Happy Reading Guys..!!
*****
Echa masuk ke perkantoran yang tidak terlalu besar, kemudian ia menuju resepsionis menanyakan soal Gilang, kemudian ia menunggu dan berjalan menuju sofa yang tak jauh dari nya.
beberapa menit kemudian Gilang keluar bersama Aldo yang lagi menjelaskan sebuah projek kepada Aldo. Langkah mereka terhenti saat Gilang sadar bahwa ada Echa yang lagi menunggu nya. Gilang pun menyuruh Aldo untuk menunggu nya di ruangan kostum.
Aldo pergi meninggalkan Gilang menuju ruang kostum.
Echa menatap kedua mata Gilang lalu berdiri dan mendekati Gilang.
Gilang memalingkan pandangannya dari Echa.
"Segitu benci nya kamu sama aku. Sampai-sampai kamu mengalihkan pandangan kamu ke tempat lain." Ungkap hati Echa.
Gilang berjalan ke arah Echa lalu dia menarik lengan Echa dengan paksa sampai ke sudut ruang, karena ia tak mau ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Aww sakit tau, kasar banget sih jadi cowok." Echa mengusap lengannya. Ia menahan sakit karena tangannya ditarik paksa oleh Gilang. kemudian Echa menatap Gilang marah.
Gilang menatap lengan Echa yang sedikit memerah. Ia begitu khawatir dengan lengan Echa.
"kamu ngapain kesini?bukannya kita gak ada urusan lagi ya." jawab Gilang malas.
"aku mau ngomong sama kamu."
"mau ngomong apa lagi sih, semua udah jelas kan. apalagi?" tanya Gilang santai.
"jawab aku, kemarin kamu kan yang nolongin aku waktu aku pingsan di sekolah?" tanya Echa.
"iya, tapi itu hanya kebetulan lewat maknya aku bawakan ke UKS." jawab Gilang .
Gilang tidak menatap Echa. ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, membuat Echa kesal. Echa merasa bahwa ia sepertinya sudah tidak arti lagi di hidup laki-laki ini. kenangan yang begitu indah saat mereka masih bersama hilang sekejap di kehidupan Gilang.
Ia saat itu rasa nya ingin mencabik-cabik wajah laki-laki di depannya namun ia tidak mungkin melakukan itu. ia tak mau dibilang cewek yang terlalu berharap sama laki-laki menurutnya tak punya hati. kemudian Echa pergi meninggalkan Gilang dengan pembicaraan yang belum selesai, sepertinya ia harus menyudahi pemikiran terhadap Gilang.
Echa terburu-buru menuju parkiran dan masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan wajah yang kesal bahwa mencari sebuah jawaban kepada Gilang sangat lah sulit.
****
Echa memukul-mukul setirnya sampai tangan berdarah banyak, ia begitu kesal dengan perlakuan dingin Gilang kepadanya.
Gilang pun mengikuti mobil Echa menggunakan motornya dari belakang jaraknya 30 meter dari mobil Echa, agar ia tidak ketahuan bahwa ia sedang menguntit Echa.
Echa pun turun dari mobil dengan wajahnya yang basah karena air mata.
Echa begitu bingung tak tahu kemana dia akan pergi dan mengadukan permasalahan yang tengah di alami nya selain kepada kedua sahabatnya. Karena lelah baik pikiran maupun fisik,membuat daya tahan tubuh Echa menurun, sehingga ia harus terjatuh terkulai pingsan di samping mobil nya.
Gilang melihat Echa pingsan, segera menghentikan motornya. Kemudian dia segera turun dari motor dan menghampiri Echa yang pingsan.
"Tolong..!" serunya memanggil warga yang kebetulan lewat.
"Ada apa bang?"
"Tolong teman saya pingsan, saya titip motor saya pak, nanti ada teman saya yang akan mengambil kesini." Gilang menggendong tubuh Echa menuju mobil dan memasukkan ke dalam mobil milik Echa.
Gilang kemudian masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya, yang melaju membawa Echa yang masih pingsan meninggalkan tempat itu.
"Kamu yang kuat ya, aku bakal bawain kamu ke rumah sakit." rasa khawatir dan panik dari wajah Gilang, ia terus membawa Echa yang masih dalam keadaan pingsan menuju rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit, Gilang bergegas menghentikan mobil nya. Kemudian itu buru-buru keluar dari mobilnya sambil berseru memanggil dokter.
"Dok..Dokter.. Tolongin teman saya dokter dia pingsan" Gilang sembari menggendong Echa.
"Ada apa mas?" tanya perawat.
"Tolong teman saya sus, dia tadi pingsan. "
Suster itu bergegas mengambil ranjang pasien untuk membawa Echa ke IGD
" Mas tunggu sini, biar kami yang akan periksa teman mas di dalam." ucap Dokter.
