II. Pertanyaan dari Api Kecil

1343 Kata
Vulken berdiri sendirian di balkoni kamar bersandar ke dinding merenung. “Seharusnya aku tidak pernah dilahrikan di dunia ini. Walaupun aku harus lahir, aku tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga Frist. Apa aku harus mengakhiri penderitaan ini seorang diri?” ucap Vulken berbicara sendiri dengan tatapan kosong. Langit senja kemerahan, angin hangat berhembus masuk ke dalam kamar Vulken. “Astaga, aku ini bicara apa? Jika aku mati sekarang siapa yang akan mewarisi api abadi Vermillion? Ibu akan sangat kecewa denganku jika aku melakukan hal bodoh!” Akhirnya Vulken kembali masuk ke kamarnya, duduk di atas ranjang dengan kaki dilipat. Ia kembali melihat ke arah luar, sekumpulan burung merpati hinggap di atas dahan pepohonan rindang. “Umm, andai aku seperti para merpati itu. Terbang bebas sesuai tujuan, bersama-sama, layaknya merpati lain pada umumnya,” gumam Vulken. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar yang membuat Vulken terkejut. “S- siapa di sana?” tanya Vulken yang kakinya sedikit gemetar. “Ini Ibu, Nak. Bisakah kau membukakan pintunya?” tanya sang ibu dengan begitu lembut dari balik pintu. Vulken mengatur napasnya supaya menjadi lebih tenang. “Masuk saja Bu, pintunya tidak aku kunci,” ujar Vulken. Ibunya membuka pintu dengan sangat hat-hati, langkah demi langkah sang ibu mencoba mendekati Vulken. Ibunya duduk di atas ranjang tepat di sebelah Vulken. Lalu sang ibu mengusap kepala Vulken dengan lembut layaknya mengusap kepala anak kecil. “Kau ini sebenarnya kenapa anakku? Belakangan ini kau terlihat lebih murung daripada biasanya. Jika kau memiliki masalah atau sesuatu yang ingin dungkapan, bilang saja kepada Ibu. Ibu akan mendengarkannya dengan senang hati.” Vulken menunduk membisu tak menanggapi apapun. Ibunya perlahan memegang tangan Vulken. “Katakan saja, selama ini juga hanya dengan Ibu kan kau berbicara?” “Sebenarnya begini, Bu. Aku adalah anak tunggal dari keluarga Frist. Di umurku yang sekarang bahkan sihir apiku belum dapat mendekati sihir tingkat I. Dengan begitu apakah aku pantas mewarisi kekuatan api abadi Vermillion?” “Tentu saja kau pantas. Percayalah dengan Ibu, ini hanyalah masalah waktu.” “Juga apakah hanya Ibu dan paman Drue di kerajaan ini yang menerimaku? Tidak ada seorang pun yang menerimaku di kerajaan ini. Aku benar-benar merasa tidak pantas.” Vulken menambahkan keluhannya. “Bagaimana dengan Zed, bukankah dia sahabatmu?” “Ya, dia adalah sahabatku dan tanpa Ibu aku akan merasa tidak memiliki siapapun di dunia ini. Tapi yang lainnya mengucilkanku, Bu. Aku merasa mereka semua tidak pernah menganggap aku ada.” Vulken lalu melihat ke luar ruangan. “Aku ingin seperti para merpati itu Bu. Mereka terbang tanpa hambatan. Aku ingin terbebas dari semua ini, aku ingin diakui oleh semua anggota keluarga Frist. Sang ibu tersnyum lebar. “Jadi, kau menginginkan pengakuan dari yang lainnya?” Vulken mengangguk. “Aku ingin membuktikan bahwa diriku adalah pewaris tunggal keluarga Frist yang pantas. Tetapi semua orang terlanjur membenciku, bahkan ayah juga ….” Ibunya lalu memeluk Vulken dengan erat. “Bersabarlah, Ibu akan mencari cara supaya dapat membantumu. Kau harus kuat ya, ini juga demi Ibu dan keluarga kita.” -Ruins- Hari berlalu, pagi ini Vulken memberanika diri untuk keluar dari kamarnya. Di depan kamarnya, ia melihat seorang prajurit perempuan yang tidak asing, prajurit itu memang ditugaskan untuk menjaga daerah sekitar kamar Vulken. Ia tidak menghiraukan prajurit itu dan melanjutkan langkahnya. Vulken berjalan menuruni tangga menuju ruang tengah. Kedatangannya membuat orang-orang berpergian tetapi beberapa pelayan kerajaan menyambut Vulken. “Tuan muda, apa ada yang bisa ku bantu? Apa kau menginginkan sebuah makanan? Biar aku yang menyiapkannya,” ujar seorang pelayan. “Apakah ada buah apel?” tanya Vulken. “Tentu saja ada, biar aku ambilkan sebentar ya, Tuan.” Vulken menunggu sementara beberapa pelayan lainnya masih berdiri diam di tempat. “Selesaikan saja pekerjaan kalian yang lainnya,” kata Vulken. “B- baik ….” Setelah itu pelayan yang lainnya pergi meninggalka Vulken dan tak lama kemudian pelayan yang tadi menawarkan makanan kembali dengan membawa sepiring penuh apel. “Aku akan mengambil dua buah saja. Terima kasih ya!” ucap Vulken. “Tuan muda, selamat menikmati. Aku izin menyelesaikan tugasku yang lainnya.” Lalu Vulken pergi ke luar istana setelah sekian lama. Sempat muncul keraguan sebelum Vulken membuka pintu. Tetapi ia mencoba memberanikan untuk pergi keluar. Ia pergi ke taman di samping kamp pelatihan prajurit. Vulken duduk santai memperhatikan satu persatu bagaimana cara bertarung para prajurit sambil memakan apelnya sedikit demi sedikit. Tanpa disangka dari arah kamp Zed datang menghampiri Vulken. Zed langsung duduk di samping Vulken dan menyapanya. “Bagaimana kabarmu, apakah semua baik-baik saja?” Vulken tersenyum. “Semua baik-baik saja, aku hanya bosan terus menerus berdiam dalam kamar seorang diri,” jawab Vulken. “Benar juga, belakangan ini aku jarang melihatmu. Apakah benar terjadi masalah?” Menghindarinya Vulken mengambil apel dari kantungnya lalu mnyodorkan apel itu kepada Zed. “Apa kau ingin apel?” Vulken menawarkan. “Ahh, terima kasih. Sebentar lagi waktu istirahat pelatihan berakhir, aku harus kembali. Jika kau mendapatkan sesuatu yang mengganggu pikiranmu katakana saja padaku, oke?” “Ya, aku akan mengingatnya. Semangat berlatih!” Pertemuan kedua sahabat itu terjadi dalam waktu yang singkat. Vulken menghabiskan apelnya lalu berjalan kembali memasuki istana. Ia sadar betul jika orang-orang di sekitarnya terus menghindar dan bersembunyi. Vulken dipandang seperti orang asing, sulit sekali bagi keluarga kerajaaan untuk menerima kehadiran Vulken. Vulken kembali ke kamarya, ternyata di dalam sang ibu sudah menunggu. “Loh, mengapa Ibu ada di sini?” “Ibu ingin kembali mengunjungimu saja. Bagaimana kabarmu?” “Kabarku baik Bu, aku tidak merasakan sakit sedikti pun. Oh iya, boleh aku bertanya sesuatu keapda Ibu?” “Apa itu?” “Bagaimana caranya ayah memberikan segel kutukan iblis ini di mataku?” Mendengar hal itu sang ibu pun menghela napasnya. “Jangan membahas ayahmu. Jika kau menginginkan pengakuan itu untuk dirimu sendiri ibu tidak akan mengizinlannya. Semuanya menjauhimu bukan hanya karena tidak suka padamu. Mereka juga takut kekuatan iblis itu dapat melukai mereka.” “Lalu bagaimana aku mengatasi semua ini? Andai saja ayah tidak-“ “Sudah Ibu bilang jangan bicarakan ayahmu! Satu hal yang sepertinya sudah harus kau ketahui, Vulken. Pergilah ke timur benua Meideleenia dan ikuti cahaya Helios,” ujar ibunya. Vulken memicingkan matanya. “Untuk apa aku pergi ke timur Meideleenia Bu? Setahuku di sana hanya ada perbukitan lembah dan hutan saja. Atau jangan-jangan aku harus pergi ke kerajaan yang ada di timur itu?” tanya Vulken bingung. “Ibu tidak dapat memberi tahunya sekarang. Kau akan mengetahuinya sendiri saat pergi ke sana. Tempat itu tidak ada di peta, sebuah pulau tempat pusaka Vermillion di simpan,” jelas sang ibu . Vulken begitu terkejut ketika mendengar pusaka Vermillion disebut sang ibu. “Ini adalah rahasia dan tanggung jawab besar. Kau dapat memilih untuk pergi atau tetap tinggal. Ibu tidak menginginkan kau pergi meninggalkan Ibu, tetapi di satu sisi Ibu juga lelah melihatmu yang diasingkan setiap harinya. Resiko pergi ke daerah barat yaitu nyawamu sendiri Vulken. Jadi tolong pikirkan dengan sangat matang.” “Aku sudah memantapkan hati unutk pergi Bu. Demi pengakuan dan melindungi kerajaan Frist. Perkataanku bulat untuk pergi menuju timur Meideleenia apapun itu resikonya.” “Jika kau benar akan pergi ibu akan memberikan tugas palsu kepada para penjaga. Jadi, kau bisa keluar dari kerajaan dengan lebih aman tanpa ketahuan. Ibu juga akan membantu beberpaa orang lainnya.” Vulken memeluk ibunya erat-erat. “Ini akan menjadi pertama kalinya aku pergi jauh dari istana dan pertama kali juga aku keluar dari daerah kerajaan. Doakan aku selamat hingga kembali ke sini Bu.” Ibunya lalu tersenyum lebar. “Yakinkan dirimu sekali lagi. Untuk meningalkan kerajaan ini juga kamar ini untuk waktu yang lama. Ibu tahu kau akan menemukan banyak bahaya dalam perjalanan ke sana.” “Walaupun terasa benar-benar berat untuk meninggalkan tempat ini, tapi aku sanagta yakin untuk pergi Bu.” Sang ibu tiba-tiba memasang wajah murung setelah tersenyum. “Jujur saja Vulken, iblis yang tersegel di ruang bawah tanah segelnya sudah tidak stabil. Tetapi ayahmu tidak mau memerdulikannya. Hanya s*****a pusaka itu yang dapat menyegel kembali iblisnya jika segel yang ada melemah dan akhirnya terlepas.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN