Yang namanya takdir sudah tertulis di buku catatan kehidupan kita. Tak bisa untuk kita elakkan. Karena semuanya sudah menjadi ketentuan dari yang di atas. Kabur sejauh apapun, kejadian yang telah ditakdirkan tetap akan mengejar kita. Esok harinya aku kembali berpapasan dengan dia. Kenapa!? Aku menghela nafas berat, tak ada waktu untuk mengelak lagi, mata kami sudah terlanjur berpapasan. Terlebih aku dalam posisi yang tidak bisa kabur. Laki-laki bernama Omar itu melambaikan tangan dengan senyuman hangat padaku. Dia berlari kecil ke arahku. "Sedang apa Hana?" tanya Omar sambil melirik tanpa izin tugas yang sedang aku kerjakan. "Bisa?" tanya Omar kembali setelah melihat beberapa jawaban yang kosong. Aku menghela nafas. Memasang wajah masam. "Tidak." Omar tersenyum tipis. "Mau aku bantu?"