"Pokoknya lakukan yang terbaik buat temen saya dok." ucap Gilang panik.
Dokter memasukan Echa ke ruang IGD kemudian ia menutup pintu nya. Gilang hanya bisa melihat dari jendela kaca.
"Maafin aku Cha, ini semua gara-gara aku. Coba aja aku gak bersikap kayak gitu tadi, mungkin kejadiannya gak kayak gini." Gilang begitu kesal dan marah pada diri nya sendiri atas sikap nya kepada Echa.
Dengan penuh perhatian Gilang menunggui Echa yang pingsan di depan pintu. Wajah murung, dengan sejuta penyesalan yang memenuhi pikirannya saat itu.
Kenapa gue ngelakuin ini? Kalo gue gak ngelakuin ini pasti Echa baik-baik saja.
Setengah jam kemudian, Echa akhirnya sadar dari pingsannya.
"Dimana gue? Apa yang terjadi sama gue". Echa menatap langit kamar nya dan melirik kiri kanan ia melihat dokter yang lagi berdiri di samping ranjang nya.
"Syukurlah..!! Mba sudah sadar."
"Dokter..! Ini saya ada dimana?" tanya Echa.
"Mba lagi ada di IGD. Tadi temen membawa mba kesini dalam keadaan pingsan."
"Oh gitu ya dok. Sekarang teman saya di dimana dok?" tanya Echa balik.
"Teman mbak ada di luar. Baiklah kalo gitu saya permisi dulu." mengalungkan stetoskopnya lalu berjalan menuju luar.
Gilang yang lagi duduk di kursi rumah sakit di depan pintu pun bangkit saat dokter keluar.
"Gimana keadaan teman saya dok?" tanya Gilang.
"Teman mas gak papa. Hanya saja dia terlalu capek dan banyak pikiran hingga membuat tubuh nya lemas. Tapi sudah saya kasih obat, supaya pasien bisa lebih rilex istirahat nya." jelas dokter.
Gilang menghelaikan nafas pelan dan sedikit lega.
"Makasih ya dok".
Dokter pergi meninggalkan Gilang.
Gilang masuk ke dalam ruang IGD menghampiri Echa.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Gilang malas.
"Gilang.!! Kamu ngapain disini?" tanya Echa heran.
"Tadi aku gak sengaja lewat. Warga nemuin kamu tergeletak di jalan, makanya aku bawain kamu kesini."
"Lagi-lagi kamu nolongin. Kamu selalu datang di waktu yang tepat. Aku gak tau tujuan kamu nolongin aku, yang jelas makasih karena kamu udah mau bawa aku kesini."
"Gak usah GR. Aku kan udah bilang, kebetulan lewat aja makanya aku tolongin."
Echa meraih tangan Gilang.
"Apa gak ada lagi perasaan itu di hati kamu?" ungkap Echa sembari menatap mata Gilang.
Gilang hanya diam dan menundukan kepalanya.
"Ya udah kamu istirahat. Aku udah telpon mama kamu suruh kesini. Aku mau pergi dulu." Gilang membalikan badannya.
Perasaan itu masih sama Cha, Masih kayak dulu gak kan pernah berubah sampai kapan pun.
Bahkan sampai raga ini mati, cinta aku ke kamu akan tetap ada, selamanya. Ungkap Gilang dalam hatinya.
Tanpa sadar air matanya menetes di pipi, kemudian Gilang melangkah kaki nya keluar.
Ia menutup pintu, sehingga Echa tidak bisa menatap nya lagi.
Beberapa menit setelah Gilang pergi. Mama,papa dan kedua sahabat Echa datang menjenguk Echa.
"Ya Ampun..!! Kok kamu bisa jadi kayak gini sih? Tadi mama dapat kabar dari Gilang kalo kamu pingsan, makanya mama langsung kesini sama papa." mengusap usap kening Echa.
"Echa gak papa kok ma, tadi kecapean aja."
"Sayang..!! Papa sama mama khawatir banget sama kamu, syukur lah kamu gak papa sayang.
"Iya Cha tadi kita dapat dari nyokap lo, kalo lo masuk ke IGD." ucap Luna.
"Kok lo bisa pingsan sih?" Tanya tara.
"Ceritanya panjang, Ya udah lah nanti aja ceritanya loh istirahat dulu." jawab tara menarik selimut sahabat nya itu.
"Ya sudah papa sama mama mau ngurusin administrasi nya dulu ya, kamu ngobrol-ngobrol dulu sama Luna dan Tara.
Papa dan mama nya mencium kening Echa. Kemudian mereka keluar.
******