Ajeng menatap sang putra dengan wajah khawatir begitu pun dengan Mbok Jum, sang asisten rumah tangga.
"Udah sele—"
"Hoek ... hoek."
Ucapan Ajeng terhenti karena Shaka lagi-lagi muntah. Ajeng semakin khawatir dengan putranya.
"Kha ... kamu gak papa?"
Shaka menggeleng dan masih memuntahkan isi perutnya.
"Mbok Jum, tolong bilangin Pak Yatno buat nyiapin mobil. Pokoknya aku mau bawa Shaka ke dokter."
"Iya, Bu."
Mbok Jum tergopoh-gopoh ke depan mencari Pak Yatno.
Lima menit kemudian, Yatno datang dan langsung memapah Shaka menuju ke mobil. Shaka langsung dilarikan ke klinik langganan keluarga.
Sampai di klinik, Shaka langsung diperiksa oleh Dr. Ismoyo.
"Gimana, Mas Is? Shaka kenapa?"
Ismoyo adalah rekan sekaligus dokter langganan keluarga Ari. Dia menatap Ajeng dengan mimik bingung serta dahi mengerut.
"Gimana, Mas?"
"Anakmu gak papa. Gak ada masalah yang terjadi. Aku udah cek lab juga dan hasilnya baik-baik aja."
"Tapi ... kalau baik-baik saja kenapa Shaka muntah terus? Gak doyan makan juga."
"Nah, ini!"
"Ini bagaimana, Mas?"
Ismoyo menatap Ajeng ragu.
"Cerita aja, Mas. Jangan bikin aku penasaran."
"Baiklah. Melihat tanda dan gejala yang dialami Shaka, kok aku mikirnya dia lagi ngidam ya? Tapi ... Shaka belum nikah, 'kan?"
Ajeng tentu saja shock mendengar prediksi Ismoyo. Pikiran Ajeng kembali saat dia hamil Tania dan Tristan. Selama hamil anak Ari, Ajeng sama sekali tidak merasakan ngidam seperti saat hamil Shaka dulu. Justru yang mengalami muntah-muntah, meminta makanan aneh-aneh bahkan bertingkah aneh-aneh adalah Ari.
Bibir Ajeng bergetar, apa mungkin wanita yang telah dinodai Shaka hamil? Jika benar, wanita itu harus segera ditemukan. Ajeng betul-betul merasa berdosa pada si wanita. Dalam pikiran Ajeng, wanita itu pasti sedang menghadapi masa-masa susah. Hamil tanpa adanya suami.
"Jeng. Ajeng." Ismoyo memanggil Ajeng berulang kali.
"I-iya Mas."
"Jeng ...."
"Makasih, Mas. Lakukan apa pun yang terbaik buat Shaka."
Ismoyo tidak berani bertanya lagi. Dari raut wajah Ajeng saja, Ismoyo tahu jika ada yang tidak beres dengan Shaka.
"Mas ...."
"Iya."
"Tolong jaga rahasia ini ya, dari siapa pun. Nanti Ajeng sendiri yang akan memberi tahu Mas Ari. Lagian Mas Ari udah tahu kok, masalah yang dialami oleh Shaka."
Ismoyo menarik napas lalu mengembuskannya pelan. "Kamu tenang aja. Aku bukan tipe ember bocor, kok!"
"Hahaha. Makasih, ya Mas."
"Sama-sama. Ya sudah, aku tinggal ya. Masih banyak pasien yang nunggu."
"Iya Mas."
Setelah Ismoyo pergi, Ajeng menuju ke dalam kamar perawatan sang anak. Ajeng duduk di kursi samping ranjang. Tangannya terulur untuk mengusap rambut sang putra.
"Kamu gak sendirian, putraku. Ada bunda yang akan selalu di samping kamu." Ajeng terus membelai rambut sang putra. Ajeng menengadahkan kedua tangannya. Dia berdoa.
"Ya Allah. Lindungilah wanita itu, jagalah dia selalu dan calon cucuku andai benar wanita itu hamil. Dan berilah kesempatan pada Shaka untuk bertaubat, memperbaiki kesalahannya. Hamba tahu semua ini sudah atas kehendak-Mu ya Allah. Karena itu, hamba berserah pada-Mu. Amin."
*****
Mata Safa berbinar saat Tiara datang dengan membawa sekantung kresek mangga muda.
"Wow, makasih Tiar."
Safa langsung mengambil salah satu mangga muda dan menciuminya dengan penuh kasih sayang. Tiara dan Mbok Atun hanya bisa tertawa melihat tingkah Safa.
"Mbok Atun, bikinin bumbu lutisan yang pedes banget ya?"
"Siap Mbak. Sebentar ya, Mbok siapkan dulu."
Lima belas menit kemudian, adonan bumbu yang terdiri dari ulekan gula merah, garam, cabai, bawang putih dan sedikit terasi sudah terpajang di meja makan. Safa pun sudah selesai mengupas sekaligus memotong-motong mangga muda, kedondong, bengkoang, timun, pepaya setengah matang dan nanas.
