BAB 13 Jejak Yang Menghilang

1048 Kata
BAB 13 — JEJAK YANG MENGHILANG Kota Bandung biasanya hidup dengan ritme yang tenang di pagi hari; udara dingin menempel di kulit, kabut tipis masih menggantung di antara gedung dan pepohonan. Namun hari itu, atmosfer damai berubah menjadi mencekam. Suara deruman puluhan knalpot motor membelah udara, membangunkan warga dari tidur mereka. Geng Kobra—kelompok yang dulu dikenal sebagai BMB—bergerak seperti kawanan predator yang sedang mencium aroma mangsanya. Di antara kerumunan motor itu, Baron duduk di kursi belakang sebuah motor gede, wajahnya pucat dan masih menyimpan trauma dari pertemuannya dengan Alvaro. Tetapi gengnya tidak peduli. Mereka merasa telah dipermalukan; geng besar yang ditakuti se-Bandung dihajar habis oleh satu orang. Harga diri mereka terkoyak. Dan hanya ada satu obat untuk luka seperti itu: balas dendam. Motor-motor itu berhenti di sebuah jalan sempit di kawasan rumah kontrakan Alvaro yang lama. Beberapa warga langsung menutup pintu rumah mereka, tirai jendela bergerak cepat, dan beberapa pria tua hanya bisa menatap dari jauh dengan wajah khawatir. “Tanya semua orang,” perintah salah satu petinggi Geng Kobra, seorang pria berjaket kulit hitam bernama Raga. Matanya tajam, suaranya berat, dan dia terkenal sebagai salah satu yang paling sadis di antara anggota cabang utama. Beberapa anggota turun dan mulai menyebar. “Oi, Bu!” teriak salah satu dari mereka pada seorang wanita yang sedang menyapu halaman. “Pernah lihat cowok tinggi, gondrong sedikit, badannya atletis? Namanya Alvaro!” Wanita itu langsung gelagapan. “A-a Saya nggak tahu, Nak. Dia sudah pindah beberapa waktu lalu.” “Ke mana?!” bentak anggota itu. “A-aku nggak tahu! Dia pindah mendadak... pagi-pagi sekali... nggak ada yang tahu ke mana.” Hasilnya nihil. Raga mendengus kesal. “Cari lebih teliti! Tanya semua warga!” Tapi dari pintu ke pintu, jawaban yang sama terus diulang. “Alvaro? Sudah pindah.” “Dia pergi tiba-tiba.”“Tidak ada yang tahu ke mana perginya.” Warga jelas ketakutan, namun satu hal juga jelas: jejak Alvaro sudah bersih, seakan dia menghilang begitu saja. Tak puas, rombongan Geng Kobra melanjutkan perjalanan ke SMA tempat Alvaro dulu bersekolah. Mereka datang seperti badai; hampir seratus motor memadati depan gerbang sekolah, menciptakan kepanikan besar. Guru-guru tak berani keluar, beberapa siswa yang kebetulan sedang mengikuti kegiatan pagi berlari masuk ke gedung. Baron turun dari motor, meski langkahnya sedikit gemetar. Ia tahu dia harus menunjukkan wibawa demi menjaga posisinya di geng. “Cepet cari anak-anak di dalam!” teriaknya, suara dibuat lebih garang dari biasanya meski jantungnya berdegup liar. Tiga anggota Kobra memaksa seorang penjaga sekolah untuk keluar. Pria tua itu berusaha tampak tenang, meski keringat dingin mengalir di pelipisnya. “Kami cuma mau tanya!” kata Baron, memaksa suara sedingin mungkin. “Alvaro. Murid dulu di sini. Pernah lihat dia datang lagi?” Penjaga itu menggeleng cepat. “Tidak… tidak pernah. Dia sudah lulus. Sudah lama tidak ke sini.” Raga menghentakkan kakinya ke tanah. “Bohong!” “T-tidak… saya sumpah!” Suasana semakin panas. Namun lagi-lagi, tidak ada petunjuk. Tidak ada satu pun yang tahu. Tidak ada jejak apa pun. Seorang anggota kecil berbisik pada Raga, “Bos… apa mungkin dia sengaja nutupin jejaknya?” Raga mendecak kesal. “Anak itu cuma mahasiswa miskin! Mana mungkin bisa secerdas itu? Pasti ada yang dia sembunyikan.” Namun dalam hati, sebagian besar anggota Geng Kobra mulai merasakan sesuatu: ketakutan. Alvaro bukan lagi target biasa. Di mata mereka, ia sudah menjadi sosok tak terduga. Kuat. Misterius. Tidak terjamah. Dan orang seperti itu adalah ancaman. Konvoi kembali bergerak, kali ini menuju kampus tempat Alvaro kuliah. Mereka menyebar di sekitar area kampus, memperlihatkan tatapan agresif pada setiap mahasiswa yang lewat. Banyak yang ketakutan dan melangkah mundur. Di depan gedung fakultas, Raga menarik kerah seorang mahasiswa laki-laki. “Kau kenal Alvaro Pratama? Tinggi, tampan, badan atletis?” Mahasiswa itu mengangkat kedua tangan tanda menyerah. “Ke… kenal, tapi dia jarang ke kampus akhir-akhir ini.” “Kapan terakhir kau lihat dia?” Mahasiswa itu mengerutkan alis, mencoba mengingat. “Minggu lalu, kalau tidak salah. Tapi setelah itu… dia nggak pernah muncul lagi.” “Kau tahu dia tinggal di mana sekarang?” “Kami nggak tahu! Serius!” Hasil pencarian di kampus pun sama — hampa. Semua informasi terasa seperti kabut yang menutupi jalan. Tidak ada yang konkret. Tidak ada arah. Hingga akhirnya salah satu ketua sub-cabang, pria berkepala plontos bernama Toro, mulai menggeram kesal. “Kita dikerjain anak itu. Dia sengaja hilang waktu. Sengaja bikin kita bingung!” Raga mengatupkan rahangnya. “Nggak mungkin anak itu hilang begitu aja. Dia pasti masih di Bandung. Terus cari!” “Bos,” sahut Baron dengan suara kecil tapi penuh kecemasan. “Apa... kita nggak usah cari dia dulu? Maksudku, setelah kejadian kemarin… dia—” Raga melotot. “BARON! Kamu ketua cabang, bukan pengecut! Satu orang bikin kita takut? Malu!” Wajah Baron memucat. Namun, meskipun Raga terlihat garang, ia pun merasakan kegelisahan yang sama. Kekuatan Alvaro bukan kekuatan normal. Tidak masuk akal. Tidak bisa dijelaskan. Dan itu membuat mereka waspada. Hampir tiga jam mereka berputar mengelilingi kota. Dari gang sempit hingga pusat kota, dari terminal hingga daerah kos-kosan mahasiswa. Namun hasilnya tetap sama: kosong. Tidak ada jejak. Tidak ada rumor. Tidak ada satu pun saksi yang bisa memberikan petunjuk ke mana Alvaro pergi. Seolah dia bukan manusia, melainkan bayangan yang sudah menghilang. Saat matahari mulai naik dan panas terasa menyengat, konvoi Geng Kobra mulai melambat. Beberapa terlihat frustasi, beberapa gelisah, dan sebagian lagi mulai mempertanyakan keputusan mereka. Raga akhirnya mengangkat tangan, memberi sinyal berhenti. “Kita pulang dulu,” katanya dengan suara berat. “Tapi kita belum selesai. Kita akan cari sampai ketemu.” Anggota lainnya mengangguk, namun tak satu pun terlihat yakin. Mereka sadar sesuatu: Musuh yang tidak bisa dilacak adalah musuh yang paling berbahaya. Baron menunduk dalam diam, namun dalam hatinya ia hanya bisa berdoa—bukan supaya menemukan Alvaro, tapi supaya tidak bertemu dengannya lagi. Sementara puluhan motor itu pergi perlahan, suara knalpot menghilang di kejauhan, kota Bandung kembali tenang. Tidak ada yang tahu bahwa Alvaro kini hidup di tempat baru, semakin kuat, semakin pintar, semakin sulit dijangkau oleh siapa pun. Dan Geng Kobra baru saja memulai pengejaran paling sia-sia dalam hidup mereka. Karena Alvaro bukan lagi orang yang sama. Dan jejaknya bukan lagi sesuatu yang bisa ditemukan dengan cara biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN