X. Cerita Malam Hari

2115 Kata
“Mencari alasan apa pun tetap saja sulit untuk mengatakan kalau kau tidak memiliki kedekatan dengan sang raja” ucap Beatrice. “Sekarang bisakah kalian jelaskan apa yang akan terulang kembali?” pinta Weraki. Vulken menghela napasnya seraya melirik ke arah paman Drue. Lalu Drue mengangguk pelan, Vulken membuang napasnya dan mulai berbicara. “Iblis dalam peristiwa itu tidak sepenuhnya lenyap. Ada satu yang tersegel di ruang bawah tanah istana kerajaan Frist dan kini segelnya mulai melemah selagi waktu terus berjalan,” ungkap Vulken. Setelah mendengar hal itu Weraki menajamkan pandangannya kepada Vulken. “Aku tebak sang raja tidak memedulikannya karena terlalu sibuk dengan hal lain,” ujarnya. “T- tunggu … kau tahu soal itu juga? Apakah baru saja kau menggunakan sihirmu lagi?” tanya Vulken yang kebingungan dengan kebenaran yang diketahui oleh seorang Weraki padahal ia bukan siapa-siapa bahkan ia tidak tinggal di kerajaan Frist. Weraki mulai menyeringai. “Aku tidak menggunakan sihirku. Namun, aku cukup mengenal sang raja ketika ia beberapa kali berkunjung ke desa. Ia sangat sibuk dengan urusan pribadinya dan itu sangat terlihat bahwa ia seolah tidak memedulikan hal lain di sekitarnya.” Weraki menambahkan tentang sejauh mana ia mengetahui tentang raja Frist saat ini. Vulken menghempaskan napasnya diikuti dengan bahu yang melemas. “Sulit untuk mengakuinya. Namun, apa yang kau katakan memang adanya seperti itu dan aku turut melihat serta merasakannya sendiri,” kata Vulken. Weraki yang kebingungan pun akhirnya bertanya, “Jadi, kalian melakukan perjalanan ini untuk menghentikannya? Lalu mengapa kalian hanya berempat tanpa ditemani satu pun prajurit. Juga rasanya aku tidak melihat kalian membawa perlengkapan yang cukup jika benar-benar ingin pergi ke timur Meideleenia.” “Ya … kalau boleh dibilang sebenarnya aku ini bersama dua orang lainnya adalah prajurit kerajaan jika kau ingin tahu,” kata Beatrice sambil memalingkan wajahnya. “Astaga, bagaimana aku bisa tahu jika kalian prajurit kerajaan apabila tidak mengenakan baju zirah,” ujar Weraki yang setelah itu berdiri dan menghampiri barang-barangnya di sudut gua. “Bisakah salah satu dari kalian membantuku mengangkat barang-barang ini ke dekat api unggun?" pinta Weraki yang mulai meraih satu persatu barangnya dalam genggaman. Vulken langsung beranjak dari samping api unggun. “Biar aku saja!” Saat Vulken sudah akan mengangkat barang-barang milik Weaki, ia dibisikkan sesuatu oleh Weraki. “Kau adalah anak tunggal sang raja, kan?” bisik Weraki yang hanya dibalas dengan anggukan saja oleh Vulken tanpa sepatah kata pun. Hingga akhirnya semua barang dipindahkan, Weraki membuka salah sat utas yang paling besar dan ternyata di dalamnya ada banyak persediaan makanan juga minuman. Langsung saja Weraki membagikannya setelah dikeluarkan dari dalam tas. “Makanlah ini, ada botol berisi air mineralnya juga … sambil menunggu hujan reda atau mungkin menunggu api unggun ini padam.” “Emm, untuk apa kau membawa persediaan sebanyak ini jika hanya sendirian?” tanya Drue sambil memberikan makan yang dibagikan Weraki kepada Zed. Weraki tersenyum tipis. “Aku juga baru selesai melakukan perjalanan. Namun, aku pergi ke utara mengantarkan beberapa orang desa yang berpindah ke sana karena ada saudara mereka di sana yang meminta mereka untuk pindah. Aku ikut mengantar hanya untuk mendoakan mereka saja. Kukira akan membutuhkan persediaan makanan serta minuman yang banyak. Ternyata mereka membawa persediaan mereka sendiri. Jadi ya … aku bawa pulang kembali persediaannya,” jelas Weraki lalu ia membuka makanannya. Aroma rempah-rempah yang sedap langsung muncul walaupun makanannya tidak hangat. “Astaga, aromanya membuatku ingin langsung menyantapnya,” kata Zed. “Langsung santap saja, tidak usah sungkan. Aku membuatnya bersama salah seorang yang biasa memasak di desa. Memang dibuat khusus untuk tahan beberapa hari dengan rempah-rempah yang melimpah,” ujar Weraki. Mereka pun menyantapnya bersama-sama di saat angin yang berembus bersama derasnya hujan membuat api unggun yang dikelilingi menjadi kabur sedikit mengecil cahayanya. Hingga akhirnya semua menghabiskan makanannya masing-masing yang diberikan oleh Weraki. “Oh ya, ada apa dengan lenganmu sampai-sampai harus ditutupi kain seperti itu?” tanya Weraki setelah memandangi lengan terluka Vulken untuk beberapa saat. “Bukan apa-apa, hanya luka kecil selama perjalanan ke sini. Tak perlu menghiraukannya, seharusnya besok lukanya sudah kering dan kainnya sudah bisa dilepas,” jawab Vulken santai. “Kalian sepertinya harus beristirahat setidaknya satu hari di desaku sebelum melanjutkan perjalanan kalian ke timur Meideleenia. Aku harus ingatkan kalian jikalau tidak ada yang berhasil kembali setelah mendaki bukit Andhiel.” Weraki berkata. “Bukannya aku tidak ingin menghargai. Namun, memangnya ada apa sampai-sampai tidak ada yang kembali setelah pendakian ke sana?” Zed bertanya. “Sesuai dengan yang kuceritakan tadi, Andhiel dan Anthiel sepertinya masih dalam pertengkaran tak berujung dan tidak ingin diusik oleh siapa pun. Aku dan penduduk desa yang lainnya hanya bisa memberikan doa-doa saja kepada keduanya. Tidak ada satu pun dari kami yang ingin mengusik keberadaan jiwa mereka yang terikat pada dua bukit tersebut,” kata Weraki. “Apakah mungkin jika kami memperbaiki hubungan mereka supaya tidak ada lagi korban hanya karena mengusik keberadaan mereka?” celetuk Vulken. Mendengar celetukan itu membuat Drue langsung menoleh ke arah Vulken. “Hei, Vulken. Keduanya merupakan perwujudan dari dewa-dewi, apakah kau yakin dapat melakukan hal itu kepada keduanya? Katakanlah kita berhasil sampai ke puncaknya dan bertemu dengan Andhiel, apakah kau yakin akan berhasil dan jangan lupakan masih ada Anthiel di bukit selanjutnya.” Drue seketika langsung membuat semuanya terdiam tak berkutik termasuk Weraki. Setelah keheningan sesaat itu, Vulken pun akhirnya berbicara menanggapi pertanyaan dari pamannya. “Tidak akan ada yang tahu hasilnya jika kita belum mencobanya.” “Maksudmu kau ingin mencoba hal dengan risiko tinggi terhadap kita berempat?” tanya Beatrice yang tampak tidak setuju dengan rencana Vulken itu. “Namun, perkataannya tidaklah salah. Memang ada ramalan tentang pelepasan roh Andhiel dan Anthiel yang terikat di atas bukit. Ramalannya dibuat oleh ayahku sendiri sebelum kematiannya empat tahun lalu. Entah siapa dan kapan itu akan terjadi,” ucap Weraki. “Tapi bukankah kemungkinan untuk gagalnya akan menjadi lebih besar?” tanya Zed. “Jika kalian ragu-ragu biarkan aku yang lebih dulu melakukannya jadi kalian tidak perlu takut terkena efek buruknya,” ucap Vulken. “Tidak, bukan begitu. Jika kau sudah yakin untuk melakukannya, maka kami semua akan ikut.” Beatrice berkata sambil meletakkan tangannya di bahu Vulken. “Sebenarnya menurutku tidak masalah jika kita bersama-sama. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan sebagai keluarga?” ucap Zed sambil memiringkan kepalanya. Weraki beranjak dari duduknya lalu pergi ke bibir gua. Langsung saja ia menghela napasnya dalam. “Sudah-sudah, hentikan perdebatan kalian. Lebih baik kalian beristirahat saja dan menyimpan tenaga untuk esok hari. Jika dilihat sepertinya cuaca hujan seperti ini akan bertahan lama dan tidak mungkin akan usai dalam waktu yang singkat,” kata Weraki sambil ia terus memandangi langit gelap yang udaranya dikerumuni oleh tetesan air. “Menyimpan tenaga …,” gumam Drue. “Bukankah desa tempatmu tinggal hanya berada di bawah kaki bukit saja? Kurasa jaraknya tidak sejauh itu,” lanjutnya bertanya pada Weraki. Mendengar pertanyaan itu, Weraki pun berbalik arah menatap Drue dan yang lain karena ikut penasaran juga. Ia melipat kedua tangannya di depan lantas berkata, “Jika aku boleh jujur kepada kalian, sebenarnya yang ada di kaki bukit hanyalah tempat transit suplai dari luar sebelum benar-benar sampai di desa kami,” ungkap Weraki. “Jadi … apakah kau ingin mengatakan bahwa lokasi desa sebenarnya masih jauh dari sini?” tanya Beatrice. Weraki mengangguk pelan. “Jika kalian bertanya se-tertutup apa desa kami, maka jawabannya adalah sangat tertutup dari orang luar. Kami menyebut tempat di kaki bukit ini sebagai tembok pertama yang tidak sembarang orang juga bisa masuk ke sana. Lalu kita akan melewati sebuah jembatan batu tua dan setelahnya, barulah sampai di desa tempatku tinggal. Dapat kukatakan bahwa perjalanannya cukup jauh," jelas Weraki yang mengungkapkan desanya. “Emm, bolehkah aku bertanya mengapa desamu sangat tertutup seperti apa yang kau katakan tadi?” Zed yang dipenuhi rasa penasaran bertanya. Weraki tertawa kecil sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Zed. “Yang pertama ialah karena kami memiliki kepercayaan tersendiri kepada Andhiel dan Anthiel. Banyak yang ingin mencari tahu juga menginginkan kekuatan Andhiel dan Anthiel yang terikat pada dua bukit. Kami hanya ingin melindungi orang-orang di desa kami juga apa yang kami percaya,” ujar Weraki menjawab pertanyaan Zed. “Tunggu, bukankah aneh mendengar ada orang yang menginginkan kekuatan Andhiel dan Anthiel padahal mereka hanya terikat dalam bentuk roh saja, kan? Bukan tubuhnya.” Vulken melontarkan pertanyaan kepada Weraki. Weraki menundukkan kepalanya. “Begitulah adanya, kami yang tinggal di bagian bawah bukitnya saja tidak pernah tahu seperti apa wujud mereka. Namun, nyanyian dan alunan alat musik kerap terdengar di tengah malam dari atas bukit,” beber Weraki. “Jika aku tidak salah ingat, bukit Anthiel itu berada di balik bukit Andhiel, kan?” Vulken lagi-lagi mengajukan pertanyaan pada Weraki. “Ya, kau benar. Andhiel memainkan alunan musik, dan nyanyian dari Anthiel terkadang hanya samar terdengar. Mungkin karena jaraknya yang cukup jauh,” jawab singkat Weraki. Setelah hanya terdiam mendengarkan percakapan yang lainnya, Drue bertanya kepada Weraki. “Oh ya, ira-kira jika kita berangkat di pagi hari akan memakan waktu berapa lama untuk sampai ke sana?” “Mungkin akan memakan waktu sekitar dua atau tiga jam dari sini, jujur saja jaraknya cukup jauh. Maka dari itu tadi kusarankan untuk beristirahat di desaku saja lebih dulu setidaknya sampai esok hari,” ujar Weraki. “Rasanya itu bukan ide yang buruk. Kita perlu istirahat sejenak sebelum melanjutkan ini. Ingatlah bahwa perjalanan ini baru dimulai. Masih ada banyak rintangan lainnya yang menunggu untuk kita datang atau mungkin hal lain yang tidak pernah kita duga sebelumnya,” ucap Vulken. Malam itu pun dilalui begitu saja. Dengan Weraki yang bercerita sedikit lebih banyak tentang desanya yang dahulu kerap diserang oleh orang-orang