Melinda melangkah keluar dari kamar dengan langkah cepat, wajahnya masih dipenuhi kemarahan yang belum reda. Di belakangnya, Xander mengikuti dengan santai, tangannya masuk ke dalam saku celana, wajahnya penuh dengan ekspresi tak berdosa.
Melinda melirik ke belakang dan menggerutu. "Kenapa kau selalu mengikutiku seperti anak ayam, hah?"
"Aku penasaran kau mau ke mana." Xander tersenyum iseng. "Lagi pula, aku kan peliharaanmu. Bukankah tugasku adalah mengikuti majikanku?"
Melinda mendengus, tangannya hampir saja terangkat untuk memukul kepala pria itu, tetapi ia mengurungkan niatnya. Tidak ada gunanya memperdebatkan sesuatu dengan pria menyebalkan ini.
Begitu sampai di ruang baca, Melinda segera masuk dan menoleh ke belakang. "Tutup pintunya!"
Xander menaikkan alis. "Kenapa? Mau melakukan sesuatu yang—"
"Diam dan tutup pintunya!"
Dengan malas, Xander menutup pintu dan berjalan ke tengah ruangan. Sementara itu, Melinda mengambil sebuah buku romance dari rak dan duduk di sofa.
"Kau suka membaca romance fantasi?" tanya Xander, berjalan mengitari rak buku, mencari sesuatu yang bisa menarik perhatiannya.
Melinda mengangkat bahu. "Mungkin. Setidaknya lebih menarik daripada mendengar ocehanmu."
Xander tertawa kecil sebelum mengambil satu buku acak dan membolak-balik halamannya. Tapi sebelum sempat benar-benar membaca, pintu kembali terbuka, dan suara menyebalkan yang tak asing lagi memenuhi ruangan.
"Aku lihat kau memberikan peliharaanmu sebuah mobil," kata Naina, melangkah masuk dengan senyum sinis di wajahnya.
Melinda tetap diam, fokus pada bukunya, seolah tidak mendengar.
Naina berjalan lebih dekat. "Bagaimana bisa kau membelikan pria itu mobil mewah? Kau bahkan tidak mengenalnya dengan baik."
Melinda akhirnya mengalihkan tatapannya dan menutup bukunya dengan tenang. "Lalu, apa urusanmu? Aku membelinya dengan uangku."
"Paling tidak, kau tidak perlu membelikannya," gerutu Naina. "Kau lupa? Tiga bulan lalu aku ingin mobil baru, tapi kau malah memberiku mobil lamamu dan kau membeli mobil lain untuk dirimu sendiri. Itu tidak adil."
Melinda menyeringai sinis. "Aku sudah berbaik hati memberimu mobil itu, dan sekarang kau masih merengek?"
"Aku keluargamu, dan dia bukan!" bentak Naina.
Melinda tertawa tanpa humor. "Mana ada keluarga yang saling menikam dari belakang?"
Naina mendengus, merasa tersudut, lalu mengarahkan tatapan tajamnya ke Xander. "Aku tidak mengerti apa yang kau lihat dalam pria miskin ini. Dia tidak lebih dari gelandangan yang beruntung bisa hidup di rumah ini!"
Xander, yang sedari tadi sibuk mengamati rak buku, akhirnya tertawa kecil. "Hm? Maaf, aku tidak sengaja mendengar ocehanmu. Tapi sebenarnya, kau sedang mengataiku atau membicarakan dirimu sendiri?"
Mata Naina membelalak. "Apa maksudmu?!"
Xander berjalan mendekati Melinda, meletakkan siku di bahu wanita itu dengan santai. "Aku mungkin pria miskin yang beruntung, tapi setidaknya aku tidak menjual harga diri untuk menikahi pria yang tidak mencintaiku hanya demi kepuasan karena tidak mampu menyaingi saudaraku."
Wajah Naina memerah marah. "Kau b******n tidak tahu diri!"
Xander menoleh ke Melinda. "Aku tidak tahu, sayang. Haruskah aku merasa tersinggung?"
Melinda yang sudah dari tadi menahan emosi akhirnya bangkit. "Cukup, Naina."
"Apa? Kau membelanya?"
"Aku membela siapa pun yang benar!" Melinda berkata dengan suara tajam.
"Kau membuang-buang uang untuk pria miskin ini, sementara aku, adikmu sendiri, harus puas dengan barang bekas!"
Melinda menatapnya dengan tajam. "Kau tidak akan pernah puas. Bahkan jika aku memberikan seluruh hartaku padamu, kau tetap akan merampas lebih banyak dariku."
"Karena aku pantas mendapatkannya lebih darimu!"
"Kau pikir itu bener? Padahal, bagiku kau sangat menyedihkan. Sejak dulu, kau selalu menginginkan apapun yang aku miliki. Kau akan merengek pada ibumu dan ibumu akan merampasnya dariku. Bukankah itu yang kau lakukan sejak lama?!" sinis Melinda. "Kaulah pengemis sebenarnya, Naina!"
"Melinda! Jaga bicaramu!" sentak Naina.
"Apa sekarang kau jadi sok keras? Aku mengatakan fakta. Baik dulu maupun sekarang, kau sama, Naina. Kau ... hanya bisa memungut bekasku!" kata Melinda penuh penekanan.
Tak tahan, Naina menampar Melinda dengan keras dan itulah batas kesabaran Melinda. Dengan amarah yang tak bisa lagi ia bendung, tangannya melayang ke wajah Naina, menamparnya dengan lebih keras.
Suara tamparan menggema di ruangan, tepat saat pintu kembali terbuka dan Darco masuk.
Melinda bahkan belum sempat menarik tangannya saat Naina dengan dramatis jatuh ke lantai, menangis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Auh! Melinda kenapa kau tega sekali ingin melukaiku?" tangis Naina, tubuhnya bergetar hebat. "Kenapa kau tega ingin mencelakai bayiku?!"
Melinda tertegun, tidak percaya dengan kebohongan terang-terangan itu.
Darco menatapnya dengan penuh amarah. "Melinda! Kau sudah keterlaluan!"
"Darco, aku—" Melinda membuka mulutnya untuk membela diri, tetapi Darco sudah membungkuk dan membopong Naina ke dalam pelukannya.
"Jangan harap aku akan memaafkanmu jika sesuatu terjadi pada bayiku," katanya dingin. "Aku tahu kau sangat membenciku, tapi bisakah kau gunakan hati nuranimu untuk tidak melukai bayi yang tak berdosa?!"
***
Melinda terduduk lemah, air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan. Dadanya terasa sesak, melihat bagaimana Darco lebih memilih percaya pada Naina dibandingkan dirinya.
"Dasar b******n! Kau bilang kau mencintaiku, tetapi kau bahkan tidak mau mendengarkan aku!" jerit Melinda dengan suara gemetar.
Ruangan menjadi sunyi. Hanya isakan Melinda yang terdengar.
Xander menatapnya dengan ekspresi yang tidak lagi ceria. Perlahan, ia berjongkok di hadapan Melinda dan mengangkat tangannya untuk menghapus air mata wanita itu.
"Kenapa menangis untuk pria bodoh seperti itu?" katanya lembut.
Melinda terisak, tidak bisa menjawab.
Xander tersenyum kecil, lalu menariknya ke dalam pelukan. "Jangan menangis. Aku ada di sini."
Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Melinda merasa tenang di dalam pelukan seseorang.
Yang terdengar hanyalah isakan lirih Melinda. Bahunya bergetar, kedua tangannya mengepal di atas pahanya. Ia menunduk, membiarkan air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.
Xander tetap berjongkok di hadapannya, tidak berkata apa pun selama beberapa saat. Ia hanya mengamati, membiarkan Melinda menangis tanpa menyela. Lalu perlahan, ia mengangkat tangannya dan mengusap lembut pipi wanita itu, menyapu air mata yang mengalir di sana.
"Kenapa menangis untuk pria bodoh seperti itu, hm?" suaranya pelan, hangat, dan terdengar dalam.
Melinda menggeleng, menggigit bibirnya sendiri. "Dia ... memilih Naina ... selalu membelanya. Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk menjelaskan."
Xander mendesah, lalu mengusap rambut Melinda dengan gerakan yang hati-hati. "Karena itu kau tidak perlu lagi menjelaskan apa pun pada mereka. Orang yang benar-benar peduli tidak akan menilaimu hanya dari satu sisi yang ia lihat. Hm?! Aku di sini, menyaksikan apa yang terjadi, sementara dia tidak, 'kan?"
Melinda masih diam, tapi tangisnya perlahan mereda. Ia menatap lantai, mendengarkan Xander tanpa mengucapkan apa pun.
Xander tersenyum tipis, jemarinya kembali menyapu air mata di pipi Melinda. "Kau tahu? Aku tidak suka melihatmu menangis. Kau lebih cocok dengan ekspresi menyebalkan dan wajah angkuh itu. Rasanya aneh melihatmu seperti ini."
Melinda mengerjapkan matanya, mencoba menormalkan napasnya.
Xander mengangkat tangannya, kemudian mengecup kening Melinda dengan lembut. Hangat. Menenangkan.
Sekian detik mereka saling diam. Hanya ada keheningan di antara mereka. Dan untuk pertama kalinya, Melinda merasa ada seseorang yang benar-benar berada di sisinya tanpa menuntut apa pun.
Perasaan nyaman itu menjalar perlahan. Keberadaan Xander, sentuhannya yang ringan di rambutnya, dan cara pria itu berbicara seperti tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain dirinya... semua itu menenangkan Melinda dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.
Tapi kemudian, kesadarannya kembali.
Dengan cepat, Melinda mendorong Xander, menjauhkan diri. "Kau—kau sedang apa?!"
Xander terkekeh, tidak tampak terkejut atau tersinggung. "Apa? Aku hanya membuatmu tenang. Dan aku berhasil, bukan?"
Melinda membuka mulut, tapi tak tahu harus berkata apa. Ia buru-buru menghapus sisa air matanya, lalu berdiri dengan cepat. "Urus urusanmu sendiri! Jangan ikut campur dalam hidupku!"
Xander masih duduk santai, menatapnya dengan seringai jahil. "Tapi bukankah aku sudah jadi bagian dari hidupmu?"
Melinda mengerang kesal, lalu berbalik dan keluar dari ruang baca.
Xander tertawa kecil, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. "Keras kepala sekali."
Namun, ia sadar, ia sudah semakin terikat dengan wanita itu. "Bagaimana kau akan melepaskan diri dariku setelah ini, Nona Brown?"