Setiap Hari Setiap Detik Galvin mengekor di belakang Giandra, membiarkan pemuda itu membimbing langkahnya memasuki rumah. Giandra menggenggam erat tangan kanan Galvin sembari mulai memasukkan kunci rumah dan membuka pintu. Sambil masih menggenggam tangan wanita itu, Giandra menutup pintu setelah Galvin masuk. Pandangan Galvin tidak beralih dari tangan hangat Giandra yang terus menggenggam erat tangan kanannya. Senyumnya merekah begitu saja hanya karena genggaman itu dirasanya sangat nyaman. Hangat tangan Giandra terasa hingga keseluruhan organ tubuhnya, terutama hatinya. “Kenapa lo terus nunduk dan senyum gitu?” Pertanyaan Giandra langsung membuat Galvin mendongak dan meleburkan lengkungan senyum di wajahnya. “Lantai rumah gue cuma sekumpulan benda mati, bukan sekumpulan badut yang la

