Seorang pria berjalan ke arah Renata, menampilkan senyumnya yang hangat. Sepertinya dia habis berolahraga, terlihat dari sweater dan celana jogger serta sneakers yang dikenakannya, sangat berbeda dari kebiasaannya saat di kantor yang sangat rapi dan berwibawa. “Pak Azhar?” sapa Renata saat Azhar menghampirinya. “Ngapain kamu di sini?” Azhar memperhatikan keadaan sekitar. “Saya ... abis nganterin anak saya ke dalam. Dia ikut main sama temannya.” Renata menjawab bohong, tak mungkin menyebutkan nama Rasyadan. “Oh.” Azhar manggut-manggut. “Mau pulang?” tanyanya kemudian. “Iya.” Renata mengangguk singkat. “Saya antar.” Azhar mengadahkan tangannya ke mobil. “Gak perlu, Pak.” Renata malah terlihat risih. “Gak apa-apa. Jalurnya 'kan sama-sama ke sana.” Azhar memaksa secara tidak langsung.

