kepergian airin

1068 Kata
Kepergian Airin Saat tengah malam, Rangga keluar dari kamar tamu untuk minum. Biasanya dia tidak pernah keluar kamar kalau hanya untuk minum, karena biasanya Airin sudah menyiapkan air di dalam kamar, agar Rangga tak perlu capek-capek keluar kamar kalau haus. Rangga membuka kulkas dan matanya tertuju pada kue ulang tahun yang masih utuh di sana. Rangga pun mengeluarkan kue tersebut lalu pun memotong kue ulang tahun tersebut dengan pisau khusus, lalu memakannya. Rasanya masih sama seperti biasanya, sangat enak. Airin memang hebat dalam membuat kue atau memasak makanan apa pun, Rangga mengakui hal tersebut. Tapi satu kelemahannya, semenjak ia melahirkan putri mereka, Airin tidak bisa mengontrol berat badan dan penampilannya. Sehingga membuat Rangga jenuh dan matanya mencari keindahan di luar rumah. menyenangkan mata Rangga. Dia seorang janda dengan dua anak, tapi tubuhnya bak gitar spanyol. Rangga pun kerap kali membandingkan istrinya dan juga sekertarisnya, yang akhirnya Rangga terpesona dan mengagumi pesona sang sekertaris. Setelah memakan dua potong kue tersebut, Rangga pun masuk ke dalam kamar untuk tidur. Dan keesokan harinya, seperti biasa Airin sedang menyiapkan sarapan di atas meja makan untuk suaminya. Seolah tak terjadi apa-apa, Airin masih melayani semua kebutuhan Rangga seperti hari-hari sebelumnya. Keduanya pun sarapan bersama tanpa bersuara, dan setelah selesai Airin membuatkan kopi untuk Rangga dan membawanya ke ruang tamu. Tapi bersamaan dengan itu, Airin membawakan secarik kertas dan menyodorkannya di depan Rangga. Rangga mendongak menatap Airin yang kini juga menatapnya. "Apa ini??" tanya Rangga penasaran. "Aku sangat mencintaimu Mas. Aku ingin menyelamatkan pernikahan kita. Meski ini sangat menyakitkan, tapi aku sangat sadar semua ini adalah salahku. Jadi .. Aku ingin memperbaiki semuanya." Airin menarik nafas panjang. "Ayo kita buat perjanjian. Kalau dalam waktu tiga bulan aku nggak bisa tampil cantik di hadapanmu, aku ilklas melepaskanmu bersama wanita itu. Tapi selama tiga bulan itu berjanjilah kalau Mas nggak akan pernah menyentuh wanita itu, apa pagi sampai tidur dengannya." Rangga tersedak kopi yang sedang ia minum saat ini. bulan?" ucap Rangga dalam hati. Rangga menelan ludah dengan susah payah membayangkan selama tiga bulan harus tidak bersentuhan dengan Raisa, rasanya itu tidak akan mungkin. Setiap inci tubuh Raisa adalah candu untuknya. "Raisa itu adalah sekertarisku, kami selalu bekerja bersama dan sudah pasti terkadang terlibat sentuhan," elak Rangga. "Aku nggak masalah kalau hanya sebatas kerja, yang aku maksud adalah jangan sampai berhubungan suami halal!!" tukas Airin kesal. Rangga mendesah kasar. "Kalau Mas tidak setuju, aku akan laporkan perselingkuhan Mas pada keluarga besar Mas, terutama Ibu. Kamu tau kan kalau Ibu sangat membenci perselingkuhan? Kalau Ibu sampai tahu putra tercintanya berselingkuh--" "Iya oke, oke. Aku menyetujuinya. Aku akan tanda tangan." Rangga pun menanda tangani kertas yang di bawa Airin. "Selama tiga bulan aku akan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Rumah serta Bunga kamu yang urus." "Apa!! Kamu sudah gila?? Nggak usah aneh-aneh Airin. Kalau kamu nggak ngurus rumah dan Bunga, lalu siapa yang mengurus semuanya??" protes Rangga. "Kamu bisa memakai jasa asisten rumah tangga, dan juga baby sitter untuk mengurus rumah dan Bunga.' "Kamu gila!! Kenapa aku harus buang-buang uang untuk semua itu "Aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Aku butuh perawatan dan sebagainya. Jika aku masih terus mengurus pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, bagaimana bisa aku merawat diriku," kata Airin. "Terserah kamu saja lah. Lakukan apa pun yang kamu ingin lakukan, tapi jangan meminta uang sepeserpun dariku, karena kamu tidak mengerjakan apa-apa." Sedikit kecewa dengan jawaban Rangga, tapi Airin sudah bertekat jika singkat ini. "Baiklah kalau Mas tidak ingin memberiku uang, aku bisa mencarinya sendiri. Mungkin kamu lupa, sebelum menikah, aku juga bekerja di kantor." "Kamu kira kantor mana yang akan mempekerjakan wanita sepertimu? Lihat dirimu. Tidak ada kantor yang akan menerima wanita gendut sepertimu." Perih, bagai luka yang tersiram air garam, itulah yang Airin rasakan saat ini. Luka yang kemarin saja belum menorehkan luka di hatinya. "Kamu tidak perlu memikirkanku Mas. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Dan perjanjian kita akan kita mulai dari hari ini. Aku sudah mengemas semua barang-barangku semalam, dan hari ini juga aku akan pergi dari rumah ini." "'Secepat itu?? Lalu bagaimana dengan Bunga??" "Iti terserah padamu Mas. Kamu sudah menanda tangani perjanjian kita yang di dalamnya berisi kalau selama tiga Bunga." "Kamu benar-benar tidak waras Airin." "Hanya tiga bulan Mas, setelah itu aku akan kembali dan menjadi istri sekaligus Ibu seperti biasanya, asal Mas tidak melanggar semua yang sudah kita sepakati," ucap Airin. Airin pun meninggalkan Rangga dan masuk ke dalam kamar, lalu keluar dan menyeret kopernya. "Aku sudah bilang sama Ibu kalau nanti sore Mas akan menjemput Bunga di rumah Ibu. Jadi sore nanti Mas "Kamu seriusan mau pergi dari rumah ini?" tanya Rangga seolah tidak percaya. "Hanya sementara, sampai aku pantas untuk berdiri di sampingmu, maka saat itu aku akan kembali ke rumah ini." "Apa kamu fikir menurunkan berat badan semudah membalikkan telapak tangan?? Berat badan kamu ini sudah over, dan aku yakin, waktu sepuluh tahun pun kamu tidak akan bisa menurunkannya." Airin tak menjawab perkataan Rangga tangan Rangga, lalu menciumnya. "Aku pamit Mas, dan aku harap kamu akan menjaga diri dari hal yang di haramkan oleh agama," ucap Airin, lalu meninggalkan Rangga yang kini berdiri mematung di tempatnya. Rangga menatap punggung Airin yang perlahan hilang dari pandangannya. Setelah pintu rumahnya tertutup, bersamaan dengan itu Rangga tiba-tiba teringat saat pertama kali membawa Airin masuk ke dalam rumah ini, rumah yang ia beli sebelum menikahi Airin. Lima tahun lalu Airin sangat Cantik dengan tubuh yang juga indah. Airin hanya wanita biasa yang bekerja satu kantor dengan Rangga, dan saat pertama kali Rangga melihat Airin, Rangga sudah jatuh cinta dan memutuskan untuk melamarnya. Pernikahan mereka sangat bahagia. Rangga merasa pria paling beruntung karena memiliki istri yang selain cantik, ia pun pandai dalam hal memanjakan perutnya, dan Ibu Rangga pun sangat menyukai Airin, bahkan sudah menganggap Airin sebagai putrinya sendiri. Bunga. Setelah kelahiran Bunga, Rangga merasa Airin tak lagi menarik, dan membosankan. Airin bahkan tak bisa lagi memanjakan Rangga di atas tempat tidur karena Putrinya yang lumayan rewel saat itu, sehingga Rangga mulai jenuh dan malas jika berada di rumah. Dan saat Rangga mendapat sekertaris baru setahun belakangan ini, Yaitu Raisa. Rangga semakin malas untuk berada di rumah, bahkan ia selalu menghabiskan waktu bersama Raisa dengan alasan pekerjaan, sampai pada akhirnya di malam ulang tahunnya, Rangga menyatakan cinta pada Raisa dan Raisa pun menerimanya. Rangga sangat bahagia saat itu dan tanpa sadar mencium bibir Raisa dengan begitu mesra, dan tanpa ia duga ternyata di sana ada istrinya yang menyaksikan semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN