Pak Kevin Doping
Online
Nanti bimbingan di ruangan saya
jam 07.00 pagi. Jangan terlambat
Navyla
Online
Baik pak
Navyla kembali memandang pesan yang sudah membuat rumah nya heboh pagi tadi. Sudah jam 09.00 tapi dosen galak yang dia tunggu tunggu itu belum juga datang. Kalau tau begini Navyla lebih baik memasak kan ibu nya makan siang dulu sebelum pergi ke kampus.
“Vy,” panggil seseorang bersuara berat di samping Navyla.
Lelaki itu memandang Navyla sambil tersenyum antusias. Lelaki itu adalah Adi. Salah satu mahasiswa kampus ini yang berani mendekati Navyla.
Bahkan sampai ke tahap membuat Navyla takut.
“Lagi nungguin pak Kevin ya?” tanya Adi sambil mendarat kan b****g nya ke atas tempat duduk di samping Navyla. Navyla hanya membalas nya dengan anggukan.
Mata nya sebisa mungkin melirik ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan Kevin. Ia sudah benar benar tidak nyaman di sini, namun bagaimana jika Kevin tiba tiba datang saat Navyla sudah memutus kan untuk pergi.
“Kamu kenapa gak balas chat aku semalam Vy?”
“Hah?” gumam Navyla kebingunan. Sejujur nya Navyla sangat jarang membuka chat w******p nya, biasa nya ia hanya membuka aplikasi itu hanya untuk menghubungi dosen dan list orang orang penting lain nya. Dan tentu saja Adi tidak termasuk ke dalam list tersebut.
Di saat tangan Adi hendak menggenggam tangan Navyla, buru buru perempuan itu mengambil ponsel dari dalam tas nya. Entah kenapa ibu jari nya refleks mengirim kan pesan ke nomor Kevin.
Navyla
Online
Bapak di mana? Cepetan dong pak,
saya udah nunggu dari tadi nih.
Lama banget
Pak Kevin Doping
Online
What the..
Siapa yang ngajarin kamu
mengirim kan pesan seperti
itu ke saya?
[Incoming call from Pak Kevin Doping]
Navyla menatap layar ponsel nya ketakutan, tak henti henti Navyla merutuki betapa bodoh di ri nya. Kalau nanti skripsi nya bermasalah hanya karena ini, Navyla tidak akan pernah memaaf kan Adi sampai kapan pun.
“Ada yang ingin kamu tanya kan pada saya Adi?” tanya Kevin tiba tiba berada di dekat mereka.
“EEh? Selamat pagi pak,” ucap Adi gelagapan. Jujur saja, aura Kevin memang benar benar mampu mengintimidasi siapapun yang berada di dekat nya.
“Sedang apa kamu di depan ruangan saya?”
“Saya cuma numpang duduk pak, sekalian nemanin Navyla di sini,”
“Kalau tidak ada urusan apa apa dengan saya, kamu bisa pergi dari sini, Navyla. Ayo masuk,” ujar Kevin mendahului Navyla.
Navyla mengangguk cepat lalu mengikuti Kevin masuk ke dalam ruangan nya. Karena gugup jemari Navyla saling beradu memain kan kuku nya. Sudah sekitar sepuluh menit Navyla duduk di sofa ruangan Kevin namun tidak ada sedikit pun keluar dari mulut Kevin.
Apa dia benar benar marah?
“Maaf saya terlambat,” ujar Kevin sambil menatap mata Navyla.
Perempuan itu langsung menunduk kan kepala nya. Ia tidak mampu menatap Kevin dengan sangat intens seperti itu.
Maaf? Kok jadi dia yang minta maaf? Bukan nya tadi aku yang sembarangan ngechat dia?
“Lain kali jangan menghubungi dosen seperti itu, terutama saya. Tapi untuk saat ini, karena saya juga salah. Jadi saya anggap kita impas,” ujar Kevin seraya meletak kan kertas proposal milik Navyla.
“Duduk di sini,” ucap Kevin lagi dengan jari telunjuk yang mengarah ke kursi di depan meja nya.
Tanpa menunggu apa apa lagi Navyla mengambil posisi nya di tempat duduk tersebut lalu melipat tangan nya di atas meja. Kevin melihat ke arah jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kanan mahasiswa bimbingan nya itu.
Jam itu mirip sekali dengan jam tangan yang ia beri kan pada putri semata wayang Wanda. Lagi lagi Navyla kembali mengingat kan Kevin pada wanita tua yang sangat ia hormati dulu, kira kira sedang apa Wanda saat ini? Apa dia sudah makan?
“Pak?” panggil Navyla menyadari kan Kevin dari lamunan nya.
“Ya? Oh iya, ini proposal kamu sudah saya baca dan sudah saya lingkari bagian mana saja yang perlu kamu perbaiki lagi,”
“Baik pak, terima kasih banyak pak,”
Kevin mengangguk lalu mempersilah kan Navyla pergi.
Navyla pun bangkit berdiri dan tanpa sengaja tangan nya menjatuh kan bingkai foto yang ada di meja Kevin hingga kaca bingkai tersebut pecah.
“Astaga!” sahut Kevin murka.
“Maaf pak, maaf,” ucap Navyla gelagapan sambil memberes kan kaca kaca tersebut. Mulut nya meringis saat kepingan kaca tersebut berhasil menggores tangan nya.
Mata nya menatap luka di jemari nya sekilas, Wanda pasti akan menanya kan tentang luka ini jika melihat nya nanti.
“Pergi dari ruangan ku!” bentak Kevin begitu keras hingga tubuh Navyla membatu ketakutan.
Navyla bangkit berdiri lalu mengambil beberapa langkah ke belakang menghindari Kevin. Lelaki itu mulai sibuk mengangkat bingkai foto di tangan nya ke atas meja lalu membersih kan kaca kaca yang bersera kan di lantai.
“Pak, maaf kan saya,” ujar Navyla dengan mata yang berkaca kaca dan suara yang seolah tercekat.
Navyla benar benar merasa bersalah, kenapa seharian ini di a terus membuat masalah di depan Kevin.
“Kalau saya bilang pergi ya pergi, mau ngapain kamu di sini terus? Mau ngerusakin barang barang saya lagi hah?!”
Navyla menunduk untuk menetes kan air mata nya,tangan nya mulai membuka pintu ruangan Kevin dan pergi sesuai dengan perintah dosen pembimbing nya itu.
Kevin membuang sisa sisa bingkai kaca itu ke tempat sampah setelah mengambil satu satu nya potret Kevin dengan Wanda sewaktu ia kecil dulu.
Kevin tidak pernah mengenal ibu nya, bah kan saat ia lahir ibu nya sudah tiada dan dia di rawat oleh sebuah keluarga yang hanya berniat untuk menjadi kan nya pengamen dan penjual koran.
Selama delapan tahun ia menjalani hidup sebagai anak jalanan, mulai dari bayi yang biasa nya ia di bawa orang orang untuk menemani mereka mengemis di jalan, sampai menjadi pengamen di pinggir lampu lalu lintas. Semua nya telah Kevin rasa kan dulu.
Wanda adalah sosok pertama yang memberi kan Kevin kasih sayang layak nya seorang ibu, mungkin yang Wanda ingat hanyalah saat ia memberi kan Kevin sebuah ubi bakar setiap pagi nya. Namun yang Kevin ingat selama hidup nya sampai saat ini, Wanda adalah sumber kasih sayang yang ia dapat kan dulu terlepas dari segala penderitaan yang ia rasa kan sewaktu kecil.
Sekarang foto tersebut sudah usang dan bingkai nya pun sudah di hancur kan oleh anak bimbingan nya, Kevin benar benar kesal sampai sampai sempat terbesit di pikiran nya untuk menggagal kan Navyla saat ujian nya nanti, tapi ya sudah lah, masalah ini tidak perlu di perpanjang lagi, nanti Kevin akan mengajak Wanda dan putir nya untuk foto bersama lagi.
Kevin menarik nafas nya dalam dalam berusaha untuk menenang kan diri, lalu berjalan keluar dari ruangan nya untuk mencari udara segar.
“Ibu kenapa?!” teriak Navyla yang ternyata masih ada di depan ruangan sang dosen pembimbing.
“Oke Vivy ke sana sebentar lagi pak, tolong jagain ibu ya pak,”
“Kenapa Vy?” ta nya Kevin penasaran.
Perempuan itu menatap Kevin sendu, ia tidak tau harus berbuat apa, semakin hari kondisi ibu nya semakin buruk, kalau sampai ibu nya kenapa kenapa, Navyla tidak tau lagi harus hidup demi siapa.
“Mau saya antar?” tanya Kevin seolah tau apa yang sedang Navyla alami.
Tanpa berpikir panjang Navyla mengangguk setuju dan mengikuti Kevin menuju parkiran mobil nya, mata nya melihat kearah mobil Ferarri berwarna merah di depan nya, lagi lagi mobil yang Kevin bawa ke kantor berganti, sebenar nya apa yang di cari Kevin sampai harus menyewa mobil mobil mahal hanya untuk di parkir di basement kampus?
“Kamu mau kemana?” tanya Kevin membuat Navyla kembali mengingat tentang kondisi ibu nya.
“Rumah sakit Cinta Kasih pak,” jawab Navyla seraya memakai sabuk pengaman nya.
Kevin membawa mobil nya dengan begitu cepat dan stabil, Navyla sempat kagum dengan kemampuan mengemudi Kevin, namun saat mengingat tadi Kevin sudah membentak nya membuat Navyla menarik rasa kagum nya itu.
“Saya antar saja ya, saya masih banyak pekerjaan di kampus,” ucap Kevin saat Navyla keluar dari mobil.
Navyla mengangguk dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan ibu nya di rawat.
“Vy,” panggil Wanda yang sedang tersenyum ke arah putri kesayangan nya dengan wajah pucat.
“Ibu!”
“Kamu jangan sedih gitu, ibu gak kenapa kenapa kok. Maaf ya Vy ibu ganggu waktu kamu lagi,” ucap Wanda terlihat sedih.
“Ih ibu jangan ngomong gitu, ibu gak pernah ganggu waktu Vivy kok,” balas Navyla dengan air mata yang mengalir di pipi nya.
Disaat ibu nya drop seperti ini adalah saat di mana Navyla merasa sangat tertekan dan ketakutan, ia terus berpikir bagaimana jika suatu saat ibu nya tidak mampu lagi bertahan dan pergi meninggal kan Navyla sendirian di dunia ini?
Bagaimana jika ia tidak bisa lagi mendengar suara atau pun melihat senyum ibu nya?
Navyla sudah pernah merasa kan pedih nya di tinggal kan oleh seorang ayah yang bahkan tidak pernah menyayangi diri nya. Navyla yakin dia tidak akan bisa menahan rasa sakit di hati nya jika nanti satu satu nya sumber kebahagiaan dan kekuatan milik nya harus ikut pergi.
“Ibu jangan sakit sakit gini dong bu, Vivy sedih kalau ibu sakit,” ucap Navyla sambil menangis pilu.
“Vivy gak mau sendirian bu, kalau ibu sakit sakit gini, Vivy jadi makin takut kalau ibu bakalan ninggalin Navyla,” ujar nya lagi.
Tangan Wanda bergerak untuk membelai lembut putri nya, ia takut kondisi nya yang sudah sangat renta ini pasti membuat anak nya sedih, ia sendiri pun tidak tau kapan ia akan di panggil oleh Yang Maha Kuasa, yang ia ingin kan sebelum ia pergi dari dunia ini adalah melihat putri nya bahagia bersama seseorang yang mampu mencintai Navyla sama seperti diri nya mencintai anak nya ini.
“Nak,” Panggil Wanda pelan.
“Iya ibu?”
“Kita pindah ke rumah nak Kevin ya, ibu gak mau kamu capek ngurusin ibu terus,”
“Tapi kan Vivy gak pernah kerepotan ngurusin ibu,”
“Ah itu nak Kevin udah datang, kamu pulang dulu ya, bantu nak Kevin mindahin barang barang kita ke rumah nya,”
“Hah? Kevin?” Navyla spontan membalik kan badan nya dan melihat orang yang paling ia takuti di kampus berdiri di sana.
“Bapak?” gumam nya dengan suara yang bergetar ketakutan.
“Nak Kevin, perkenal kan, ini Navyla, putri ibu satu satu nya,” ucap Wanda lembut namun berhasil membuat Kevin membatu saat itu juga.