yang rakus akan kekuatan. Setelah itu Weraki sedikit lagi menceritakan tentang bagaimana kehidupan warga desanya yang mulai kesulitan untuk mendapatkan sumber daya alam yang mulai menipis sehingga akhir-akhir ini desanya kerap meminta bantuan dari kerajaan Frist untuk memenuhi kebutuhan warganya. Weraki juga sempat mengatakan firasat tidak enaknya terhadap kondisi sumber daya alam yang semakin hari kian menipis. Namun, ia juga mengatakan tidak tahu pasti apa yang menjadi penyebab utama akan terjadinya hal tersebut. Vulken dan Zed sudah tidur lebih dulu, wajah mereka tampak begitu lelah. Beatrice yang pada awalnya akan bergantian untuk jaga malam dengan Zed pada akhirnya ikut tertidur pula tidak lama setelah Vulken dan Zed pulas. Sementara itu, Drue dan Weraki saling membicarakan kehidupan mereka masing-masing. Drue yang menjadi pimpinan prajurit yang khusus dibentuk untuk pertempuran sedangkan Weraki menjadi pendeta yang bisa menggunakan sedikit sihirnya untuk mendapatkan sebuah ilmu. “Oh ya, aku masih penasaran dengan bagaimana cara kerja sihirmu itu. Sangat menarik karena ini adalah pertama kalinya aku melihat sihir unik seperti itu. Bisakah kau memberi tahuku bagaimana cara kerjanya?” tanya Drue di tengah obrolan keduanya. “Mudahnya sihirku ini dapat memberikan suatu penglihatan akan suatu hal. Aku lebih senang jika menyebutnya mendapatkan ilmu baru hanya dengan menggunakan sihirku saja. Namun, ada beberapa tingkatan penggunaannya juga yang dapat mempengaruhi apa yang aku dapatkan nantinya,” jawab Weraki menjelaskan cara kerja sihirnya. “Karena termasuk sihir yang unik, apakah sihirmu masuk kepada kategori sihir tingkat nol?” Drue kembali bertanya. Weraki mengangguk. “Mungkin aku bisa mendapatkan banyak pengetahuan maupun informasi, tapi aku sangat lemah dalam hal fisik jika dibandingkan dengan yang lainnya. Aku pun hanya bisa mengantar orang-orang di desaku dengan menumpang gerobak dan kembali ke desa dengan berjalan kaki,” kata Weraki. Obrolan mereka terus berlanjut ditemani rintik hujan yang terus membasahi daratan di luar gua. Hingga Weraki mulai menguap satu kali, dua kali, sampai terus-menerus menguap. Tampaknya ia pun amat lelah. “Pergilah tidur, matamu sudah memerah. Tidurlah di sisi api unggun supaya suhu tubuhmu selalu terjaga hangat.” Drue menyuruh Weraki untuk segera tidur. “Baiklah kalau begitu, lagi pula pakaianku sudah setengah kering karena berada di samping api unggun ini. Terima kasih karena sudah mengobrol denganku, aku sangat senang akhirnya ada yang bisa kuajak mengobrol panjang seperti tadi,” ucap terima kasih Weraki. Drue pun menyeringai. “Itu bukan apa-apa, aku pun jarang berbicara panjang bercerita seperti tadi kepada orang lain. Jadi, mungkin aku harus berterima kasih kembali padamu.” Weraki hanya membalasnya dengan senyuman lalu segera tidur. “Kau adalah orang baik. Aku dapat melihat kau menjadi cahaya bagi kegelapan dengan sekilas.” Weraki berbicara di dalam hatinya seraya ia memejamkan mata dan mencoba `tuk tidur. Tak lama kemudian, setelah Weraki tampak sudah tertidur. Drue pun ikut mencari tempat yang paling membuat ia nyaman dan berakhir tertidur pula. Mereka tertidur lelap di sana. Di atas tanah dengan rumput jarang beratapkan gua yang lembap. Api unggun yang terus membara memberikan kehangatan, dan tentunya hujan yang tak kunjung berhenti membasahi bumi dan seisinya yang berada di permukaan. Andai hujan tak pernah turun kala itu, mungkin bahagia yang akan dialami kala ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN