Cupcake and Rizky Galvin menghela napas, menatap punggung Giandra yang menjauh. Pemuda yang mengenakan suit and tie hitam itu mengatakan ingin menemui sang mama di belakang. Menghela napas, Galvin menatap ke sekeliling. Ia lalu mengeluarkan kameranya dari dalam tas. Seperti biasanya, membidik setiap momen yang menurutnya indah. Pada deretan kursi bersarung kain warna biru di sisi kanan halaman, pada untaian bunga, dan segala dekorasi pesta ini. Hingga lensanya tak sengaja membidik lelaki yang sedang duduk di salah satu kursi paling ujung, di samping tempat souvenir. Galvin menurunkan Nikon D850-nya, lalu menghampiri lelaki dengan raut murung itu. “Hai, Rizky.” sapanya. Si cowok murung mendongak, “Oh, hai, Mbak.” “Boleh duduk?” Galvin menunjuk kursi kosong di sebelah Rizky. Pemuda boss

