Menjauh

1235 Kata
Safana tengah melakukan perjalanan ke daerah Purwokerto. Dia berencana untuk tinggal di sana. Aslinya Revan dan Andini memintanya ikut ke Surabaya tapi Safa menolak. Revan dan Andini langsung pindah ke Surabaya setelah proses perceraian antara Andini dan Rudi telah selesai sebulan yang lalu. Sementara Safa memilih masih di Jakarta sampai kontrak kerjanya habis. Safa bekerja sebagai guru TK di salah satu sekolah TK Swasta cukup ternama di Jakarta. Safa mendesah, dia sedikit memijit keningnya. Sungguh dia tak mengerti kenapa takdir hidupnya serumit ini. Tiga bulan yang lalu, dia sudah mengikhaskan hubungannya dengan Dimas. Bahkan dia sampai memblokir semua hal yang berhubungan dengan Dimas. Tetapi entah kesialan atau apa, Dimas masih mengganggunya. Safa berpikir dengan menerima cinta Fandi yang sejak dulu memang mencintai Safa dalam diam, akan menghentikan tingkah Dimas. Namun ternyata tidak. Dimas masih terus mengejarnya tanpa lelah. Bahkan beberapa kali, Rudi sampai turun tangan dan mengancam Safa. Mengatakan banyak hal buruk tentang Safa di depan banyak orang juga. Bersyukur ada Fandi yang membelanya bahkan karena Fandi pula, semua yang dituduhkan oleh Rudi bisa dipatahkan. Keadaan kini berbalik bukannya menjatuhkan Safa, justru Rudi malah mengumbar aib anaknya sendiri yang sama-sama bekerja dengan Safa. Karena saking malunya, Mariana sampai resign. Safa sedikit bernapas lega setelah menerima cinta Fandi. Bersama Fandi, Safa berharap mulai menata hati dan melupakan Dimas. Namun, impian Safa musnah begitu saja karena ulah Fandi. Safa sungguh tak menyangka Fandi yang ia kira begitu tulus ternyata sangat picik. Safa merasa sedih, baik Dimas ataupun Fandi ternyata sama saja. Dimas b******k dan mengincar harta warisan kedua orang tua Safa. Sedangkan Fandi tak kalah b******k. Apa yang dia pikirkan tentang dirinya hingga hendak merampas sesuatu yang selama ini dia jaga? Entah apa yang ada di pikiran Fandi saat dia menjebak Safa. Cintakah? Ego? Atau napsu? Safa tidak tahu. Safa ingin sekali bunuh diri jika ingat apa yang telah dilakukan Fandi dan Dimas pada dirinya. Kini Safa merasa seperti manusia kotor dan tak berharga gara-gara ulah kedua lelaki yang berujung pada penyesalan terberatnya. Coba saja Fandi bisa meredam emosinya. Safa tak perlu merasa takut dan … Agh! Safa semakin tak ingin mengingatnya. Safa malu, sangat malu tetapi dengan bunuh diri malah hanya akan menambah dosanya. Bersyukur Safa masih memiliki Tuhan. Safa juga tidak mau membuat kedua orang tuanya tersiksa di akhirat nanti. Biarlah Safa menanggung semua sendiri meski dia tak yakin apakah dia mampu bertahan atau tidak. “Semoga semua baik-baik saja, semoga Engkau masih sayang padaku ya Allah.” Tak terasa air mata Safa menetes. Dia sangat rindu pada Revan maupun Andini. Tetapi untuk menghubungi mereka, Safa malu. Safa tidak mau kedua orang yang paling dia sayangi, sedih dan malu mengetahui apa yang sudah terjadi pada diri Safa. Karena itu, Safa memilih menghilang dari kehidupan keluarganya. Safa mendesah lalu menyusut air matanya dengan tissue. Safa mencoba tegar. Demi mengatasi kebosanan selama perjalanan, Safa melihat-lihat sosial media miliknya termasuk i********:. Safa tersenyum melihat potret keluarga bahagia milik para sahabatnya. Salah satunya Desty yang sudah mulai move on dari mantan suaminya dan kini sedang membuka hati untuk pria baru. Selain potret keluarga baru Desty, Safa juga melihat potret keluarga sahabatnya yang lain, siapa lagi kalau bukan si dingin bin jutek alias Tiara. Safa tak bisa tidak tertawa melihat akun i********: Tiara yang penuh dengan foto-fotonya bersama anak dan suami. Tiara yang biasanya cuek dan dingin serta jarang tersenyum terlihat bahagia sekali pada setiap postingan yang dia unggah. “Alhamdulillah kamu akhirnya jatuh cinta juga, Tiara. Aku seneng lihat kamu bahagia.” Safa mendesah pasrah, kalau boleh dia juga ingin meminta pada Tuhan agar kelak diberi rumah tangga yang bahagia seperti Tiara walau dia sendiri sanksi apa iya ada lelaki yang mau menerima Safa