Angin malam Bandung masih menyisakan hawa dingin ketika Alvaro menuntun Mahesa keluar dari lapangan tempat pertarungan brutal itu terjadi. Napas Mahesa terengah, wajahnya lebam, bibirnya pecah, dan beberapa bagian tubuhnya gemetar setiap kali langkahnya goyah.
“Kita ke rumah sakit,” ujar Alvaro, mantap.
Mahesa langsung menggeleng keras, atau mencoba menggeleng, karena kepalanya berdenyut tajam. “Nggak usah, Varo… gue masih kuat. Lagi pula… lo tau sendiri, kita dulu gimana. Lo…” Ia menelan ludah. “Lo selalu ngirit. Bayar jajan aja suka mikir tujuh kali.”
Alvaro menatapnya sebentar. Ada kilatan dingin namun penuh ketegasan. “Itu dulu, Hes. Sekarang beda.”
Mahesa masih berusaha menolak. “Gue nggak enak, Varo. Lu tadi habis berantem, pasti capek. Gue cuma kebawa sial karena dicari Geng Kobra. Lu ga perlu keluar uang buat gue.”
Alvaro menghentikan langkah. Ia menatap Mahesa tajam, tatapan yang membuat temannya terdiam.
“Hes,” ucapnya pelan, “Lo temen gue. Gue nggak bakal tinggalin lo begitu aja.”
Mahesa terbatuk kecil, meringis. “Tapi… biayanya…”
Alvaro mengeluarkan ponselnya, mengetik cepat. Tak sampai lima detik, bunyi notifikasi terdengar dari ponsel Mahesa.
Bip.
Mahesa membuka pesan, dan matanya langsung melebar.
“Va–Varo… ini apa?” suaranya bergetar. Di layar: Transfer masuk Rp 2.000.000.
“Buat biaya perawatan. Kalau kurang, bilang aja,” ujar Alvaro santai.
Mahesa terpaku. Ia menatap Alvaro seolah melihat seseorang yang berbeda sama sekali.
“Dulu lo… buat bayar seragam sekolah aja harus nabung setahun lebih. Dari mana lo dapet—”
“Udah, Hes,” potong Alvaro halus. “Yang penting lo selamat dulu.”
Mahesa menunduk, hampir saja air mata turun, entah karena haru atau sakit. Mungkin keduanya. “Makasih, Varo…”
Tanpa menjawab, Alvaro merangkul bahu Mahesa dan membawanya masuk ke IGD RS terdekat.
Di koridor rumah sakit
Suara langkah terburu-buru para perawat, suara alat monitor berdenting, dan aroma antiseptik bercampur menjadi satu. Setelah Mahesa ditangani, Alvaro duduk menunggu di kursi panjang dekat IGD.
Ia baru saja menghela napas ketika sebuah suara lirih memecah kesunyian.
“Al… Alvaro?”
Alvaro menoleh.
Di pojok ruangan, seorang gadis berdiri sambil memeluk tas kecilnya. Rambut panjangnya tergerai kusut, mata sembab seperti habis menangis semalaman.
“…Dinda?”
Dinda Maheswara—teman sekelasnya dulu di SMA—berdiri dengan wajah kuyu. Dinda yang selalu ceria, selalu jadi pusat perhatian karena kecantikannya, kini tampak seperti bayang-bayang dirinya yang dulu.
Alvaro mendekat. “Kamu kenapa ada di sini? Kamu… baik-baik aja?”
Dinda menggigit bibirnya. “Ayahku… dia di IGD. Dokter bilang dia harus masuk ruang operasi.” Suaranya pecah. “Tapi aku… keluargaku… kami nggak punya cukup uang.”
Air mata turun, ia cepat-cepat menyekanya. “Maaf, aku nggak bisa ngomong banyak. Aku cuma… bingung.”
Alvaro terdiam sesaat. “Kamu udah ke bagian administrasi?”
Dinda mengangguk lemah. “Sudah. Dan biayanya… terlalu besar. Tabungan keluarga nggak cukup. Aku udah coba hubungi kakakku, tapi dia juga lagi kesulitan.” Ia tertawa getir. “Sejujurnya… aku nggak tau lagi harus minta tolong ke siapa.”
Sesaat, ia tersadar lalu menatap Alvaro dengan malu. “Ah… maaf. Harusnya aku nggak curhat sama kamu. Kamu kan….”
“Siswa miskin,” lanjut Alvaro datar. “Iya, aku ingat.”
Dinda menunduk cepat. “Aku—aku nggak bermaksud begitu. Maksudku… aku cuma nggak mau membebani kamu. Aku tahu kondisi kamu dulu gimana.”
Alvaro menghela napas. “Dinda.”
Gadis itu mengangkat wajah, matanya bergetar.
“Aku bisa bantu,” ujar Alvaro pelan.
Dinda langsung menggeleng keras. “Nggak! Kamu aja dulu susah. Aku nggak mungkin—”
“Dinda.”
Nada suara Alvaro berubah lebih tegas.
“Aku serius. Aku bisa bantu.”
Dinda memandangnya lama, heran, tidak percaya. “Alvaro… aku… aku tau kamu baik, tapi… ini bukan uang kecil. Operasi ayahku ratusan juta. Kamu, nggak mungkin… kamu—”
“Aku punya cara,” jawab Alvaro singkat.
Dinda mengernyit. “Cara apa?” Ada sedikit kecurigaan, sedikit rasa takut, dan banyak kebingungan.
“Kamu nggak perlu tahu sekarang,” jawab Alvaro tenang. “Yang penting ayahmu selamat dulu.”
“Alvaro… aku…” Suaranya serak, hampir tak keluar. “Aku nggak bisa menerima uang dari kamu.”
“Kenapa?”
“Karena…” ia menahan napas. “Karena aku tahu kamu dulu hidup susah. Aku nggak mau jadi beban tambahan buat kamu.”
Alvaro tersenyum tipis. Senyum yang mengandung sesuatu yang tak dimengerti Dinda.
“Dinda… hidupku sekarang berbeda.”
Ketidakpercayaan tergambar jelas di wajah gadis itu.
“Aku nggak minta kamu percaya,” lanjut Alvaro. “Tapi aku nggak tega liat kamu kayak gini. Kamu nggak perlu balas apa pun. Anggap ini bentuk kepedulian seorang teman lama.”
Dinda menggigit bibir, berusaha menahan isak. Tangannya terkepal.
“Alvaro… aku… aku benar-benar nggak tahu harus bilang apa.”
“Bilang iya,” jawab Alvaro.
Hening beberapa detik.
Dinda menatap lantai, lalu perlahan mendongak. Matanya merah, tapi ada sedikit cahaya kembali muncul di sana.
“Alvaro… berikan aku waktu sedikit,” ucapnya pelan. “Aku… aku belum bisa bilang iya sekarang.”
Alvaro mengangguk. “Ambil waktu yang kamu butuhkan. Aku tetap di sini.”
Dinda hanya bisa menatapnya lama—seolah melihat seseorang yang sama sekali berbeda dari Alvaro yang ia kenal dulu.
Seseorang yang dulu miskin dan tak terlihat…
kini berdiri seperti pilar yang tak tergoyahkan. (Cukup Sampai disini)
Di luar, suara ambulans kembali meraung masuk ke halaman rumah sakit.
Di dalam, dua anak manusia itu terdiam… satu dengan tubuh penuh luka,
satu dengan hati penuh luka.
Dan Alvaro, yang berdiri di antara keduanya, tak sadar bahwa langkah kecilnya menolong orang—akan segera mengubah arah hidupnya jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.