Ibnu terkejut mendengar jawaban Toni, itu artinya mereka memang sengaja tidak memberitahu Ibnu, selaku orang tua mereka. Braakkk...!!! "Kalian anggap apa, aku ini?!!!" serunya menggeberak meja. Drrttt... Drrttt... "Telepon dari siapa? Kenapa tidak kamu angkat, Toni?" Toni mengintip layar ponselnya pada saku celana. Lelaki itu menggigit bibir bawahnya ragu akan menjawab panggilan tersebut. Ia tentu tak berani menyela pembicara Ibnu, apalagi sang empu sedang dalam keadaan marah. "Angkatlah..." ujar Ibnu datar, "siapa tau itu penting." Toni tak punya pilihan lain, "dari Theo, pak." sahutnya. "Kalo begitu angkat." Toni melirik Zahir sejenak, ia melangkah sedikit menjauh namun masih dalam satu ruangan. "Bicaralah." Toni menatap lurus ke arah dinding, telinganya mendengar semua lapo

