79. —Tugas Lapang

1393 Kata

Bruk! Brama berlutut, tangan kanannya menahan cengekaraman pada kerah kemeja berlumur darah itu, sedangkan tangan kiri mengusap sudut bibirnya yang sobek. Ia berdecak. “Ck, Zana gak akan suka liat luka ini,” gumamnya. “Udah mau nyerah maneh?” ucap suara di belakangnya. Brama bangkit, masih ada sekitar lima belas orang di sana. Sedangkan lima lainnya sudah tumbang di sekitarnya. “Kamu masih akan menyerang dengan cara kayak gini?” tanya Brama. Selalu terdengar jumawa. Antasena bilang ia harus tetap terdengar unggul meski dalam keadaan terpojok sekalipun. Satu lawan dua puluh, itu berlebihan, bukan? Lalu apa Brama merasa terpojok? Tentu tidak. Ia sudah melumpuhkan lima di antaranya. Dengan hanya mendapat beberapa pukulan. Ini tidak seberapa. Brama menikmatinya. Ia sudah lama tidak mela

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN