Makanan langsung tersaji karena hanya perlu di panaskan. Penjaga kantin menaruh makanan pesanan mereka di talam alumunium lalu diserahkan kepada pemesan. Pemesan sendirilah yang akan membawa makanan mereka ke meja pilihan mereka sendiri.
Seorang lelaki sempat mengangkat tangan kepada Hildan ketika mereka ia dan Mayuno melewati sebuah meja. "Gabung sini," ajaknya.
"Nggak dulu," tolak Hildan yang mendapat godaan berupa siulan dari temannya itu. "Mau duduk di mana?" tanyanya pada Mayuno yang menunduk.
"Terserah kamu aja," jawab Mayuno lirih. Ia sangat malu karena beberapa orang memperhatikan mereka gara-gara siulan tadi.
Hildan menyapu seluruh ruangan. "Yang pojok udah terisi. Di situ aja, ya?" tunjuknya pada suatu meja kosong yang ternyata bersebelahan dengan tempat Freya duduk. Di meja itu terdapat tiga orang gadis termasuk Freya.
"Hei!" sapa Freya sambil melambaikan tangan pada Mayuno yang berjalan mendekat. Mayuno membalas lambaian itu dengan anggukan karena tangannya sedang memegang nampan, takut tumpah.
Dua gadis lain juga menoleh, ikutan melambai. Sekali lagi Mayuno menggaguk. Setelah duduk, Mayuno kembali mengamati mereka.
Yang berambut hitam lurus sepinggang itu pastilah Bianca. Seperti deskripsi, ia memiliki wajah yang sangat cantik. Tipe kecantikan dingin dan tajam. Tanpa mengenakan riasan tebal pun sudah mencolok. Kemudian gadis berambut coklat pendek di sebelahnya adalah Sien. Gadis tomboy yang berpostur imut. Wajahnya yang imut berbanding terbalik dengan sikap bar-barnya.
Kelompok itu terlihat begitu bersinar di antara yang lain. Auranya memang sudah berbeda. Kalau dilihat lagi, Mayuno lah yang paling biasa jika disandingkan dengan ketiga orang itu, apalagi Bianca. Sayangnya sinar Bianca akan meredup, digantikan oleh kegelapan dan akhir yang menyedihkan seiring alur cerita berjalan.
"Kamu melamun lagi," tegur Hildan. "Kenapa ngeliatin mereka? Mau gabung ke sana?"
Mayuno menggeleng cepat. Atensinya yang semula terpaku pada Bianca dan kawan-kawan, beralih pada nampan Hildan yang berisi nasi, tiga macam lauk, dan jus. Nasinya sudah berkurang setengah hanya dalam waktu singkat. "Cepet banget makannya. Doyan apa kelaparan?" gumamnya lirih.
"Laper, Sayang. Aku nggak sarapan tadi," jawab Hildan yang rupanya masih bisa mendengar. "Kamu makan juga, gih."
Lagi, lelaki itu melakukan hal yang membuat Mayuno berdebar lagi. Berbeda dengan panggilan 'sayang' pagi tadi yang membuat kesal. Yang barusan membuat Mayuno ingin terbang. Selemah itulah dirinya yang telah menjomblo sejak lahir.
Untuk menetralisir perasaan menggelikan, Mayuno menyuapkan gulungan besar kwetiau di garpu ke mulutnya yang mungil. Pipinya jadi menggembung karenanya. Tidak cukup dengan itu, satu bakso ikan ikut masuk menjejal ke rongga mulut. Matanya melebar begitu rasa gurih, asin, pedas, dan sedikit manis menyentuh indera perasanya. Di tambah dengan tekstur kenyal bakso ikan. Perfect! Membuat mulutnya enggan berhenti mengunyah.
Mayuno memenuhi mulutnya lagi dengan sengaja. Di sela kegiatan makannya itu, ia diam-diam melihat Hildan untuk melihat reaksi lelaki itu yang mungkin saja mulai merasa terganggu dengan cara makannya yang kurang elegan. Namun nyatanya Hildan tidak peduli, ia fokus sendiri pada nampannya yang hampir bersih. Lelaki itu bahkan meminum kuah sup dari mangkuknya langsung.
Percuma. Untuk urusan kelahapan, ternyata Mayuno kalah dari Hildan. Porsi paket Kombo A yang lelaki itu pesan seperti dua kali lebih banyak dari sepiring kwetiau. Paket itu berisi nasi, sup sayur, telur dadar gulung, dan daging.
"May," panggil Hildan.
Mayuno mendongak, "Hm?" sahutnya. Mulutnya penuh saat ini.
Hildan menggaruk dagu, tampak ragu untuk mengatakan isi pikirannya. "Itu ... boleh minta bakso ikannya satu?" Suaranya melirih. "Lihat kamu makan itu jadi pengen. Mau beli, punyamu tadi yang terakhir," ucapnya malu-malu yang sialnya menjadi serangan ber- damage untuk hati lemah Mayuno. Namun tidak sampai membuatnya merelakan bakso ikan yang memang tinggal satu.
"Kalau nggak boleh, nggak ap—"
"Boleh! Apa, sih ... yang nggak buat ... a-ayang?" potong Mayuno terbata. Berat sekali mulutnya untuk mengucapkan kata 'ayang'. Lidahnya terasa kecut hanya karena itu tapi ia harus mencoba kemungkinan lain seperti berlaku sebagai 'cewek bucin'. Setelahnya sebelah matanya mengedip untuk menambah kesan centil dan manja.
"Mata kamu kenapa, May? Kok merem-merem sebelah? Kelilipan, ya? Sini aku tiup."
"Enggak! Cuma gatel!" Mayuno segera berpura-pura mengucek matanya sebagai alasan dan menghentikan Hildan yang akan berdiri. Ia malu, berharap kesan centil seperti Freya, tapi malah disalahpahami kelilipan.
Rupanya Mayuno tidak berbakat melakukan wink.
"Jangan diucek kasar, gitu."
"Udah. Udah nggak papa. Oh, iya. Nih, baksonya aku kasih."
Sebelah alis Hildan terangkat saat Mayuno memotong bakso ikan menjadi dua. Gadis itu menusuk salah satunya dengan garpu lalu menyodorkannya pada Hildan.
"Aku suapin, ya ... aaa .... "
Hildan sempat bingung, tapi lelaki itu tersenyum miring setelahnya. Ia mencondongkan tubuh ke depan, membuka mulut untuk menerima suapan dari pacarnya itu.
Mayuno tersenyum malu-malu sambil menepikan sejumput rambutnya ke belakang telinga. Ini saatnya. Ini saatnya untuk mengutarakan kata-kata mutiara yang baru ia ciptakan, lengkap dengan sandiwara meyakinkan.
Gadis itu menatap meja dan menggigit bibir bawahnya, berusaha menguatkan hati. Kemudian memaksa bibirnya untuk tersenyum malu, dan menatap Hildan. "Em ... kamu tahu nggak kenapa aku bagi dua? Karena aku merasa kamu sebagai belahan jiwa aku. Bayangin di bakso itu ada rasa kasih sayang aku ke kamu. Nah, sekarang kamu suapin aku, dong. Biar aku juga ngerasain kasih sayang kamu." Mayuno benar-benar merasa geli sampai di titik ia ingin muntah. Dijamin, siapapun yang mendengarnya akan merasakan hal yang sama dan itu memang tujuannya.
Hening. Hildan termangu dengan mulut setengah terbuka, sedangkan Mayuno masih mempertahankan senyumannya menunggu reaksi lelaki itu selanjutnya.
"Pftt!" Hildan menutup mulut, tapi tawanya pecah seketika. Ia terus tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut hingga kedua bahunya berguncang hebat. "Ka-kamu apaan, sih, May? Hahahaha!"
Mayuno terdiam, kedua matanya melebar kemudian melihat sekeliling. Reaksi yang tidak sesuai harapannya itu menyebabkan mereka menjadi perhatian beberapa orang yang masih berada di kantin. Ia merasa beruntung sudah tidak banyak orang di sana. Tetap saja itu tertunduk malu.
Tawa Hildan mereda, ia mengusap setitik air di ujung mata dengan jari lalu menarik napas perlahan, kemudian mengeluarkannya lagi. Hal itu diulangi beberapa kali.
"Maaf .... " Hildan berdehem pelan. "Sini, aku suapin."
"Nggak jadi," jawab Mayuno dengan suara pelan.
"Hm? Kenapa?"
Dahi Mayuno berkerut, matanya menatap Hildan masih dengan posisi kepala menunduk. "Kita diliatin orang sekarang."
"Terus kenapa?"
"Apanya yang terus kenapa? Masa kamu nggak malu?" Mayuno mulai kesal.
Hildan memiringkan kepala dengan ekspresi polos. "Malu kenapa?"
"Pake nanya!"
"Pftt!" Hampir saja tawanya menyembur lagi. "Siapa suruh kamu ngelawak tadi? Ya ampun ... aku nggak tahu kamu kesambet apa hari ini. Kayak bukan kamu aja."
Jantung Mayuno mencelos, seandainya tidak memikirkan konsekuensi untuk dikatai gila, ia pasti sudah menyahut, membenarkan ucapan Hildan.
"Kamu tahu apa yang lucu? Kata-kata sama maksud hati kamu yang nggak sinkron. Aku tahu kamu sebenarnya keberatan ngasi bakso yang emang tinggal satu itu. Makanya kamu bagi dua. Tapi alesan kamu itu, loh. Bikin mati garing." Hildan masih berusaha menahan tawanya. Ia meraih garpu di piring Mayuno, menusuk bakso yang tinggal separuh. " Well, i like it though. Sekarang, buka mulut kamu, rasain kasih sayang aku. Ayo jadi cringe bersama-sama karena kita soulmate. "
Mayuno menyerah, untuk hari ini ia yang jiwa dan raganya mulai lelah menghadapi Hildan akhirnya menerima suapan itu. Tak disangka keterpaksaan dalam lubuk hati terdalamnya bisa terbaca oleh Hildan. Tekadnya kalah oleh makanan.
Begitulah, Mayuno menghabiskan sisa makanannya ditemani Hildan yang terus memandanginya dengan senyuman.
Lelaki itu juga mengantar Mayuno kembali ke kelas walau gadis itu sudah menolak. Seperti tadi, Hildan menautkan jari-jarinya ke sela-sela jari Mayuno yang kali ini tidak berusaha melepaskannya karena tahu akan sia-sia.
"Oke. Seperti yang aku bilang kemarin, istirahat pertama adalah waktu buat kita berdua dan istirahat kedua buat sama temen. Oh iya, hari ini kamu ada kegiatan klub nggak? Kalau ada aku tungguin atau nggak, aku jemput."
Mayuno menggeleng. Dari daftar mata pelajaran yang dilihatnya tadi pagi di rumah saat menyiapkan buku pelajaran, kegiatan klubnya dilakukan tiap hari Rabu. Klub drama.
"Ya udah. See you," pamit Hildan kemudian beranjak dari sana dengan langkah cepat. Kelasnya yang merupakan kelas sebelas IPA terletak di lantai dua. Tidak terlalu jauh dari kelas sepuluh, hanya saja waktu sampai bel masuk berbunyi tidak banyak.
Benar saja, bel berbunyi bertepatan dengan kakinya yang menginjak lantai kelas. Hildan langsung menuju kursinya di barisan ketiga dekat jendela untuk duduk. Ia menoleh ke belakang, menarik ujung rambut seseorang yang biasa menghabiskan waktu istirahatnya dengan tidur.
Orang yang mengenakan jaket hitam kesayangannya itu terlonjak ringan. Masih dengan posisi kepala berbantal lengan di atas meja, ia mengusap kepalanya asal. "Jangan ganggu .... " katanya dengan suara serak dan lemas.
"Bel udah bunyi, Putra Tidur. Ini jamnya Bu Sifa, bisa disuruh berdiri di luar kalau kamu ketahuan tidur."
"Nama aku Putra, doang. Jangan nambah-nambahin." Lelaki berambut hitam itu mengangkat kepalanya yang terasa berat. Wajah sembab, bibir pucat, dan mata memerah sayu merupakan pemandangan yang biasa ditampilkan olehnya.
Hildan menggelengkan kepala sambil berdecak heran. "Tidur jam berapa tadi malam?"
Putra menguap lebar, kedua tangan ia naikkan ke atas untuk melakukan peregangan. "Jam empat," jawabnya.
"Wah ... pencapaian baru, nih! Patut diapresiasi," sinis Hildan seraya bertepuk tangan. "Lain kali nggak usah tidur sekalian coba."
Tak peduli dengan ocehan Hildan, Putra kembali membaringkan kepalanya di atas meja dengan posisi wajah menghadap jendela. Namun karena matahari yang terik dan menyilaukan mata, ia memiringkan wajah ke arah sebaliknya, memandangi suasana kelas yang masih ribut. Hal biasa jika guru belum masuk kelas. "Manusia butuh tidur, kecuali kalau mau cepet mati."
"Kurang tepat. Manusia butuh tidur yang cukup. Agar—"
"Bla ... bla ... bla ... cukup. Aku udah dengar ini lebih dari lima kali," sela Putra yang menguap lagi. "Tadi malam aku ngejokiin orang luar, bayarannya dolar, sayangkan kalau nggak diambil."
"Jangan sering-sering, gimanapun kesehatan adalah yang terpenting. Buat apa banyak uang kalau tubuh sakit? Sepulang sekolah kamu kerja, ditambah begadang lagi."
Putra tersenyum miring, matanya yang sayu karena kurang tidur itu tampak sendu. Ia seperti menertawai dirinya sendiri. "Masalahnya aku juga nggak punya banyak uang, tapi makasih reminder- nya."
Hildan menghela napas. Merasa kasihan, tapi sahabatnya ini pastinya tidak sudi untuk dikasihani. Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, Putra harus mencari uang sendiri setelah paman yang menjadi walinya meninggal dunia tiga bulan lalu.
Nasibnya memang sudah malang sejak masih balita. Kedua orang tuanya bercerai saat Putra berumur lima tahun karena ayahnya melakukan KDRT dan dipenjara. Ibunya yang tidak punya sandaran finansial memutuskan untuk bekerja, dan menitipkan putranya ke ibunya, yaitu nenek Putra.
Lalu, saat Putra berumur sepuluh tahun, ibunya menikah lagi dengan seorang bujangan yang secara finansial tidak mapan. Suami barunya melarang untuk bekerja, jadilah Putra jarang mendapatkan kiriman uang lagi karena sang ibu harus memprioritaskan keluarga barunya.
Beruntung ada Paman Gin, orang yang bersedia menjadi penanggungjawab dan mengurus Putra setelah Nenek meninggal. Nahas, pria baik hati itu dipanggil Tuhan begitu cepat. Meninggalkan Putra yang harus berjuang sendiri tanpa sandaran keluarga, menghadapi realita dunia. Tanpa orang yang mengarahkannya lagi, tak jarang ia hampir berbelok ke jalan yang salah. Akan tetapi ingatan tentang kebaikan Paman Gin menjadi tamengnya.
Itulah cerita singkat tentang kehidupan Putra, rival tokoh utama lelaki untuk mendapatkan hati Niria.