apa adanya. Pemberitahuan DM pada akun ig-nya membuat Safa penasaran siapa yang mengirim pesan. Safa pun membukanya. Safa menatap geram ponselnya. Tangannya menggenggam ponselnya dengan kencang. “Dasar cowok b******k! Sampai kapan pun aku tak akan memaafkanmu.” Safa memilih menaruh ponselnya di tas. Mencoba menikmati perjalanan yang masih sangat lama. Sementara di tempat berbeda, Fandi sedang mengumpati dirinya sendiri. “Bodoh! Kenapa aku gegabah, sih?! Agh, pasti Safa akan membenciku. Ini semua karena Dimas. Kalau dia tak memprovokasi, aku tak mungkin melakukan hal menjijikkan seperti ini. Aku tak mungkin … agh! Harusnya aku tahu Safa tidak seperti Ana. Dia tulus, polos dan terjaga. Agh! Bodoh. Tenang Safa, aku akan bertanggung jawab untuk semua kebodohanku.” Fandi terus mondar mandir, sesekali dia mengumpat lalu berakhir dengan teriakan dan jambakan pada rambutnya. “Kamu dimana Safa? Aku benar-benar minta maaf. Aku khilaf. Kumohon kembalilah. Aku bener-bener cinta sama kamu, Fa.” *** Safa terjaga ketika mendengar pemberitahuan kalau kereta sudah sampai di stasiun Purwokerto. Safa segera turun dengan menyeret koper tanggung dan bahu kanannya tergantung tali tas selempang. Sampai di stasiun Purwokerto, Safa celingak celinguk mencari sahabatnya yang akan menjemput. “Safa!” teriakan dari seseorang mengalihkan perhatiannya. “Tiara,” teriak Safa. “Safana.” Kedua sahabat saling menyongsong lalu berpelukan, bahkan sampai loncat-loncat. “Tiar, jangan loncat-loncat Sayang, ingat kamu bukan anak kecil.” Suara tegas dari seorang lelaki yang tengah menggendong putri kecil berusia tiga bulanan membuat keduanya memisahkan diri lalu tertawa. “Maaf, Mas. Habis kita udah lama gak ketemu. Lima tahun,” sahut Tiara. “Iya iya, kita lanjutin kangen-kangenannya di rumah aja yuk,” ajak Gilang. Mereka bertiga akhirnya bergerak menuju mobil Gilang. Selama perjalanan, Tiara dan Safana bercerita heboh, sesekali terdengar suara tawa keduanya. Gilang sendiri memilih fokus menyetir dan sesekali juga ikut masuk dalam obrolan keduanya. Sampai di rumah Tiara, Safa disambut penuh kehangatan oleh Papah Bara. “Safa.” Bara langsung mengulurkan tangannya dan disambut penuh takzim oleh Safa. “Bagaimana kabar kamu?” “Baik, Om Bara. Om sehat?” “Sehat, alhamdulillah. Ayok masuk.” “Makasih, Om.” Safa mengikuti langkah si empunya rumah. Sepanjang sore hingga menjelang tengah malam terdengar suara orang bercengkrama dan kadang-kadang diiringi tawa. Safa menikmati waktu santai dengan mengobrol bersama keluarga Tiara. “Revan udah nikah?” “Belum, Om. Mas Revan bilang nanti Mas nikahnya kalau Safa udah nikah.” “Om doakan kamu segera nikah, udah masuk dua sembilan, ‘kan? Kayak Tiara.” “Iya, Om.” “Jodoh itu memang rahasia. Bahkan suatu perjodohan adalah ikhtiar manusia. Buktinya kamu lihat temanmu ini. Dulu gak mau sama Gilang, sekarang si Gilang pulang telat aja udah kangen.” Bara menoleh ke arah putrinya yang kini menampilkan raut muka cemberut. “Ish, Papah. Gak ya. Siapa yang kangen? Papah ngarang,” elak Tiara. “Oh, jadi ceritanya kangen? Pantes setiap mas pulang telat kamu chat mulu, bilangnya Lika rewel lah, Lika nangis lah, ternyata emaknya yang kangen ini? Anaknya cuma dijadiin alibi.” “Ish, gak ya. Aku gak kangen kok, orang Malika yang kangen sama Mas Gilang.” “Halah, kangen aja sampe gengsi.” “Gak ya. Siapa yang gengsi?” Gilang terus saja menggoda Tiara sementara Tiara mukanya kini memerah menahan malu. Pemandangan ini membuat Safana yang melihatnya begitu mendamba. Bukan mendamba suami orang ya? Itu tidak ada dalam kamus Safa. Apalagi sampai merebut suami sahabatnya sendiri. Maksud mendamba di hati Safa adalah dia mendambakan seseorang yang kelak bisa ia cintai dan mencintainya. Lalu keduanya akan mengarungi rumah tangga penuh bahagia dengan mengharap ridho Tuhan YME. Ya Allah, kirimkanlah seseorang yang bisa menyempurnakanku. Aku tak mau muluk-muluk. Aku hanya menginginkan sosok lelaki yang baik, berbakti pada orang tua dan dia mau menerimaku apa adanya. Amin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN