Kerja sama

1501 Kata
Keseharian Doris kembali normal, semenjak memutuskan hidup dan tinggal bersama mbah uti. Berangkat bekerja bertemu rekan kerja serta disibukan mengajar mahasiswa, membuat program penelitian-penelitian bersama, bahkan membimbing mahasiswa yang harus menyelesaikan skripsi di akhir tahun ini dan masih banyak lagi kegiatan lainnya di fakultas tersebut. Semua itu bagai senyawa penting dalam hidupnya. Mengajar membimbing dan bertukar pengalaman serta ilmu adalah hal yang membuat hidupnya berwarna. Doris ingin semua anak di seluruh negeri ini, mampu menyelesaikan pendidikannya dengan hasil yang memuaskan, kalau bisa mendapat nilai yang terbaik. "Seneng liat anda kembali tersenyum." Doris menoleh ke arah sumber suara, ia mendeham dan mengangguk sopan, "siang pak Fredy." sapa gadis itu pada lelaki yang berdiri di sampingnya. "Bagaimana kabar anda?" "Baik pak." sahut Doris cepat, "saya baik." Lelaki itu mengangguk puas, "ya, memang sepantasnya anda harus baik-baik saja." Doris menghela napas panjang, ia melirik ke arah jam tangannya lantas meraih tas yang tadi ia letakkan di lantai. "Saya permisi pak Fredy." "Tunggu." Doris terkejut langkahnya tertahan, ia melirik jemari kekar yang mencengkram lengannya begitu erat, "bisa kita bicara sebentar?" pinta lelaki itu, "lima menit saja." Doris mengangguk ragu, lengannya pun bebas. "Jangan di sini, pak Fredy." Doris pun melangkah terlebih dahulu yang di susul oleh Fredy. Rupanya mereka memutuskan untuk berbicara di ruangan Doris. Fredy tentu senang, karena dirinya ingin mengatakan hal penting kepada Doris. "Ada apa pak?" "Bisakah jangan berbicara formal di saat kita berdua?" "Maksud anda?" Fredy mendeham, "aku hanya ingin menghilangkan rasa canggung di antara kita." jelasnya. Doris tak mengerti namun dirinya memutuskan diam dan menyimak tanpa membalas perkataan Fredy. "Kita kenal sudah lama, Doris." "Apa yang anda inginkan?" "Mengikis kecanggungan di antara kita." "Untuk?" "Untuk..." Fredy bingung bagaimana menjelaskan maksud isi hatinya, "untuk kerjasama." putusnya. "Kerja sama?" Fredy mengangguk cepat, "iya." "Apa itu?" "Mmm... Itu..." Lelaki itu seperti sedang bingung, cara berdirinya pun tampak amat tak nyaman. "Silakan duduk pak Fredy." ujar Doris padanya sambil menengadah ke arah sofa. Lelaki itu pun meringis, ia mengangguk dan duduk sesuai perintah Doris. "Jadi apa yang ingin anda sam-" "Doris..." sela Fredy, "tolong aku, ku mohon." "Pak Fre-" "Ini masalah pribadi, Doris." sela lelaki itu lagi, "please..." Tatapan mata mereka saling bersibobrok, Doris dapat melihat tatapan pilu itu, "saya masih tidak mengerti maksud anda." "Kamu pasti pernah melihat ini." Fredy cepat meraih sesuatu dari saku celananya. "Ini cincin pertunangan aku dengan kekasihku." Doris meliriknya sejenak, tangannya menengadah dan memperhatikan baik-baik mengenai cincin itu. "Saya tidak pernah melihatnya." "Apa kamu yakin?" Doris mengangguk, "cincin itu indah, tapi saya tidak pernah melihatnya." ujarnya lantas mengembalikannya kepada Fredy, "Apa anda kehilangan pasangan cincin itu?" "Bukan." sahut Fredy tersenyum pilu. Awalnya dirinya berharap gadis di hadapannya tersebut pernah melihat cincin itu namun rupanya Doris mengatakan tidak. Fredy pun menatap begitu dalam logam emas yang terdapat ukiran unik berbentuk lingkaran itu. Sempat ia memakai sejenak ke jari manisnya sendiri namun tak lama kemudian ia kembali menyimpannya di dalam saku celananya, "bukan cincinnya." ujar Fredy lirih. "Lalu?" "Yang memakai cincin." Doris menutup mulutnya terkejut, "astojim, tunangan bapak hilang kah?!!!" pekik Doris. "Lebih tepatnya meninggal-" "Mati?!!!" sela Doris memekik tak kalah terkejut dari sebelumnya. Sudahlah, menjelaskan kesalahpahaman yang berlebihan begini memang merepotkan. Fredy memasang wajah penuh memelas, "bisakah kamu mendengarkan omonganku dulu?" Doris menganggukkan kepala dua kali, "Helen tidak meninggal, Doris." jelas Fredy akhirnya. "Dia hanya pergi." Doris sontak menghela nafas lega " oh baguslah, saya kira tadi... Hehehe..." Memang mulut Doris terkadang suka ceplas ceplos, ia pun tak sampai hati mengatakan kalimat selanjutnya yang sudah salah sangka. "Lalu apa? Pergi meninggalkan bapak, begitu?" tebaknya sambil tertawa merasa lucu, "mana mungkinlah pak, lha wong anda itu pria yang sangat tampan dan berhati baik." lanjutnya. "Tapi kenyataannya memang begitu." Doris sontak menoleh ke arahnya lagi, "ini beneran?" pekik Doris lagi, "bapak di campakan oleh tunangan bapak?" Doris kembali terkejut sambil melotot, "mana mungkin pak?!!!" "Bisakah jangan terlalu keras bicaranya." ujar Fredy lemas, "nanti di dengar orang, kan malu." Akibat keterkejutan Doris yang begitu luar biasa, dirinya tak menyadari suaranya ikut menggelegar hingga banyak mahasiswa dan mahasiswi di luar ruangannya mencuri-curi dengar perbincangan mereka berdua membuat gadis itu mendeham dan meringis meminta maaf. "Tapi kenapa anda menanyakan itu ke saya?" "Apa?" "Soal cincin anda tadi." "Aku pikir kamu pernah melihatnya, dan menyadarinya hal lain." "Saya nggak paham." "Apa kamu lupa, kalo aku temannya Abi?" Doris tersenyum, "ingat, saya ingat betul." kekehnya, "bahkan saat anda merencanakan double date waktu itu, saya pun masih ingat." Fredy ikut terkekeh, "sayangnya tunanganku mendadak sibuk dan gagal double date-nya." mengingat itu mereka tergelak bersama. Nasib Fredy yang malang harus menyaksikan kemesraan Abi serta Doris sendirian saat kencan bersama tapi gagal waktu itu. Tok... Tok... Tok... Mereka sontak menoleh serempak ke arah pintu, "sepertinya kamu sibuk, Doris." Fredy menepuk kedua pahanya dan bangkit dari duduk, "lain kali kita sambung lagi." Doris mengangguk namun dirinya merasa ada sesuatu yang kurang dan aneh. Entah apa itu. Yang pasti saat melihat punggung lebar Fredy, Doris ingin sekali memeluknya, ikut merasakan kepedihannya, namun justru Doris kembali merasa perih di hati yang hampir hilang. "Loh pak Fredy?" ujar Rita heran, "saya salah ketok pintu bapak, atau ruangan ini sekarang milik anda?" "Sore bu Rita." Rita mengangguk kaku, "so-sore pak." sahutnya canggung, sepertinya gadis itu salah mengetuk pintu. "Kalo nggak masuk, tutup kembali pintunya." Lagi-lagi Rita dibuat terkejut, matanya melotot melihat Doris yang sedang duduk di dalam. Rita semakin linglung, kenapa malah Fredy yang membukakan pintu untuknya, kenapa bukan Doris? Kepalanya pun menoleh dua arah yaitu ke arah Doris lantas Fredy yang semakin melangkah menjauh dari tempatnya berdiri sekarang. "Ta...!" "Heh, iya..." Rita gelagapan, ia pun masuk dengan segera, "tutup pintunya, Ta." gadis itu kembali berbalik arah untuk menutup pintu ruangan Doris. "Do..." panggilnya. "Apa?" Rita menunjuk ke arah pintu yang masih bingung, "itu tadi ngapain Fredy ke sini?" Doris mengendikan kedua bahunya, "lo sendiri?" "Hah?" "Lo ngapain ke sini?" "Oh itu..." Rita meringis sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal, "temenin gue donk." rengeknya. "Ngapain?" "Sebentar lagi nih, gue serta anak-anak bakal tampil di acara pentas seni budaya di keraton." ujarnya penuh antusias, "Sri Sultan Hamengku Buwono ama family-nya bakal nontonin kita, lo bisa bayangin nggak tuh?" "Terus?" "Tapi kendalanya, gue kurang media." Doris menaikan satu alis lantas menutup buku yang sempat iya baca baru saja, "apa? Lo mau apa?" Rita tersenyum lebar, ia mengeluarkan sebuah lembar kertas yang tampak sebuah tulisan kecil-kecil di sana. "Apa ini?" Rita hanya mengendikan dagunya ke arah lembaran tersebut yang sudah di letakan pada meja kerja Doris. Dirinya ingin Doris membacanya sendiri. "Lo gilaaa?!!!" seru Doris. "Ogah, nggak mau gue." Doris menatap Rita penuh risih. Bagaimana mungkin seorang dosen bergelar doctor harus ikut serta dalam pentas seni yang akan di selenggarakan sepuluh hari lagi. "Lo sinting ya Ta? Bisa-bisanya, ish..." gerutu Doris lagi. "Yaaaahhh, Do... Kan lo tampilnya cuma beberapa detik, nggak banyak kok." "Ogah...!!!" "Lo cuma ngucapin lima kata doank di situ." "Ogaaahh...!!!" "Do... Please, kali ini aja." "Nggak mau, gue nggak mau." Rita mengatupkan kedua tangannya dan memelas, "gue minta tolong lo itu, supaya lo gantiin salah satu mahasiswa yang sedang sakit." "Kan tampilnya masih sepuluh hari." sahut Doris kesal, "dia sembuh deh." "Tetep nggak bisa, dia akan lama sembuhnya." Doris menyipitkan matanya, "sakit apa dia?" "Bukan sakit sih." "Terus?" "Di DO dari universitas sini." jelasnya lemah. Doris menghela napas panjang, ia tetap menggelengkan kepala penuh tegas. Dikiranya dengan cerita hal menyedihkan begini Doris akan merasa iba dan kasihan lantas sudi membantunya suka rela. Itu tidak akan pernah ada di dalam kamus Doris. "Nggak..." ujar Doris tegas, "lo cari lainnya saja, gue ogah." "Yakin, Do? Lo ninggalin gue sendirian di sana untuk berjuang?" Doris memutar bola mata malas, ia mulai merapikan beberapa barang yang nantinya akan di bawa pulang. "Lagian lo juga ngapain? Tugas lo itu di laborat bukan panggung seni." ketus Doris. "Kan gue tadi bilang apa, gue mau berjuang Do..." "Berjuang manggung, maksud lo?" Rita mulai senyum-senyum sendiri bak orang gila, "berjuang dapetin hati seorang pria bernama Teguh Tamtomo." Sepertinya percuma menegur sikap Rita yang tak tahu malu mengejar lelaki yang sudah beristri, karena Doris melihat kedua mata mereka mengisyaratkan suka yang membuat Doris tak ingin terlalu ikut campur. "Serah lo Ta." ujar Doris, "tapi lo musti ngerti, sikap lo yang begini, bakal ada hati yang tersakiti." "Istrinya juga selingkuh, tau." "Terus lo juga pengen bikin Teguh seperti istrinya, gitu?" Rita menundukan kepalanya, "sebenarnya bukan itu yang gue pengen." ujarnya lemah, "gue serius suka sama tu cowok." Memang kasihan, mengingat sahabatnya itu terus menjomblo semasa hidupnya, sebab lelaki yang ia sukai hanya Teguh dari awal mereka masuk SMP hingga sekarang. "Bentar deh, kenapa Fredy kesini?" ujar Rita mendadak, "jangan bilang, lo juga mau selingkuh ya Do." Doris tadinya sempat merasa iba dengan nasib Rita, namun sikapnya yang terlalu ingin tahu membuatnya kembali kesal. "Ta, denger..." Doris duduk di sebelah gadis itu, "pada dasarnya otak itu letaknya di sini, bukan di sini." jelasnya sambil menunjuk ke arah kepala Rita serta lututnya. Namun rupanya menjelaskan hal seperti ini tak membuat Rita memahaminya, gadis itu malah tergelak merasa lucu dengan ucapan Doris baru saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN