Bab 11 Pagi yang Mengubah Segalanya

861 Kata
Kriiing… Kriiing… Kriiing… Suara dering telepon menembus keheningan pagi dan menusuk telinga Alvaro yang masih tenggelam dalam tidur lelapnya. Ia menggeliat kasar, tangan meraba-raba meja kecil di samping tempat tidur sambil mengerang kesal. “Siapa sih… pagi-pagi begini…” gumamnya dengan suara serak. Matanya melirik jam dinding. Jarumnya baru menunjuk angka 06.00. “Serius? Baru jam enam?” Alvaro mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan kesadaran sebelum akhirnya mengangkat telepon dengan malas. “Halo…?” suara Alvaro terdengar datar. “ALVARO! Kamu di mana?! Kenapa nggak masuk kerja kemarin?!” Suara berat itu langsung membuat alis Alvaro terangkat. Ia langsung mengenali suara itu—Bosnya di toko fotokopi tempat ia bekerja selama ini. “Bos… ini masih jam enam pagi,” jawab Alvaro pelan, menahan emosi. “Aku nggak peduli! Kamu pikir toko ini bisa jalan kalau karyawan seenaknya hilang? Kamu pikir aku punya waktu buat nyari kamu?!” Nada sang bos semakin meninggi. “Kemarin aku ada urusan, Bos,” jawab Alvaro lebih dingin. “Urusan?! Hah! Kamu pikir gajimu sekarang sudah cukup besar buat seenaknya libur? Begini ya, kalau kamu masih butuh kerja—” “Bos.” Alvaro memotong kalimatnya. Suaranya kini datar dan jelas. “Saya berhenti.” Hening. Entah bosnya kaget, atau sedang memproses ucapan itu. “Apa tadi kau bilang?!” “Saya berhenti,” ulang Alvaro tegas. “Mulai hari ini saya nggak kerja di sana lagi. Jadi… silakan cari orang lain.” “HEY! Kamu pikir kerja gampang dicari?! Kamu…..” Tuuut. Alvaro menekan tombol merah tanpa ragu. Ia membuang napas panjang dan meletakkan ponselnya di kasur. “Hidupku sudah tidak sama seperti dulu… aku tidak perlu diperlakukan seperti b***k lagi.” Ia bangkit dari tempat tidur, tetapi baru beberapa langkah ia merasa ada yang aneh. Sangat aneh. Bajunya… terasa ketat. “Eh?” Ia menarik kaus tidur yang melekat ketat di dadanya. Jahitannya seperti mau lepas kapan saja. Celana pendeknya pun menempel erat di paha, seperti ukuran anak SMP. “Apa-apaan ini? Bajuku… mengecil?” Tidak percaya, Alvaro berlari ke kamar mandi dan berdiri di depan cermin besar. Dan di detik itu juga, ia membeku. “A… apa ini…?” Wajahnya. Tubuhnya. Semuanya berubah. Kulit yang dulu kusam akibat kelelahan kini tampak cerah dan bersih, seperti perawatan mahal. Rambutnya rapi tanpa ia sentuh. Alisnya lebih tegas, rahangnya lebih terstruktur. Ada pancaran aura maskulin tajam yang bahkan tidak pernah ia bayangkan. Bukan hanya itu… Tubuhnya kini terlihat luar biasa proporsional. Tingginya memang sejak dulu 180 cm, tapi kini bahunya lebih lebar, dadanya bidang, otot lengannya tampak terukir rapi, pinggangnya ramping, dan keseluruhan tubuhnya tampak ideal seperti model papan atas. “LUAR BIASA!” pekik Alvaro sampai suaranya menggema. Ia menyentuh pipi, dagu, leher, bahkan d**a bagian atasnya. Ia seperti melihat versi upgrade dari dirinya sendiri. “Ap… apakah ini benar-benar aku…? Gila! Aku jadi tampan banget!” Ia memiringkan kepala, tersenyum, lalu mencobai gaya pose di depan cermin seperti aktor film aksi, bahkan meniru beberapa seleb yang sering dilihatnya di i********:. “Kalau aku terus meningkatkan status… apa aku bisa jadi setampan artis kelas dunia? Hehehe…” Lamunannya pecah saat suara ketukan pintu terdengar. Tok… tok… “Kak Varo! Sarapan sudah siap!” suara lembut Dina terdengar ceria dari balik pintu. Alvaro menahan napas, lalu menjawab cepat, “Iya, Kak segera menyusul!” Ia menarik napas panjang, menenangkan diri, lalu keluar dari kamar dengan pakaian seadanya—yang kini tampak seperti ukuran terlalu kecil untuk tubuh barunya. Saat ia memasuki ruang makan, Dina yang sedang duduk sambil menonton TV langsung menoleh. Dan rahangnya jatuh. “Kak…? Kok kakak jadi beda, ya?” Mata Dina membesar hampir seperti mau meloncat keluar. “Kakak lebih… tampan? Dan bersih?” Alvaro tertawa santai, mencoba menutupi kegugupannya. “Adik bodoh. Kakmu ini dari dulu memang tampan. Kamu aja yang telat sadar.” “Yang bener aja!” Dina berdiri dan berjalan mengelilinginya. “Kak… aku paling tahu bentuk kakak. Ini beda banget!” Alvaro menjentik kening Dina pelan. “Udah-udah, jangan dibahas. Ayo makan. Kakak udah ngiler lihat masakan buatan kamu.” Dina masih menatapnya curiga, tetapi akhirnya ia duduk kembali dan mulai makan. Di tengah mereka makan, Dina tiba-tiba bertanya sambil mengunyah pelan: “Kak… ngomong-ngomong, Kak Selena udah tau belum kalau kita punya rumah baru?” Pertanyaan itu membuat tangan Alvaro yang memegang sendok berhenti di udara. “Belum,” jawabnya singkat. Dina tersenyum lebar. “Aku yakin dia bakal seneng banget, Kak. Malah mungkin makin sayang sama kak—” “Berhenti.” Nada suara Alvaro berubah dingin. Dina terdiam, bingung. “Kami udah putus.” “A… Apa?! Putus? Kenapa?” Ekspresi Dina langsung berubah muram. Sejak lama ia dekat dengan Selena, bahkan menganggap gadis itu seperti kakaknya sendiri. “Dia memilih pria lain,” jawab Alvaro datar… tapi ketegangan dalam suaranya tidak bisa ditutupi. Dina ternganga tak percaya. “Apa?! Nggak mungkin! Kak Selena orangnya baik—” “Itu kenyataannya,” potong Alvaro pelan. Dina menunduk, sedih. “Kukira… Kak Selena gadis yang setia…” Alvaro tidak menjawab. Ia hanya mengunyah makanannya perlahan, menatap piringnya kosong. Di balik perubahan besar pada tubuh dan energinya… hatinya masih menyimpan luka. Luka yang belum sembuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN