang Undang Nomor 23 Tahun 2004?” pria itu membacakan pertanyaan pertama, dan nama yang dia panggil adalah, “Raisa Revallina Putri. Saya butuh penjelasan dari kamu.” Raisa langsung diam, dia tersenyum sambil menahan senyumannya. *** Seperti yang Raisa duga, dia keluar dari kelas. Bersyukur Karena dia bisa pulang lebih awal mengingat ini adalah pelajaran kedua pada hari senin ini. masih pukul 10, Raisa memutuskan untuk pulang ke flat yang dia sewa selama dua tahun terakhir ini. Mengemudikan mobilnya sendiri, sambil melamunkan bagaimana nasibnya yang tertinggal oleh teman temannya. Minat pada dunia hukum sudah berkurang, Raisa merasa salah jurusan. Namun dia sudah semester tujuh, sebentar lagi dia akan mengambil gelar itu. Hanya satu semester lagi, dia tidak ingin menyerah. Setidaknya mendapatkan dulu gelar itu, bodo amat dengan ilmu yang dirinya dapatkan. Karena melamun, Raisa tidak sadar lampu merah hingga membuatnya menabrak seseorang. Suara itu begitu keras, Raisa panic dan langsung keluar dari mobil. Dia kaget melihat seorang wanita tua dan seorang anak yang tidak sadarkan diri di sana. Karena jalanan sepi, Raisa sendiri yang memanggil ambulance. Dia bahkan mengikuti ambulance itu ke rumah sakit. Dia tidak akan lari untuk mencari masalah, dia akan bertanggung jawab. Semoga saja bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Saat sang dokter menjelaskan kalau tulang wanita itu patah dan mendapatkan jahitan di kepala, Raisa panic. “Terus? Yang anak kecilnya bagaimana?” “Baik baik saja, hanya terkena benturan di kepala.” Ketika wanita tua itu sadar, Raisa diperbolehkan masuk ke dalam. Matanya langsung berkaca kaca. “Bu, saya yang nabrak Ibu. Saya minta maaf. Saya akan ganti rugi semuanya, tolong jangan laporkan saya ke polisi, Bu,” ucap Raisa. “Mari selesaikan secara kekeluargaan.” Melihat wanita muda yang menangis, wanita tua itu kaget juga. “Kalau saya gak masalah diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi tunggu majikan saya ke sini dulu ya. tadi saya sudah minta perawat buat telpon dia, dia dalam perjalanan ke sini.” Haduh! Pasti anak orang kaya yang tidak sengaja dia tabrak! Mana tidak sadarkan diri! Melihat seragam sekolah anak itu saja membuat Raisa yakin kalau anak itu bersekolah di tempat yang mahal. “Kenzo?” panggil seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Wajah Raisa langsung membeku kaget. “Pak Juan?” Pria itu focus pada anak kecil yang terbaring tidak sadarkan diri. “Gimana keadaannya, Bi?” “Dokter bilang hanya mengalami benturan, Pak. Dedek Kenzo baik baik saja dan akan segera sadarkan diri sebentar lagi.” Penjelasan dari pengasuhnya. Kemudian Juan menegakan tubuhnya, menatap pada Raisa yang ada di sana. “Kamu pelakunya? Yang nabrak anak saya?” Anak? Wowww! Raisa tidak tau kalau perjaka tua ini punya anak! Ini adalah berita yang hangat jika mereka tau. “Kamu denger gak saya bilang apa?” “Maaf, Pak. Saya gak sengaja, sumpah. Saya akan tanggung jawab, untuk semua biaya dan lain lainnya.” Raisa memohon bahkan sampai matanya berkaca kaca. Juan bukan sembarang dosen, bukan sembarang dekan! Hell! Dia juga pengacara!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN