8. —Malam Pertama Yang Ugh

1071 Kata
Seringai Brama tercetak lebih lebar di bibirnya, ia mengangguk, “Berbaliklah,” katanya kemudian. Dengan enggan, setengah hati banget, Zana berbalik, meraih rambut panjangnya yang diikat asal setelah melepaskan hair pinnya tadi. Ia menarik napas pelan. Menutup mata saat suara langkah Brama mendekatinya. Ini bukan pertama kalinya ia dibantu oleh laki-laki. Tapi, yang berbeda adalah kenyataan bahwa orang dibelakangnya adalah Kakak dari orang yang sudah membunuh Rima Nanda membuatnya takut. Juga kenyataan bahwa Brama adalah suaminya, itu juga terasa aneh sekarang. Tak disangka oleh Zana, Brama yang tadi menjahilinya dengan permintaan tolong itu, sekarang sedang begitu teliti membuka kancing berderet itu satu per satu. Lelaki itu bahkan membawakannya kursi rias untuk Zana duduki selama Brama membuka kancingnya. Lebih dari itu, Brama juga berhati-hati agar tidak menyentuhnya. Zana bisa merasakannya. Bagaimana Brama yang menarik kancing tanpa menyentuh punggungnya. Mafia harus teliti kali, ya? Pikir Zana mencari pembenaran. “Sudah selesai,” Brama berseru sambil kembali berdiri setelah membuka deretan kancing sampai ke pinggang itu. Gaun hitam yang Zana minta buatkan memang tertutup dari pundak sampai ekor gaun yang panjang penuh manik-manik dan swaoski. Tangan panjang dan memperlihatkan lekuk tubuh Zana. Bagian depannya penuh embroideri dan susunan payet cantik. Bagian kanan depannya belah sampai setengah paha. Gaunnya yang sangat cocok bersanding dengan suit Brama. Meski hanya punya waktu dua bulan untuk menyiapkannya, Brama benar-benar membuat Zana terpukau. Bagaimana tidak, semuanya sempurna. Dimulai dari prewed dadakan, fitting kebaya akad dan gaun resepsinya, permintaan tidak masuk akal yang dimintanya di awal, sampai semua perintilan dekorasi. Satu lagi, entah apa yang sudha Brama lakukan, tapi ia mendapatkan bagian ayam yang paling besar. Yang diinginkannya terlaksana. Lalu sekarang, Brama tanpa protes, ya, hanya menjahilinya di awal tadi, ia sudah menyanggupi permintaan tolong Zana. Meski receh dan Zana sempat gengsi memintanya. Lelaki itu mengiyakan, bahkan melakukannya dnegan hati-hati. Zana mengangguk, ia berdiri dan berbalik. Punggungnya yang sudah terbuka terasa dingin. Brama masih menatapnya, tapi tatapannya tidak setajam tadi. Tentu saja Zana menyadari atmosfir yang berubah di kamar ini karena gaun bagian punggungnya yang terbuka lebar. Tapi ia tidak menyangka kalau Brama juga akan terlihat canggung. Tadinya, dengan gengsi setinggi itu ia pikir ia akan merasa akan malu dengan minta tolong pada Brama. Namun setelah melihat kembali lelaki itu, ujung bibir Zana tertarik. Ia tersenyum jahil. “Belum selesai,” katanya yang membuat Brama memincingkan matanya. Brama menghela napas. “Apa yang belum selesai? Kancingnya sudah terbuka semua.” Zana berbalik menatap Brama, dengan tangan terangkat, dua-duanya. “Tangan panjang juga susah dibukanya,” katanya sedikit merajuk. Dan ya, Zana bisa melihat bagaimana Brama menatap kedua tangannya dengan alis terangkat. Zana bisa menebak isi kepala lelaki itu. “Ini juga?” tanya Brama dengan alis terangkat. Tidak yakin. Zana mengangguk. “Iyalah, susah tau lepas sendiri. Salah siapa yang tiba-tiba banget nyeret aku pergi pas MC bilang udah selesai,” bersungut-sungut Zana dengan tangan terulur meminta dibukakan. Bibirnya cemberut manyun-manyun di depan Brama. “Aku gak akan bisa tidur kalau gak mandi. Aku gak bisa mandi kalau belum buka baju. Jadi, tolong ya Mas Suami bukain baju aku,” ucapnya yang too much information itu sekali lagi dengan kata tolong yang tadi ditodong oleh lelaki itu. Alis Brama turun dan berganti dengan seringai kecil di ujung bibirnya. “Kamu gak takut saya buka semuanya?” Mata dan mulut Zana terbuka dengan dramatis, “Oh, Mas Suami mau malam pertama sama aku?” Sialnya, perempuan ini membuat Brama terkekeh, “Hm, kamu istriku.” Kaki Zana yang tanpa alas melangkah mendekat. Ia mengangguk kecil, matanya mengerling kecil, kepalanya mendongak. “Dan kamu suamiku.” katanya menyetujui dengan centil. Tangannya yang terangkat menunjuk dan ditekankan pada d**a bidang Brama. -- “Kalau kamu cukup berani untuk menyentuh aku.” Zana mendesis dengan seringai kecil di ujung bibirnya. Tatapan Brama menggelap dengan ujung telunjuk Zana di tengah dadanya, ia menghela napas lalu meraih tangan Zana. Mundur sedikit lalu meraih ujung lengan gaun Zana, menariknya perlahan. “Tunggu,” tahan Zana, ia menarik tangan melepaskannya dari cekalan Brama. “Gak sabaran banget, Mas,” komentarnya seraya menarik lepas cincin bertahtakan berlian yang sore tadi dipakaikan Brama sebagai cincin pernikahan mereka. Berbalik ke meja rias, menyimpan cincinya, Zana kembali memperlihatkan punggungnya yang sudah terbuka. “Nah,” katanya lagi yang sudah kembali berada di depan Brama. Sambil menahan dirinya, Brama memerhatikan gadis yang bolak-balik di depannya dengan sabar. Lalu saat Zana kembali berdiri di depannya, mengulurkan tangan, dan memasang wajah manis itu, Brama mendengus pelan. Tangannya meraih lengan gaun hitam Zana, menariknya pelan. Tangan Zana meloloskan diri kemudian. Brama bisa melihat tangan mulus Zana yang terlepas dari lengan gaun yang ditarikya. Lalu satu lagi, tangan kanannya. Gaun berat itu terlepas, Brama memegangi kedua lengan panjang gaun itu. Pundak mulus dan putih Zana terlihat dan juga bustier yang menjadi inner gaun hitam yang dipakainya, yang menutupi bagian depan Zana yang terlihat penuh. Brama berdeham dan mengangkat wajahnya menatap pada wajah Zana. Mata Zana memicing, bibir atasnya terangkat kecil, “Liat apa?” desisnya ketus. Brama mendengus, “Saya tidak tertarik,” balasnya tak acuh. Zana mengerjap, ia yang sudah kesal karena tadi Brama menatap dadanya tanpa berkedip tambah kesal dengan jawaban Brama yang meremehkannya. Tidak tertarik katanya? Hm, Zana tersenyum sinis. Tangannya menarik lengan baju yang masih dipegang Brama. Ia menarik turun gaunnya dan menyisakan bustier dan rok pendek di balik gaun itu. Pundaknya yang terbuka naik turun, dan ia mendekati Brama sekali lagi. “Yakin gak tertarik?” tanya Zana sekali lagi. “Atau takut menyentuhku karena Braja?” Zana menyentil di titik yang tepat. Kali ini, Brama tidak mundur, ia menatap Zana dengan lebih berani. Kakinya juga melangkah, mengikis jarak yang sudah selangkah lebih dekat. Sekarang ia hampir menempel dengan gadis berani di depannya. Tangannya terangkat, menarik pinggang Zana, membawanya menempel lebih dekat lagi. Kepalanya menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Zana yang mendongak padanya. Ada kedip terkejut saat Brama menariknya. Tapi Zana kemudian tersenyum dengan lebih berani lagi. Tangan kiri Brama mencengkeram pinggang Zana dan tangan kanannya terangkat menyentuh pipi Zana lalu perlahan, ibu jarinya merambat ke bibir bawah Zana yang kini kehilangan senyumnya. Brama menyeringai dengan si ibu jari yang menekan bibir pink yang menggoda di depannya. Ibu jari hangat Brama yang menekan bibirnya membuat Zana menahan tatapannya, juga napasnya. Jantungnya yang berdentum makin naik sejak tangan Brama menarik pinggangnya, kini tambah bertalu. Tapi ia menahan wajahnya agar tidak berubah di depan Brama. Agar tidak tercipta sorot takut yang membuatnya kalah. --
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN