BAB 9 Malam Yang Tak Sama

1707 Kata
Malam merayap pelan di luar jendela. Rumah itu sunyi, hanya sesekali terdengar suara jangkrik dari pekarangan. Anak-anak sudah lelap di kamar masing-masing, meninggalkan Leon dan istrinya berdua, di ranjang yang menjadi saksi dari cinta mereka. Lampu tidur menyala redup, memberi cahaya keemasan yang membalut tubuh istrinya. Leon memandanginya lama, seakan tak pernah puas. Baginya, perempuan itu adalah rumah, tempat segala resah menemukan ujung. Ia meraih tangannya, menempelkan bibir pada kening istrinya. Satu kecupan yang hangat, seolah mengucapkan doa sebelum perjalanan panjang dimulai. “Cantik sekali kamu malam ini,” bisik Leon serak. Istrinya tersenyum, matanya berkilau. “Kamu saja yang selalu bilang begitu.” “Karena itu benar,” jawab Leon, lalu menurunkan kecupannya ke pipi, lalu ke bibirnya. Ciuman mereka dalam, lama, penuh kerinduan. Istrinya melingkarkan tangan ke leher Leon, menariknya lebih dekat. Desah kecil lolos di sela bibirnya, memicu api yang langsung menjalar ke seluruh tubuh Leon. Ia menurunkan kecupan ke leher, membuat istrinya mengerang pelan, tubuhnya menggeliat dalam dekapan. “Ayah…” suaranya lirih, setengah tertahan. Leon tersenyum, lalu menurunkan bibirnya ke bahu, lengan, d**a, perut, setiap inci ia ciumi dengan penuh pengabdian, seakan tubuh itu adalah kitab suci yang sedang ia baca dengan khidmat. Jemarinya menyusuri lekuk tubuh istrinya, bibirnya singgah di setiap bagian, membuat desah istrinya semakin dalam. Ketika ciuman itu bergerak turun lebih jauh, istrinya tak lagi bisa menyembunyikan gejolak. Jemarinya meremas sprei, punggungnya melengkung, napasnya semakin cepat. Leon berlama-lama di sana, membiarkan istrinya hanyut dalam gelombang yang meninggi, membuat perempuan itu memanggil namanya dengan suara parau, penuh gairah. “Mas… jangan berhenti…” bisiknya memohon. Leon mengangkat wajahnya perlahan, menatap istrinya yang kini basah oleh peluh, matanya berkaca penuh nyala. Ia kembali naik, menautkan bibir mereka dalam ciuman dalam, sebelum akhirnya menyatukan tubuh mereka dengan hasrat yang membara. Tubuh mereka beradu, bergerak dalam irama yang hanya mereka pahami. Sesekali Leon menatap dalam ke mata istrinya, seakan ingin menegaskan bahwa cintanya lebih besar daripada dunia. Sesekali ia membiarkan istrinya mengambil kendali, menikmati setiap detik permainan cinta itu. “Mas… aku tidak sanggup…” desah istrinya lirih, tubuhnya bergetar. Leon merapatkan dekapannya, berbisik di telinga, “Lepaskan saja. Aku bersamamu.” Gelombang pertama datang, membuat mereka jatuh bersamaan di puncak yang sama. Tubuh saling meremas erat, napas tersengal, mata berkaca, dan hanya pelukan erat yang bisa meredakan gemuruh itu. Mereka terdiam sejenak, hanya suara napas berat yang terdengar. Leon menatap wajah istrinya yang memerah, lalu tersenyum, mengusap rambutnya. “Kamu luar biasa,” katanya lirih. Istrinya tertawa kecil, lalu mencubit pinggangnya. “Kamu juga. Tapi…” ia menatap nakal, “aku masih ingin.” Leon terkejut, lalu tertawa. “Kamu nggak pernah puas, ya?” “Aku nggak pernah puas sama kamu,” istrinya membalas dengan senyum genit. Mereka kembali berciuman, dan ronde kedua dimulai. Kali ini lebih panjang, lebih berani, lebih panas. Tubuh mereka bergerak mengikuti ritme yang lebih liar, tawa kecil sesekali pecah di sela desah, membuat malam itu terasa seperti permainan cinta yang penuh kebahagiaan. “Yah… aku suka sekali begini,” istrinya berbisik di tengah gelombang gairah. Leon menatapnya, matanya dalam. "Aku juga." Leon kembali menempelkan bibir ke leher istrinya agak lama, kemudian berganti istrinya mendaratkan ciuman di leher Leon, Leon pun tak kuasa merasakan kehangatan itu yang membuatnya bergetar. “Bun..…” desahnya lirih, suaranya bergetar di antara gairah dan kebahagiaan. istrinya tersenyum dan melepaskan bibirnya. Leon lalu melanjutkan perjalanannya. Bibirnya berjelajah lagi, turun ke lengan istrinya, turun ke d**a, ke perut, setiap inci disentuh seakan ia tengah membaca puisi dari tubuh perempuan yang dicintainya. Istrinya memejamkan mata, jemarinya meremas sprei, menahan gejolak yang makin tak terbendung. Ketika ciuman sampai pada yang lebih jauh lagi, istrinya menggeliat. Desahnya terdengar semakin jelas, memenuhi kamar yang temaram. Ia membiarkan Leon berlama-lama lagi di sana, membiarkan dirinya hanyut dalam gelombang yang semakin tinggi, tubuhnya bergetar, napasnya terengah, hingga ia hanya bisa memanggil nama suaminya dengan nada setengah memohon. “Ayah..…” suaranya parau, penuh gairah. Leon mengangkat wajahnya, menatap istrinya yang kini menatapnya dengan mata berkilat. Ia kembali naik perlahan, dari perut, d**a, lengan sampai pada bibir istrinya. Ia menautkan bibir mereka, sebelum akhirnya menyatukan tubuh mereka dalam pelukan yang membara. Tubuh mereka beradu dalam irama yang penuh hasrat. Desah dan bisikan berpadu, menyalakan api yang sulit dipadamkan. Mereka saling menggenggam erat, saling menatap, seakan dunia lenyap dan hanya mereka berdua yang ada. Ronde kedua menutup dengan pelukan lebih erat, tubuh yang lelah tetapi hati yang penuh. Leon mengusap wajah istrinya, lalu menempelkan bibir ke keningnya lama sekali. “Aku cinta kamu,” bisiknya, suara bergetar seperti doa. Istrinya membalas dengan kecupan lembut di bibirnya. “Aku juga,. Selalu.” Mereka tertidur dalam pelukan, senyum masih tersisa di bibir, seakan dunia hanya sebatas ranjang, pelukan, dan cinta yang tak pernah padam. ---- Di sisi lain kota, rumah itu sunyi. Lampu kamar hanya redup, menebarkan cahaya lembut yang jatuh ke wajah Nayla yang terlelap di samping Arman. Napas kecil Nayla begitu teratur, menandakan mimpi indah seorang anak berusia 4 tahun. Arman pun sudah tertidur, punggungnya membelakangi Dinda. Sementara Dinda terjaga. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar, dadanya sesak oleh sesuatu yang tak bisa dia keluarkan. __Kilas Balik (Adegan Lama)__ Malam itu, ketika Nayla baru berumur 15 bulan. Dinda menatap suaminya yang baru saja berbaring. “Mas...” bisiknya pelan, suaranya bergetar. “Aku... malam ini... aku ingin mas...” Arman mendengus, lalu menoleh setengah hati. Matanya tampak jengkel. “Kamu itu ya.....” suaranya datar, tapi menusuk. “Di otakmu itu isinya seks terus ya? Apa kamu hiper?” Kalimat itu menampar batin Dinda lebih keras dari apa pun. Bibirnya bergetar, air matanya jatuh begitu saja. “Pah...” Dinda menunduk, suaranya patah. “Aku cuma... kangen... sudah lama sekali...” Namun Arman kembali membalikkan tubuh, menutup mata tanpa peduli. Dinda terisak pelan, memeluk punggungnya. Malam itu ia hanya bisa menangis tanpa suara. Dan itu bukan sekali—tapi tiga kali ia memberanikan diri, tiga kali pula ia dipatahkan dengan kalimat yang sama. Sejak malam itu, Dinda berjanji. Ia tidak akan lagi mengemis, tidak akan lagi memohon untuk sesuatu yang seharusnya menjadi haknya. ____Kembali ke Malam Ini___ Kini, hampir tiga tahun sejak peristiwa itu. Nafkah batin darinya begitu jarang—sebulan sekali, kadang dua bulan, bahkan malam ini sudah hampir tiga bulan Arman tak menyentuhnya sama sekali. Dinda menatap punggung itu. Matanya berperang antara ingin dan takut. Ingin mendekap, tapi takut ditolak lagi. Yang ada hanya air mata. Ia menarik selimut, membenamkan wajah, dan menangis dalam diam. Hanya isakan tertahan yang menemaninya. “Ya Allah...” bisiknya, suaranya pecah. “Sampai kapan aku harus menahan semua ini?” _____Kenangan Tentang Adi____ Pikirannya melayang pada sosok yang telah lama pergi. Adi. Sahabat, sekaligus satu-satunya orang yang tahu isi hatinya. “Andai Adi masih ada...” gumamnya. “Aku pasti sudah cerita semua... hanya dia yang mengerti aku...” Kenangan itu hadir begitu nyata. Saat ia masih duduk di jok belakang motor Adi. Angin malam menampar wajah, namun Dinda merasa hangat karena tawa Adi selalu ada di sisinya. “Din, nyanyi bareng, ayo!” seru Adi sambil melaju di jalan desa. Dinda tertawa, “Lagu apa lagi? Jangan lagu aneh-aneh ya...” “Cika Lodako dong...” jawab Adi sambil mulai bersenandung. Mereka berdua menyanyikan lagu yang hanya mereka tahu. Lagu yang tak pernah populer, tapi menyimpan dunia kecil mereka sendiri. Dinda tersenyum dalam ingatan, tapi air matanya kembali jatuh. Dia juga ingat saat Adi membawanya ke rumah seorang teman. Teman itu diam-diam menunjukkan ketertarikan pada Dinda. Namun Adi dengan sigap berdiri di hadapan Dinda. “Jangan coba-coba dekati dia,” kata Adi tegas, menatap temannya. “Kenapa? Dia bukan pacarmu kan?” jawab temannya menantang. Adi menatapnya tajam, suaranya dingin tapi pasti. “Karena aku tahu kamu bukan laki-laki yang baik. Dan aku nggak akan biarkan Dinda terluka.” Dinda, yang kala itu hanya bisa terdiam, merasakan betapa Adi benar-benar menjaganya. ------ Dinda menggenggam dadanya, menahan tangis yang semakin deras. Ia menatap Arman sekali lagi, lalu menutup mata. “Adi...” bisiknya dalam hati. “Kalau saja kamu masih ada... mungkin aku nggak akan merasa sesepi ini...” Di balik isak tangisnya, Dinda merasakan dirinya makin rapuh. Dan yang tersisa hanya doa, serta kenangan yang kembali hidup di kepalanya. Malam semakin larut, perlahan Dinda memejamkan matanya dan larut dalam tidurnya. ---- Pagi itu, cahaya matahari masuk lewat jendela dapur. Dinda sibuk di depan kompor, menyiapkan sarapan seadanya: nasi goreng, telur ceplok, dan kopi hitam panas. Wajahnya terlihat letih, tapi ia tetap berusaha tersenyum. Di ruang tengah, Nayla sudah bangun, bermain dengan boneka kecilnya. Arman duduk di kursi dengan wajah datar, sibuk menggulir layar ponsel. “Pah.., sarapannya sebentar lagi ya,” ujar Dinda sambil mengaduk nasi di wajan. Arman hanya mengangguk tanpa menoleh ---- Dinda menaruh piring di meja, lalu duduk di samping suaminya. Ia mengambil sendok, lalu mengisi satu piring saja. Kebiasaan lama yang sudah menjadi bagian dari mereka: makan satu piring berdua. “Yuk, Pah...” ucap Dinda lirih, mencoba tersenyum. Arman meraih sendoknya dengan malas, menyendok nasi tanpa ekspresi. Dinda kemudian mengambil cangkir kopi hitam, meneguknya sebentar lalu menyodorkannya ke Arman. “Pah, minum dulu.” Arman meminumnya singkat, lalu mengembalikan cangkir itu. Tak ada kata-kata, hanya keheningan yang menusuk. Dinda menahan perih di dadanya. Kebiasaan yang dulu terasa romantis, kini hanya tinggal rutinitas hambar. Sambil meneguk kopi yang sama dengan suaminya, Dinda teringat masa lalu. Saat bersama Adi. Di warung kopi, dulu, Adi selalu berkata, “Din, kita minum satu gelas aja, biar hemat.” Tapi Dinda tahu, alasan Adi bukan soal uang, melainkan keinginan berbagi sesuatu yang kecil, namun penuh arti. Bahkan mereka terbiasa makan satu piring berdua, bercanda, saling rebutan lauk dengan tawa riang. Kini, kebiasaan itu masih ia lakukan. Tapi bersama orang yang bahkan tidak lagi menatap matanya. Dinda melirik jam dinding. “Pah.., aku berangkat kerja dulu ya. Tolong jagain Nayla.” Arman hanya mendengus singkat. “Iya.” Dinda meraih tas kerjanya, lalu jongkok untuk mencium Nayla. “Nayla sayang, nanti main sama Papa, ya. Mama pulang bawa jajan.” Nayla terkekeh, memeluk leher mamanya sebentar. Dinda berdiri, menatap Arman sejenak. “Hati-hati di rumah ya, Pah” Arman tidak menjawab. Ia masih menatap layar ponsel. Dinda menghela napas, lalu melangkah keluar rumah. Senyum yang dipaksakan masih melekat di bibirnya, meski hatinya hancur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN