Suara Aira yang tengah menangis di sudut ranjang, menyadarkanku akan banyak hal. Aku bukanlah siapa-siapa di antara mereka. Tidak akan ada sisa kenangan meski Aira mengingat hari di mana mereka tengah bersama. Aku adalah orang lain yang tidak pernah dianggap ada. "Allen ingin bicara denganmu besok," kata Dokter Anis sesaat setelah Aira pergi dari rumah sakit. Aku nyaris lelah karena menunggu begitu lama di toilet. Saking kuatnya, bau karbol rumah sakit seolah meracuni pernapasanku. "Kenapa tidak menghubungiku sendiri? Nomorku belum ganti," gumamku menunduk, mengambil topi yang sempat jatuh di bawah tempat tidur. Kulihat Ham sudah memejamkan matanya. Syukurlah, kalau tidurnya sudah jauh lebih nyaman. "Nomormu sudah dihapus." Allen menatapku tidak enak. Aku hanya meringis tidak pedu

