Bab 11. Sisi Lain Melinda

1430 Kata
"Apa lagi sekarang?" keluh Xander y melihat tatapan tajam dari Melinda yang kini berdiri di depan ranjang dengan tangan terlipat di d**a. Bagaimana mana tidak tajam, Xander yang begitu nyaman berbaring di tempat tidurnya, menghabiskan kasur sendirian seolah kasur itu adalah miliknya. "Aku sudah bilang, tidurlah di kamar tamu," ujarnya tegas. "Kau benar-benar tuli, ya?!" Xander hanya melambaikan tangan santai. "Mantanmu akan membuat keributan begitu tahu siapa aku sebenarnya. Aku tidak akan membiarkanmu diusik lagi." Melinda mendengus. "Dia sudah tahu kau seorang gigolo. Apa lagi yang perlu diributkan?" "Ayahmu tidak tahu, 'kan? Kau sudah menyangkalnya tadi!" "Dengar! Darco bukan pria sembarangan. Ayahnya adalah walikota dan informasi yang dia dapatkan pasti akurat. Cepat atau lambat, ayahku akan tahu dan kau ... jangan lupa kalau aku hanya menampungmu sampai sembuh!" Xander langsung bangun, menatap Melinda dengan ekspresi dramatis. "Hei, Nona. Menurutmu aku harus mengatakannya dengan jujur bahwa aku adalah gigolo, lalu dia akan menghinamu habis-habisan karena tidak bisa move on? Kau yakin bisa terima itu? Kau kemarin tidak terima dikatai tidak bisa move on." Melinda membuka mulut, tapi sebelum sempat berbicara, Xander sudah menyela lagi. "Dengarkan aku baik-baik, Nona Keras Kepala. Keributan akan terjadi begitu dia tahu kau masih mencintainya. Dia akan mengejarmu, mengganggumu, memohon padamu seperti anjing kelaparan setiap hari. Begitu kau kembali padanya—" "Tidak!" Melinda berteriak cepat. "Aku tidak mau dikejar b******n itu lagi. Aku tidak mau kembali bersamanya. Dia ... dia bekas adik tiriku." Xander tersenyum sinis. "Kalau begitu, satu-satunya solusi adalah aku berpura-pura menjadi kekasihmu, tentu saja. Itu ide yang sangat cemerlang dan kau tidak akan rugi menyetujuinya." Melinda menatapnya curiga. "Kenapa aku harus setuju dengan ide gilamu ini?" Xander mengangkat bahu. "Karena itu satu-satunya cara agar dia berhenti mengganggumu. Jika dia melihat kau sudah bersama pria lain, harga dirinya akan terluka dan dia tidak akan mengejarmu lagi. Lagipula, aku sudah menyelamatkan nyawamu, ini cara yang adil untuk membayarnya, bukan?" Melinda mendengus. "Kau benar-benar licik." "Aku menyebutnya pintar," Xander mengoreksi dengan senyum puas. Melinda berpikir sejenak, lalu menghela napas panjang. "Baiklah, aku setuju. Tapi hanya sampai aku menemukan cara lain untuk menyingkirkan Darco atau paling tidak sampai dia berhenti mengejarku." Xander berseru senang. "Keputusan yang bijak, nona!" Melinda mendelik. "Tapi ingat, jangan berlebihan!" "Aku tidak bisa menjanjikan itu," sahut Xander dengan senyum jahil. "Kau hanya ...." "Hanya apa?!" "Hanya harus memperlakukan aku selayaknya kekasihmu, setidaknya di depan mereka," kata Xander lagi. Alisnya naik turun. Melinda menghela napas panjang, berusaha mengabaikan rasa frustrasi yang mulai muncul. Xander kembali merebahkan diri di tempat tidur dengan nyaman. "Ngomong-ngomong, aku butuh pakaian ganti. Aku tidak bisa tidur tanpa piyama tipis." Melinda menatapnya dengan tajam. "Aku bukan pembantumu!" Xander mendesah dramatis. "Jadi, aku harus meminta ke adik tirimu saja?" Melinda langsung menunjuk Xander dengan mata membelalak marah. "Aku akan membunuhmu, Xander!" Xander mengangkat tangan santai. "Aku tidak peduli. Kenyamananku di sini adalah tanggung