“Ma ... Maaf Bu Jessy ... saya tidak bermaksud untuk menggoda putri ibu, saya hanya kebetulan melihat kawan seangkatan ketika belajar mengaji dulu Bu,” ucap Diego sambil tetap tersenyum menjaga amarah meskipun tamparan keras ia terima mentah-mentah.
Jessy menatap sinis Diego, netra indah yang di balut dengan frame kacamata oval membuat wajah nya terlihat sangat elegan namun tegas. “Jangan terlalu sering mendekati anak saya dengan alasan yang murahan! Kedapatan kalian berduaan lagi, terima akibatnya nanti!” tegas Jessy.
Diego yang biasanya ceriwis mendadak ciut. “Baik Bu, maaf sekali lagi.” Diego mengangguk pelan, kemudian menunduk malu.
“Tunggu apa lagi? Kenapa masih betah mematung disini? Mau saya panggilkan keamanan untuk mengusir kamu hah!” bentak Jessy lantam.
“Baik Bu, saya permisi dulu ya kalau gitu,” ucap Diego pelan dan melirik ke arah Indah. “Abang pulang dulu ya cantik, have nice day,” timpal Diego sambil mengedipkan matanya.
“Saaatttpaaamm!” teriak Jessy kesal.
“Oh ... iya, baik Bu. Maaf ... maaf saya segera pergi Assalamualaikum.” Diego terbirit sambil menuntun sepeda motornya dan menyalakan mesin sambil berjalan.
Tiga orang satpam bergegas menghampiri kerumunan yang kemudian berjalan cepat mendekati Diego yang sedang berusaha menjalankan motornya. Jessy mengatur napas tersengalnya menahan kesal kepada tingkah Diego. Indah justru tersimpuh malu dan menahan tawanya melihat tingkah Diego, beruntung ia berhasil menulis nomor ponselnya di buku diary kecil Diego.
“Dasar wong kampung! Aku pantau kamu di CCTV! Bikin muak dasar udik!” cecar Jesy kesal.
Tidak lebih dari satu menit Diego sudah tak tampak lagi dari pandangan. Jessy yang masih sedikit kesal menyuruh Indah segera masuk ke dalam rumah. Sementara Diego berhenti di tepi gang untuk mengatur napas karena sempat di kejar oleh beberapa orang satpam.
Di dalam rumah Indah di sidang, Jessy yang masih menyisakan kesal di hatinya menunggu Indah di dalam ruang tamu. “Sudah di parkir dengan benar sepedanya?” tanyanya ketus.
“Sudah Mah,” jawab Indah singkat sambil melangkah mendekati ibunya.
“Kamu beneran punya teman model begitu hah?” tanya Jessy dengan bibir menyungging.
“Iya Mah, dia teman sewaktu SD dan TPA, hanya saja beda satu tahun. Dia kakak kelas aku Mah,” jawab Indah dengan santai.
“Hmm ... kok bisa sih kamu sekolah di lingkungan yang udik dan kampungan, iyuuuhh banget kalau aku jadi kamu, aku pasti protes dengan ayahmu, ngga level banget lihatnya,” gerutu Jessy sambil melihat kuku yang berkuteks merah.
“Hmm Mah, jangan lupa rumah yang megah ini berdiri di tanah kampung, dan Mamah juga sekarang tinggal di kampung, itu fakta Mah, bukan hanya halusinasi,” ucap Indah sambil melenggang ke arah anak tangga menuju kamarnya.
“Heh Rembulan! Sini kamu! Ngga sopan banget lagi di ajak bicara malah pergi! Ngga pernah di ajari sopan santun ya kamu sama ibumu?!” sentak Jessy sambil berkacak pinggang dan menatap sinis Indah.
Indah membalikkan badan perlahan. “Indah Mah Indah!” pekik Indah kesal.
“Kan nama kamu Indah Rembulan! Sama saja! Segala nawar kamu ya, dasar anak minim adab! Kayaknya memang ibu kamu karakternya kayak kamu! Miskin adab!” cecar Jessy.
“Stop Mah! Mamah boleh cecar Indah dengan ungkapan apa pun dan silakan marahi Indah jika memang Indah melakukan kesalahan, tapi jangan pernah Mamah singgung almarhumah Bundanya Indah!” bentak Indah dengan mata berkaca.
“Halah emaknya udah m*ti saja masih tetep di bela! Nih ya mau sebaik apa dia ketika hidup, kalau sudah m*ti ya tetep ngga ada gunanya! Bisa dia dandani kamu?! Bisa ajari kamu banyak hal?! Dari SMP yang menyisiri rambut kamu itu saya! Yang ajari kamu kalau kesulitan buat PR itu saya! Yang memperhatikan kebutuhan kamu itu saya! Bukan m*yat ibu yang kamu puja-puja itu!” pekik Jessy dengan penuh penekanan dan amarah.
Indah menggeleng-gelengkan kepala, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari ibu tiri yang selama ini sudah ia anggap sebagai ibu kandung sendiri. “Indah kecewa sama Mamah,” lirihnya sambil membalikkan badan dan berlari menaiki anak tangga.
“Dasar bocah tengil! Di belain dari kecil, sudah gede belagu dan nyebelin! Lihat saja, akan aku buat kamu menyesal Indah Rembulan!” lirihnya sambil kembali duduk di sofa.
***
“Huuu ..., hampir saja ... dasar Mak lampir,” pekik Diego sambil mengatur napas yang tersengal.
Tidak jauh dari tempat Diego mengatur napasnya di atas motor, langkah jenjang yang di balut dengan dress syari warna cream menghampiri Diego.
“Sekarang sudah aman tenang saja.”
Geeekkk ... Diego menoleh pelan. “Ahhhh ... Sayang yang cantik jelita dan mempesona, maafkan aku tadi tidak bilang padamu kalau aku ada perlu mendadak,” ucap Diego sambil menampilkan senyum manis di tambah dari gigi gingsulnya di kanan kirinya.
“Iya ngga apa-apa Bang, tadi aku sudah memperingati dua bocil itu untuk tidak mengganggu abang lagi,” ucapnya pelan sambil mendekat, meskipun tahu Diego pergi untuk mengejar Indah
“Terima kasih banyak ya cantik, ucapkan terima kasih juga kepada ayah dan ibu karena sudah repot-repot memberi abang beras dan sembako,” cengir Deigo.
“Hanya terima kasih saja?” tanya Shinta mengernyitkan dahi.
“Hmm ... maksudnya gimana?” hmm ... iya terima kasih karena selama ini ayah dan ibunya Shinta selalu memperhatikan Abang, dan Shinta juga sudah sangat baik lindungi abang dari kejaran para bocil gatal itu he-he-he.” Diego menggaruk-garuk kepala pelan sambil terus merapikan jambul rambutnya tang sempat rusak karena tekanan helm.
Shinta terdiam, dia mengambil kunci motor matik nya kemudian mendekat ke tubuh Diego. Ditatapnya dalam mata Diego yang masih terus memasang wajah cerianya. Perlahan matanya turun memperhatikan secara detail tubuh kekar menariknya Diego.
“Abang, kalau abang ingat, hanya kedua orang tuaku yang selalu memperhatikan kehidupanmu selepas mendiang ibumu kembali ke pelukan Nya, bahkan ayah dan saudara kandungmu saja tidak peduli kepadamu kala itu dan hingga saat ini kan?” tanya Shinta sambil menusuk pelan d**a Diego dengan jari telunjuknya yang lentik
Jantung Diego berdegup kencang kala Shinta berani mendekatinya hingga sedekat ini. Senyumnya mengembang dengan sedikit keterpaksaan. Tangan kekarnya menangkap halus jari telunjuk Shinta dan mengecupnya pelan.
“Aku tidak pernah melupakan hal bermakna itu cantik, kedua orang tuamu adalah jantung hidupku, seperti halnya hadirmu bagai napas yang tidak akan pernah bisa terlepas dari hidupku di dunia ini,” papar Diego dengan kedipan mata kirinya yang genit.
Shinta tersimpuh, dan melirik wajah Diego yang tampan. “Benarkah itu Bang?” tanya nya lembut.
“Tentu saja cantik,” Ucap Diego dengan tidak melepas pandangannya kepada Shinta.
Degup jantung Shinta terdengar begitu kencang. “Kalau benar adanya seperti itu, maka nikahilah aku secepatnya Bang.”
Diego mematung. “Hmm ... apaaa?”