Safa segera mencoel bumbu dengan potongan mangga. Safa berteriak bahagia. Dia langsung kalap.
"Eits." Tiara menginterupsi ketika Safa hendak mengambil buah nanas.
"Cuma sepotong aja, inget! Ini demi kesehatan dedek utun."
Safa mengangguk, dia menuruti saran Tiara. Dia hanya mengambil sepotong kecil nanas, mencoelnya pada bumbu lalu menaruhnya dalam mulut.
"Mmmm ... enak banget, ya Allah."
Tiara dan Mbok Atun hanya tertawa melihat tingkah Safa. Tiara sendiri langsung mengambil buah nanas, berniat akan menghabiskannya sendirian.
Sementara Malika berada dalam gendongan Mbok Atun, Tiara dan Safa justru asik menikmati lutusan buah.
"Kamu mau apalagi?"
"Gak ada."
"Beneran?"
"Iya."
"Kamu gak mual-mual gitu?"
"Enggak."
"Aneh, padahal pas aku hamil Malika. Aku ngidam parah, hawanya sensi banget, bahkan aku sampai sebel banget sama Mas Gilang."
"Biasanya kalau hamil anak cewek gitu, Mbak Tiara. Ibunya sensian. Tapi kalau hamil anak cowok, ibunya ngebo alias gak ngidam. Kayak Mbak Safa, Mbok yakin anaknya cowok ini. Soalnya udah masuk bulan ketiga Mbak Safanya gak pernah mual-mual. Makannya banyak lagi."
"Iyakah?"
"Beneran."
"Wah, coba nanti aku lihat kalau aku hamil anak kedua terus cowok. Beneran gitu apa enggak."
"Emang kamu mau hamil lagi Tiar?"
"Ya iya dong, aku mau bikin minimal tiga."
"Ya ampun, emang enak banget ya bikin anak?"
"Kalau gak enak, Mbok Atun anaknya gak enam ya, kan, Mbok."
"Hooh."
Ketiga wanita itu tertawa bahkan Malika pun ikut tertawa juga. Ketiganya kembali menikmati lutisan sambil sesekali mengobrol. Obrolan mereka terhenti karena suara rengekan Malika.
"Hem, anak mamah kayaknya bosan ya?"
"Mbok bawa jalan-jalan aja ya Mbak Tiar. Biar Dek Lika gak rewel."
"Oke deh, Mbok."
Mbok Atun pamit membawa Malika jalan-jalan. Sedangkan Safa dan Tiara kini sedang duduk di teras belakang.
"Tiar."
"Hem."
"Makasih ya."
"Ish, kamu ini. Kayak sama siapa. Kan udah aku bilang aku udah anggap kamu saudara."
"Makasih banget."
"Udah ih, ngucapin makasih mulu."
"Hehehe."
Keduanya terdiam. Sesekali Safa mengelus perutnya.
"Gak nyangka udah masuk sebelas minggu, Tiar."
"Iya, nikmati aja."
"Iya, walau aku yakin pasti akan sangat berat hidupku kedepannya."
Ada kegetiran dalam suara Safa.
"Kamu gak mau menghubungi Mas Revan sama mamah kamu?"
"Udah, aku bilang aku lagi ke luar negeri. Kuliah lagi."
"Kenapa gak jujur aja, Fa?"
"Aku takut mengecewakan mereka, Tiar."
"Menurutku mereka akan lebih kecewa kalau kamu gak ngomong."
Safa terdiam, mengalihkan tatapannya ke pot-pot bunga yang ia tanam.
"Nanti aku pasti akan jujur, Tiar. Tapi gak sekarang."
Tiara menepuk bahu Safa pelan.
"Ada aku dan kami semua di sini. Kamu jangan takut ya?"
Safa mengangguk kemudian tersenyum tulus.
****
Seluruh keluarga Widodo menatap Shaka dengan heran. Bahkan Tristan yang kini berada di rumah karena sedang liburan, melongo menatap napsu makan Shaka yang luar biasa. Bukan porsinya tapi jenis makanan yang sedang dinikmati oleh Shaka diluar dugaan.
"Mas Shaka, putus cinta atau gimana?" tanya Tristan.
"Ngawur! Gak ya."
"Terus itu apa maksudnya malam-malam makan asinan mangga?"
"Kenapa emangnya? Kan mas doyan."
"Tapi itu gak wajar, Mas. Kalau makannya siang-siang atau pas cuacanya panas, itu kelihatan seger. Lah ini udah malam, lagi hujan pula. Yang ada aku ngilu lihatnya." Tristan begidig melihat porsi asinan yang dimakan oleh Shaka. Satu mangkok penuh.
"Ya gak usah dilihat, gampang, 'kan?"
Shaka masih asik dengan makan malamnya. Tanpa menyadari jika Ajeng dan Ari kini tengah saling menatap. Dugaan keduanya kini benar-benar menjurus pada satu hal. Shaka sedang ngidam. Dan masalahnya, mereka belum menemukan wanita hamil yang membuat Shaka terkena sindrom ... ngidam.