jawabmu." Melinda memijit pelipisnya dengan frustasi sebelum akhirnya berjalan menuju lemari pakaian. Ia membuka laci, mencari sesuatu yang bisa dipakai Xander. Sayangnya, satu-satunya piyama yang ada dan bisa dikenakan Xander hanyalah piyama satin berwarna pink yang baru ia beli beberapa waktu lalu. Tanpa berpikir panjang, ia mengambilnya dan melemparkan ke arah Xander. "Pakai ini!" Xander menangkapnya, menatap piyama itu dengan ekspresi ngeri. "Serius? Pink? Satin?" "Itu satu-satunya yang ada. Kalau tidak mau, silakan tidur tanpa baju di luar!" Xander dengan cepat memakai piyama itu di depan Melinda yang hanya menghela napas dan memalingkan wajahnya. "Pria ini gila!" umpat Melinda. "Kau tidak perlu gengsi, bukan? Bahkan kau sudah merasakan nikmatnya belut listrikku! Selesai! Kau bisa melihat si seksi ini sekarang!" Melinda menatap Xander yang sudah berbaring nyaman di tengah ranjangnya. Ia berkacak pinggang, mengerutkan kening dengan kesal. "Turun dari ranjangku, Xander." Xander membuka sebelah matanya dan mendengus. "Tidak mau." Melinda menendang kaki ranjang, tapi Xander tetap bergeming. "Aku yang punya tempat tidur ini!" protes Melinda. "Dan aku yang sedang sakit," balas Xander dengan suara manja. "Apa kau tega menyuruh pasien tidur di sofa?" Melinda mengerang frustasi. "Kalau begitu, aku yang akan tidur di sofa!" Beberapa menit kemudian… "Ck! Aku tidak bisa tidur!" kesal Melinda. "Xander, tukar tempat! Ini sangat tidak nyaman!" katanya sambil bangkit. Xander terkekeh. "Itu bukan salahku." Melinda mendekati ranjang. "Geser, aku mau tidur juga!" Xander menggeleng. "Aku butuh ruang lebih banyak untuk tidur nyenyak." Melinda mendengus. "Ranjang ini cukup untuk dua orang, Xander!" "Tapi aku sakit, aku harus tidur leluasa," jawab Xander santai. Kesabaran Melinda habis. Ia langsung naik ke ranjang dan menarik selimut Xander. "Cepat geser!" Xander malah menggenggam erat selimutnya. "Tidak mau!" Melinda menggeram, lalu mulai menarik bantal Xander. "Kalau begitu, bantal ini jadi milikku!" Xander yang tidak terima, langsung mengambil bantal lain dan melemparkannya ke arah Melinda. Plok! "Hei!" Melinda melotot. Xander hanya terkekeh. "Kau yang memulai." Melinda menatapnya tajam, lalu dengan cepat mengambil bantal di tangannya dan memukul Xander dengan keras. Plak! "Aw! Aku kan masih sakit!" Xander pura-pura meringis. Melinda tidak peduli dan terus memukulinya dengan bantal. "Itu bukan salahku! Ini tempat tidurku!" Xander yang awalnya hanya ingin bercanda, mulai melawan. Ia mengambil bantalnya dan memukul Melinda balik. Plak! Melinda balas menyerang. Plak! Xander tidak mau kalah. Plak! Mereka terus saling pukul dengan bantal, perang sengit pun terjadi di atas ranjang. "Aku tidak akan menyerah!" teriak Melinda sambil memukul kepala Xander. "Aku juga tidak akan mengalah!" balas Xander sambil membalas pukulan Melinda. Pertarungan berlangsung sampai akhirnya… Bruk! Mereka berdua jatuh dari ranjang bersamaan, terjerembab di lantai dengan posisi Melinda menindih Xander. Suasana hening sejenak. Melinda menatap Xander yang berada di bawahnya, sementara Xander memandangnya dengan mata melebar. "Kau berat," gumam Xander akhirnya. Melinda langsung berdiri dengan wajah merah. "Salahmu sendiri!" Xander mengusap kepalanya yang sedikit sakit akibat jatuh. "Kalau begini caranya, kenapa kita tidak tidur saja bersama?." Melinda menatapnya tajam. "Jangan coba-coba macam-macam." Xander menyeringai. "Aku ini pria lemah tak berdaya. Kau yang harusnya khawatir kalau tidak bisa menahan diri." Melinda mendengus dan akhirnya menyeret Xander kembali ke ranjang. "Kau di sisi sana, aku di sisi sini," tegasnya. "Baiklah, nona galak," balas Xander santai. *** Sementara itu di saat yang sama. Naina berdiri di depan ranjang dengan wajah merah padam, tangannya mengepal di sisi tubuh. Di hadapannya, Darco baru saja melempar bantal dan selimut ke sofa di sudut kamar. "Darco! Sampai kapan kau mau terus seperti ini?!" suara Naina meninggi, matanya menyala marah. Darco, yang sudah melepas dasinya, hanya melirik sekilas ke arahnya lalu duduk di sofa, bersandar santai. "Seperti ini bagaimana?" tanyanya dingin. "Kau selalu tidur di sofa!" Naina mendekat, tangannya mengepal. "Kita sudah menikah, tapi kau bahkan tidak mau menyentuhku!" Darco mendengus pelan. "Lalu? Aku harus memaksakan perasaan yang tidak ada?" Naina menggigit bibirnya, amarahnya semakin memuncak. "Aku istrimu, Darco! Apa kau masih belum bisa melupakan Melinda?! Kau masih mengharapkannya, ya?! Itu sebabnya kau menolak menyentuhku?!" Darco bangkit dari sofa, mendekati Naina dengan tatapan tajam. "Dengarkan aku baik-baik, Naina." Suaranya rendah, tapi dingin menusuk. "Aku menikahimu karena kau hamil. Itu saja. Jangan pernah berharap lebih." Naina merasa tubuhnya menegang. "Kau … kau benar-benar tidak punya hati!" Darco terkekeh sinis. "Lucu sekali kau yang mengatakannya. Kau pikir, apa kau punya hati?" Naina menatapnya tajam. "Kalau kau tidak mau tidur seranjang denganku, keluar dari kamarku!" Darco mengangkat bahu tanpa ekspresi. "Baik." Tanpa ragu, Darco mengambil selimut dan bantalnya, lalu berjalan ke arah pintu. "Darco! Kau mau ke mana?!" "Di luar," jawabnya datar. "Lebih baik tidur di ruang tamu daripada menghabiskan malam denganmu." Naina ingin berteriak, ingin mengamuk, tapi yang bisa ia lakukan hanya melihat Darco membuka pintu dan keluar tanpa menoleh sedikit pun. Setelah pintu tertutup, Naina membanting barang di meja dengan kesal. "Melinda! Semua ini karena dia! Kalau dia tidak kembali, Darco pasti akan mencintaiku!" Dengan napas memburu, Naina menggenggam ujung gaunnya. "Aku tidak akan membiarkan Melinda menang!" *** Darco melangkah keluar dari kamar dengan wajah dingin. Napasnya berat, dipenuhi kemarahan dan kebencian yang tak bisa ia ungkapkan. Saat melewati kamar Melinda, kakinya terhenti secara refleks. Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, dan dari celah sempit, ia bisa melihat ke dalam. Di dalam kamar, Melinda dan pria asing yang dibawanya, Xander, tengah saling melempar bantal. "Serius? Kau pikir bisa merebut tempat tidur ini dariku?" Xander terkekeh, melempar bantal tepat ke kepala Melinda. Melinda menggeram, wajahnya memerah karena kesal. "Kau pria tidak tahu malu! Itu tempat tidurku!" Tawa itu. Suara tawa Xander yang riang dan bebas menyengat telinga Darco. Tangannya mengepal. Dadanya terasa sesak melihat Melinda, mantan tunangannya, bisa tertawa selebar itu bersama pria lain. Padahal, baru beberapa hari lalu, ia melihatnya menangis karena dikhianati. Sekuat apa pun ia menolak mengakui, melihat Melinda bahagia dengan pria lain menusuk egonya dalam-dalam. Dengan rahang mengeras, Darco melangkah pergi, menuruni tangga dengan langkah berat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN