Liora duduk di tepi sofa rendah dengan kotak perunggu terbuka di pangkuannya. Aroma salep yang hangat dan sedikit getir, bercampur herba mengisi ruang istirahat yang kini sunyi. Api perapian berderak pelan, seolah paham ia diminta menjaga rahasia. “Diam, hm?” ucap Liora lirih, lebih pada dirinya sendiri, namun sudut bibirnya terangkat tipis saat ia melirik Aldric. Aldric menurut. Ia duduk tegak dan bahu sedikit dimiringkan agar wajahnya mudah dijangkau. Ketika jemari Liora menyentuh tulang pipinya yang lebam, sentuhan itu sedikit ragu, seperti orang yang takut melukai sesuatu yang berharga. “Aa …” Aldric refleks mengerang pelan terdengar manja tanpa ia sadari. “Tahan sebentar,” Liora menegur tegas. Wajahnya serius dan fokus dengan ujung jemarinya telah berkilat oleh salep. Jemari Lior

