galau

1133 Kata
Happy Reading Guys..!!! **** Gemercik hujan yang turun membuat udara menjadi dingin. Echa berada di kamar nya memandang ke arah jendela, setelah 2 hari berakhir hubungannya bersama Gilang ia hanya diam dan termenung. Ia hanya berdiam diri di atas tempat tidur sembari membayangkan kenangan bersama Gilang. Ia tak menyangka bahwa hubungannya sudah berakhir. Tidak ada laki-laki sok misterius, dan perhatian kepada nya. Di saat kegiatan sekolah sedang libur menjelang ujian, Echa tidak mempersiapkan apa-apa. Saat itu pikirannya dipenuhi dengan wajah Gilang. Kegalauan yang ia rasakan mengganggu pikiran dan semangat yang bergejolak selama ini, bahkan kedua sahabat berusaha untuk menghibur Echa, namun tidak berhasil. Ya begitu lah kondisi seseorang saat mereka putus dari pasangan. Suatu hari ketika ia pergi menuju studio lukisan pemberian dari Gilang. Hanya air mata dan bayangan Gilang yang selalu terngiang di benak nya. Tampak aneh, kenapa laki-laki tersebut tidak lari dari pikirannya. Padahal ia pernah menjalin hubungan bersama laki-laki lain sebelum ia bersama Gilang, kali ini perasaan kehilangan begitu dalam yang ada di hati nya. Ia selalu berpikir kenapa ia begitu berat dan sedih, padahal ia tahu bahwa ia disakiti oleh Gilang. Memutuskan hubungan tanpa alasan itu hal yang paling menyakitkan buat Echa. Semua kenangan saat ia berada di studio lukis, pantai mereka yang sering kunjungi menjadi tempat sangat buruk buat nya. Setelah beberapa hari kesedihan itu mulai ia sembunyikan, lupa atau berusaha untuk move on dari kisah nya bersama Gilang. *** Studio lukis tidak berubah, masih ada lukisan dan foto Gilang di dalam nya. Bagi nya Gilang adalah mantan yang paling indah di hatinya. Lalu ia menuju pantai, tempat ia sering kunjungi berdua bersama Gilang. Hanya airmata yang menetes, ia terbujur kaku berdiri sambil mengenang semua kenangan indah sekaligus menyakitkan buat nya. Ombak yang deras membasahi tubuh nya. Setetes demi tetesan air mata yang jatuh ke pipi nya. Setelah beberapa hari ia terus berlarut-larut meratapi kepergian Gilang. Ia ingin berlari sejauh mungkin agar ia bisa melupakan kenangannya bersama Gilang. Gilang, kenangan kamu yang begitu indah yang buat aku sulit buat lupain kamu. Tempat ini, dimana kamu janji akan selalu bersamaku. Tapi di tempat ini juga kamu ingkari janji kamu. Aku hanya bisa berdoa,semoga kamu bisa menemukan orang yang tepat sebagai pengganti aku. Makasih semua kenangan yang kamu kasih ke aku. Semoga kamu bahagia.. Surat itu dituliskan di atas kertas, dan tetesan air mata yang menetes di kertas tersebut menjadi saksi bahwa ia begitu sedih kehilangan Gilang. Kemudian surat itu dimasukkan kedalam botol dan ia lempar tengah laut. *** Gilang berdiri di tepi pantai sembari memandang ke arah tengah laut. Ia hanya meratapi keputusannya mengakhiri hubungan bersama Echa. Apakah keputusan gue udah bener mengakhiri semuanya. Gue cuma gak mau, merusak kebahagiaan orang lain. Echa.!! Gue sayang sama lo, tapi kenyataan gak bisa gue tutupin. Gue berusaha buat gak percaya sama semua ini. Mungkin ini jalan terbaik untuk kita. Ungkap Gilang dalam hati. Sebuah botol yang terombang-ambing di tepi laut, membuat lamunannya hancur. Mendekati botol tersebut dan kembali bibir pantai. Gilang membuka kan tutup botol lalu membaca surat dari dalam botol itu. Ia menangis dan duduk di atas pasir putih. Mata yang memerah dan sepertinya ia melakukan kesalahan besar dengan memutuskan hubungan bersama Echa. Gilang mencari keberadaan Echa di sekitarnya, tapi ia hanya melihat Echa yang sudah masuk ke mobil sembari menghapuskan air mata yang jatuh di pipi. Gilang berusaha mengejar Echa hingga ke pinggir jalan namu. Ia tidak berhasil karena mobil melaju terlalu cepat. Berjalan menyusuri trotoar menuju motornya. Ia melajukan motor yang sangat ngebut. Pikiran yang kacau dan membayangi kejadian yang menyakitkan membuat ia hampir menabrak seorang ibu-ibu. ***** Luna dan Tara menuju rumah Echa. Sesampai dirumah Echa tidak berada dirumah lalu mereka menunggu di kamar. "Gue kasihan sama Echa, gue tau banget perasaan dia sekarang. Pasti hancur banget dan sedih. Jujur sejak dia putus dari Gilang, Echa cuma murung aja, semangat nya hilang. Gue kasihan sama Echa." Ungkap Luna begitu sedih. "Kita harus ngelakuin sesuatu kayaknya, kita gak boleh ngebiarin Echa terpuruk kayak gini. Dia harus bangkit." jelas Tara penuh semangat. "Loh bener. Gua juga gak mau kalo Echa terus-terusan kayak gini." Luna dan Tara berpelukan. Jelang beberapa lama Echa datang. Ia terkejut melihat kedatangan kedua sahabatnya sudah berada di kamar nya. "Kalian ada di sini?" tangan Echa menghapus airmata di pipi sembari duduk di antara kedua sahabatnya. "Cha.! Kita tau loh pasti masih sedih kehilangan Gilang, tapi gak boleh terus-terusan kayak gini. Belum tentu kan Gilang juga sesedih ini ngelepasin loh. Dia yang mutusin loh jadi gak mungkin dia nangisin loh." Luna merangkul Echa. "Iya Cha, loh harus bangkit. Gue tau ini berat buat loh. Tapi mau gimana lagi, loh harus terima kalo hubungan loh sama Gilang sudah berakhir." Tara ikut merangkul Echa. ***** Malam yang begitu cerah, kedua sahabatnya itu mengajak Echa ke pasar malam. Mereka menikmati semua wahana yang ada disana termasuk rumah hantu. Saat di dalam rumah hantu, Echa pun kehilangan kedua sahabatnya. Ia sangat ketakutan saat di dalam tersebut, ia berusaha memanggil nama keduanya namun tidak ada yang nyaut, hanya suara-suara hantu yang terdengar di telinga nya. Ada seseorang yang mengejarnya Echa pun berlari, ia sangat ketakutan. Pada akhir nya ia menabrak seorang laki-laki ya itu Exsel. Ya saat itu Exsel juga berada disana, Exsel memutuskan untuk menolong Echa yang terjebak di wahana rumah tersebut. Beberapa langkah keluar, akhirnya mereka tiba di luar ruangan tersebut. Echa yang masih sangat ketakutan terus memeluk Exsel begitu erat tanpa membukakan mata. "Buka mata lo, sekarang kita sudah aman kok." Echa membukakan matanya perlahan. Ia melihat di sekeliling ada keramaian tanpa satu pun ia melihat orang-orang seram. "Makasih ya loh udah bawa keluar. Jujur kalo gak ada loh mungkin gue udah pingsan kali ya." Echa melepaskan pelukannya dari Exsel. "Iya gak papa. Lagian loh ngapain sendirian di dalam? Kalo lo takut ngapain masuk." terkekeh. "Tadi gue sama Luna dan Tara kedalem." "Sekarang teman-teman loh mana?" Exsel melirik kanan kiri. "Gak tau gue." Beberapa lama kemudian Luna dan Tara menghampiri Echa dan Exsel yang lagi berdiri di dekat pintu keluar wahana tersebut. "Cha lo kemana sih, kita nyariin lo dari tadi." Seru Luna khawatir. "Kalian tuh yang kemana, gue tadi di dalam kesendirian. Untung ada Exsel jadi gue di ajak keluar sama dia." telunjuk nya ke Exsel. "Sorry, kita pikir lo udah duluan makanya kita gak liat kebelakang." Seru Tara. "Eh kalian sudah naik wahana apa aja disini? Tanya Exsel. "Belum sih, baru wahana rumah hantu aja. Emang kenapa?" tanya Tara. "Gak papa sih, gimana kita naik kincir angin aja? Kan seru tuh." menunjuk ke atas kincir angin. "Boleh, siapa takut." seru Tara semangat. "Gue juga setuju." Seru Luna cepat. "Iya udah deh gue ngikut kalian aja. ******* Mereka membeli karcis untuk kincir angin, namun Echa sedih ia tidak menikmati bersama kedua sahabatnya melainkan bersama Exsel. Dengan sangat terpaksa ia menuruti perkataan Tara. Ia naik bersama Exsel dan Luna bersama Tara. Mereka menikmati kebersamaan di pasar malam. Sejak saat itu keakraban Echa dan Exsel mulai terlihat. Semua wahana dan permainan mereka menikmati itu berdua. Echa heran, mengapa malam itu ia banyak menghabiskan waktu bersama Exsel. Tapi ia berpikir tak masalahan yang penting ia bisa menghilangkan pikirannya tentang kerumitan asmara nya bersama Gilang. **** Jangan lupa kritik dan saran. Follow,vote dan komen nya guys..!! Happy Reading.. Maaf jika salah menulis nama/gelar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN