"Kau akan pergi kerja?" tanyanya dengan nada seperti anak kecil, ia menggandeng tangan Melinda dan mengayun-ayunkannya. Wajah pria itu juga dibuat sesedih mungkin.
Melinda menatapnya dengan alis berkerut. "Iya, kenapa?"
Xander memajukan bibirnya, ekspresi manja terpampang jelas di wajahnya. "Lalu bagaimana denganku?"
Melinda menghela napas panjang. "Apa maksudmu? Ada apa denganmu?"
"Aku tidak mau ditinggalkan sendirian," rengeknya. "Aku takut."
Melinda menatapnya tak percaya. "Xander, kau itu sudah dewasa. Kenapa juga kau harus takut?!"
"Ya, 'kan ini bukan rumahmu. Lagipula, keluargamu semuanya menakutkan. Bisa jadi mereka menusukku lagi saat aku tidur. Hm?"
Melinda memutar bola matanya dengan malas dan mengacungkan jari telunjuk di depan hidung Xander. "Dengarkan aku baik-baik! Mereka tidak akan pernah mengusikmu selagi kau tidak membuat masalah. Lagipula, kau pria dewasa yang bisa melarikan diri kalau mereka berbuat jahat padamu."
"Tapi aku masih dalam masa pemulihan. Aku pasti tidak bisa berlari secepat itu."
"Kau baik-baik saja! Lihat, kau bahkan bisa berdebat dengan Naina tadi!"
"Itu karena aku dipenuhi semangat kebencian," balas Xander dramatis. "Tapi sekarang energiku terkuras dan aku membutuhkan pendamping. Ayolah, aku tidak mau sendirian."
Melinda menatapnya dengan pandangan 'serius, kau bilang begitu?' lalu menghela napas panjang.
"Oke, dengarkan aku, Xander." Melinda melepaskan lengannya dari genggaman pria itu. "Aku harus bekerja. Tidak ada pilihan lain."
"Tapi aku kesepian."
"Kesepian?" Melinda melotot. "Ini rumah besar dengan banyak orang! Kau tidak sendirian! Kau bisa mengobrol dengan satpam, pembantu atau bahkan ikan-ikan di kolam belakang. Terserah Apa yang kau lakukan."
Xander menggeleng cepat. "Aku tidak yakin kalau mereka akan menyukaiku."
"Itu karena kau menyebalkan!"
Xander mencibir. "Itu bukan alasan untuk meninggalkanku."
Melinda benar-benar ingin menjambak rambutnya sendiri. "Kau mau aku tidak kerja, lalu bagaimana aku membiayai hidupmu?"
Xander mengedipkan matanya beberapa kali. "Jadi kau mengakui bahwa kau membiayai hidupku?"
"Aargh! Bukan itu maksudku!" Melinda meremas wajahnya frustasi.
Xander menyeringai puas. "Lihat, kau sudah mengakuinya. Itu artinya aku tanggung jawabmu. Dan karena kau bertanggung jawab atas diriku, kau tidak boleh meninggalkanku sendirian!"
Melinda berusaha menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Xander, aku serius. Aku harus bekerja. Titik."
Xander mendadak merosot ke lantai dengan ekspresi terluka. "Jadi kau lebih memilih pekerjaanmu daripada aku?"
"Aku bukan ibumu yang harus mengurusmu setiap saat! Kenapa aku harus mementingkan dirimu daripada pekerjaanku?" Melinda berkata dengan sangat frustasi.
Xander menatapnya dengan ekspresi memelas. "Tapi aku pria lemah yang butuh kasih sayang ...."
"Kau pria dewasa yang hanya pura-pura tidak berdaya!"
Xander menghela napas panjang, lalu tiba-tiba berguling di lantai seperti anak kecil yang ngambek. "Kalau kau tetap pergi, aku akan mati kebosanan."
Melinda menatap pria itu dengan ekspresi ngeri. "Serius, kau itu umur berapa sih? Berhenti bertingkah seperti anak-anak!"
"Apa umurku mempengaruhi rasa kesepianku?"
"Ya! Seharusnya kau bisa mengurus dirimu sendiri! Kau sudah tua, Xander!"
"Tapi aku sakit."
"Kau baik-baik saja!" Melinda meninggikan suaranya dengan perasaan dongkol.
Xander mendesah. "Jadi aku benar-benar akan ditinggalkan?"
"Ya!"
Xander menatapnya dengan wajah penuh drama. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengurung diri di kamar sepanjang hari tanpa makanan dan tanpa cahaya. Aku akan menjadi fosil."
"Silakan!"
"Aku akan mati kelaparan."
"Aku akan mengirim makanan ke sini."
"Tapi itu tidak sama tanpa kehadiranmu!"
Melinda memijat pelipisnya. "Xander, demi kewarasanku, bisakah kau berhenti mengeluh?"
Xander menatapnya penuh harap. "Kalau kau mengizinkanku ikut denganmu ke kantor, aku akan diam."
"Tidak mungkin!"
Xander memasang wajah terluka lagi. "Jadi kau malu memiliki pacar seperti aku?"
"KAU BUKAN PACARKU!"
"Jadi aku ini apa?"
"PARASIT!"
Xander terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku adalah parasit yang membutuhkan inang. Dan inangnya adalah kau. Jadi, aku harus ikut denganmu!"
Melinda menutup mata, berusaha menahan semua umpatan yang nyaris keluar.
"Aku akan bersikap manis," tambah Xander.
"Tidak ada yang percaya itu."
"Aku tidak akan merepotkanmu."
"Kau adalah definisi kerepotan! Aku biasanya menghabiskan waktu dengan bekerja adalah untuk menghilangkan stres, tapi kalau kau ikut denganku, aku akan semakin stres."
Melinda berbicara dengan nada berapi-api dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Menghadapi Xander di rumah saja membuatnya nyaris gila, apalagi sepanjang hari di kantor dan pria itu ingin ikut.
Xander tidak peduli. Ia mendekat dan menatapnya dengan mata berbinar-binar. "Kalau kau membawaku, aku janji tidak akan membuat masalah."
"Kau bahkan sudah membuatku hampir gila sekarang!"
Xander tersenyum lebar. "Itu karena aku belum ikut ke kantor. Mungkin setelah aku ikut, kau akan lebih tenang."
Melinda menarik napas dalam, lalu menghembuskannya. "Baik. Terserah! Tapi kalau kau bikin masalah, aku akan menendangmu keluar!"
Xander mengangkat tangan seperti prajurit yang menerima perintah. "Siap, Nona Bos!"
Setelah akhirnya menyerah pada Xander, Melinda memberinya pakaian ganti.
"Apa tidak ada pakaian yang lebih bagus? Kenapa kau memberiku pakaian si b******k itu?" tanya Xander dengan kesal.
Melinda memejamkan matanya. "Itu satu-satunya pakaian kerja pria yang ada di dalam lemariku. Pakai saja yang ada, aku akan meminta sekretarisku membelikan pakaian untukmu."
"Aku tidak mau."
"XANDER!"
Xander mengangkat bahu santai. "Aku tidak peduli, kenyamananku adalah tanggung jawabmu."
Melinda menggeram sebelum akhirnya menyerah. "Aku akan meminjam pakaian dari ayahku!"
"Itu lebih baik," kekeh Xander.
Melinda kemudian berjalan keluar dari kamar. Lalu, tak lama kemudian ia kembali dengan kemeja hitam dan celana jeans.
"Kenakan ini dan jangan protes!"
Xander memegang kemeja itu, lalu menatapnya tak percaya. "Ternyata ayah mertuaku memiliki selera pakaian yang bagus."
Xander menatap pakaian itu sejenak, lalu mendesah dramatis. "Baiklah, tapi kalau aku terlihat terlalu seksi, itu salahmu!"
Melinda hanya menghela napas panjang. Ia benar-benar butuh stok kesabaran ekstra menghadapi pria ini.
Setelah drama pakaian dan perdebatan panjang, akhirnya mereka tiba di kantor.
Melinda baru saja masuk ke dalam lift ketika Xander dengan percaya diri berdiri di sampingnya, mengangkat dagu tinggi seolah dia adalah pemilik gedung.
"Jangan bertingkah aneh!" bisik Melinda.
"Aku? Bertingkah aneh?" Xander menoleh dengan ekspresi polos. "Aku hanya berdiri di sini."
Melinda menyipitkan mata. "Aku tahu raut wajah itu. Kau merencanakan sesuatu, kan?"
Xander tersenyum miring. "Aku hanya ingin mengenal lingkungan baruku."
"Tidak ada yang namanya lingkungan baru. Kau hanya diizinkan untuk duduk diam di ruanganku!"
Xander menatap sekeliling. "Hmm ... tidak ada yang tahu aku siapa di sini, kan?"
Melinda mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa?"
Xander menyeringai. "Kalau aku memperkenalkan diriku sebagai tunanganmu, kira-kira apa yang akan terjadi?"
Melinda hampir tersedak udara. "KAU JANGAN COBA-COBA!"
"Tapi bukankah akan menarik melihat reaksi mereka?"
"Xander, aku bersumpah jika kau melakukan itu, aku akan melemparmu keluar jendela!"
Xander pura-pura berpikir. "Hmmm, itu berarti aku harus melatih cara mendarat yang baik..."
"Aku serius!"
"Aku juga!"
Lift berbunyi, pintu terbuka, dan sebelum Melinda bisa bereaksi, Xander sudah melangkah keluar lebih dulu.
Sementara Melinda hanya bisa mengusap wajahnya, berdoa agar pria menyebalkan ini tidak membuat masalah yang lebih besar lagi hari ini.
Tapi tentu saja, bersama Xander, itu hanya harapan kosong. Karena Xander sudah melarikan diri, masuk ke dalam ruangan lain.
"Bencana apa lagi ini?"