* “Jangan pakai bahasa saya-saya lagi mulai sekarang. Saya nggak mau orang lain—” “Itu Om pakai kata saya lagi.” Ceplos Gendhis santai, sambil menyuap setusuk telur gulung yang dia beli di depan kompleks perumahannya. Tidak pas di depannya, tapi mangkal di depan ruko seberang jalan bersama penjual makanan kaki lima lainnya. “Maksud saya—em, maksudku, ya… begitu.” Bhumi sendiri yang seolah mengharuskan, tapi dia juga yang kaku sendiri. “Apa aku harus panggil Om pakai Mas juga? Soalnya, kemarin Pak Arman juga protes kalau saya panggil Om Bhumi pakai Om.” Berbanding terbalik dengan Gendhis yang terlihat santai, Bhumi justru nampak gusar entah karena apa. Mungkin, dia masih kesal karena diledek Bara tadi. “Terserah kamu. Senyaman kamu saja. Tapi, kalau soal Arman, aku bisa mengatasi. Ab

