Hancur Lebur “Nah, jadi coba sekali lagi Mbak pikirkan, yang Mbak rasakan untuk Giandra, sekedar rasa nyaman, atau lebih? Kalau Mbak tanpa Pak Arjun, apa Mbak bisa cukup nyaman dengan segala resiko karena milih Giandra? Yang tahu jawabannya cuma Mbak.” Karena Rizky mungkin benar, Galvin akan kurang nyaman jika harus meninggalkan Arjun. Ya ampun! Ia harus bagaimana? Memilih tinggal atau pergi saja? Di saat segala perasaan dan akal sehatnya sedang berkecamuk, uluran sendok berisi kentang berbalut bumbu kacang dari Arjun membuatnya mengerjap. “Aku udah makan, Arjun.” ucap Galvin seraya menggeleng. “Emang siapa yang mau nyuapin kamu?” Arjun tersenyum mengejek, lalu melahap suapan itu. “Terus, kenapa tadi kamu ulurin kentang di depanku?” “Pengen aja.” sahut Arjun, mengedipkan sebelah

