Dengan di balut oleh gaun berwarna cream Juni duduk di sebuah meja makan raksasa di tengah tengah ruangan super mewah dengan puluhan hiasan seperti lukisan dan patung gajah. Sambil tersenyum lembut mata nya menatap ke arah seorang laki laki paruh baya dengan sebuah selang yang bersarang di salah satu lubang hidung nya. “Yura sebenar nya sedih karena bisa makan semua hidangan lezat ini sedang kan papa cuma bisa melihat saja,” ujar seorang perempuan dengan penampilan yang sangat anggun pada pria paruh baya tersebut. Nama nya adalah Yura, adik perempuan Juni yang merupakan anak kandung dari Herman, ayah angkat nya. Sejak lahir Juni tidak pernah mengetahui siapa orang tua kandung milik nya, sedari kecil dia hidup di dalam sebuah panti asuhan

