Suasana kedai semakin ramai dengan pelanggan lain, tapi di sudut pojok itu, dunia seakan hanya milik mereka berdua. Suara tawa orang lain terdengar jauh. Yang ada hanya tatapan, senyum, dan obrolan yang semakin mengikat. Saat es jeruk mereka tinggal separuh, Dinda menyandarkan punggungnya ke kursi. “Pak, saya bahagia hari ini. Terima kasih sudah ngajak saya makan.” Dinda menatap Leon. Ia tersenyum tipis, menahan getaran perasaan yang semakin sulit ia sembunyikan. Mata mereka saling bertemu. Ada sesuatu yang tak terucap, tapi jelas terasa. Di kedai sederhana itu, Leon merasakan seakan ada cahaya yang hangat—cahaya yang tumbuh dari perasaan diam-diam, dari senyum yang tidak bisa dipaksakan, dari obrolan yang seakan membuat mereka lupa waktu. Leon meneguk sisa es jeruknya, lalu berkata li

