Suata pintu tertutup membuat rumah kecil itu kembali hening. Dinda sudah pergi, meninggalkan aroma sabun dan wewangian yang samar. Arman berdiri di depan wastafel, menyalakan keran. Bunyi gemericik air bercampur dengan denting piring yang saling berbenturan. Tangannya mengucek piring kotor dengan sabun, gerakannya cepat tapi asal, seperti ingin segera menyelesaikan pekerjaan itu. Buih menempel di sela-sela nojarinya, dan sesekali ia menghela napas panjang. Arman (dalam hati, bergumam kesal): “Dinda tuh makin lama makin aneh. Cuma gara-gara dia kerja, dia pikir bisa seenaknya nyuruh aku ini-itu. Apa dia lupa? Aku ini suaminya. Bukan babu.” Bibirnya mengerucut, keningnya berkerut. Ia menaruh piring di rak dengan kasar, sampai terdengar bunyi “plek” yang cukup keras. Arman kembali mengu

